Thursday, November 23, 2017
Home » Cerita di Balik Kisah » Sebuah Pembebasan… #AdistySeries
freedom

Sebuah Pembebasan… #AdistySeries

Udara malam tak sehangat saat senja ketika kami tiba disini, meski tak terlalu dingin namun angin laut ini sudah mulai terasa menusuk kulitku, dan debur ombak pun terdengar makin keras menghantam batuan pemecah gelombang. Kurapatkan tubuhku sendiri, memeluk erat kedua lututku sambil masih terus berkhayal pelukan Gie memberiku rasa nyaman. Tentu saja itu tak terjadi, Gie hanya menatapku dalam-dalam, tegas namun lembut, membuatku tertunduk sibuk mengatur detak jantungku yang mulai tak beraturan dengan ritme yang tak terkendali.

Ia menyebut namaku perlahan saat mulai bicara “adis…, ada cerita penjang tentangku, tentang kamu, dan tentang kita” begitu Gie memulai rentetan panjang rantai cerita.
Ia pun bertutur…

“Satu tahun sebelum kita berjumpa untuk pertama kali, sebenarnya kita pernah bertemu. Aku lebih dahulu mengenalmu sebelum kamu mengenalku sebagai teman satu kelas. Orangtua kita memiliki hubungan kekerabatan. Tuhan mengatur dengan sempurna ketika kita duduk di kelas yang sama kemudian. Aku sering mencuri pandang ke arahmu, memperhatikan semua tingkah laku mu yang tak tak pernah diam itu, selalu berceloteh, tertawa dan sesekali menggodaku”

Aku tersenyum mendengar kalimat terakhir Gie, teringat betapa konyolnya aku menggoda nya dengan seringkali sengaja mengambil tempat duduk disampingnya saat kelas tak ada guru, melontarkan tanya dengan canda hanya untuk memancingnya berbicara dan mendengar suara dari sosok pendiam ini. Ya…keberanian yang hilang setelah aku dewasa. Terbukti kali ini, alih-alih menggodanya, aku malah terbungkam dengan rasa kikuk ini.

“Aku tau Adis…kamu telah jatuh cinta padaku kala itu. Lucu rasanya mengenang masa-masa itu. Tak heran bila sesungguhnya aku kehilanganmu ketika kita berpisah tak lama kemudian karena kamu pindah ke kota lain untuk melanjutkan sekolah. Tiada kabar yang sampai tentangmu sejak itu kecuali sebuah tayangan di televisi yang menghadirkan sosokmu, dan aku masih bisa mengenalimu dengan baik meski terhitung kita telah berpisah hampir lima tahun berselang. Aku yakin kamu sudah mulai melupakanku, dan mungkin sudah menjalin hubungan dengan salah satu teman kuliahmu di Jakarta, tiada keinginanku untuk menghubungimu. Namun takdir berkata lain, teknologi mempertemukan kita melalui media sosial. Aku jadi mengetahui bahwa ternyata kamu mencari dan akhirnya berhasil menemukanku.

Gie benar, aku memang mencarinya melalui beberapa media sosial. Teknologi membantuku menemukannya. Tak banyak yang berubah darinya meski belasan tahun terpisah. Gie masih tak banyak bicara meski kini jauh lebih santai berkomunikasi bila topik yang kami bicarakan menarik buatnya. Terpisahkan oleh lautan, komunikasi yang kami lakukan hanya sebatas telepon atau chat. Sekali aku pernah menemuinya di Denpasar sambil melakukan perjalanan dinas dan sekali pula ia ke Jakarta menemuiku, dan malam ini adalah pertemuan kami yang ketiga. Namun tiada canggung diantara kami, bagai dua sahabat lama yang bertemu, semua cair mengalir apa adanya. Berbagi cerita sambil menikmati makan malam, berbincang tentang banyak hal sampai larut malam mensiasati waktu bertemu yang begitu terbatas.

Adis….aku tentu tau kamu menikmati hubungan kita, tapi aku juga tau kamu berharap lebih dari itu, berharap lebih dari sekedar teman lama. Kamu menyediakan ruang istimewa dalam hatimu untukku yang setiap hari pintunya kamu buka makin lebar. Menantiku mengetuk pintu dan masuk kedalamnya.
Aku menghela nafas panjang mendengar kalimat itu, ingin rasanya kukatakan, “aku hampir lelah menantimu mengetuk pintu, Gie, aku inginkan mu sebagai kekasih bukan sebagai sahabat, aku mencintaimu lebih dari yang mampu kamu lihat dan kamu rasakan”

“Untuk itulah aku menemui malam ini, Adis….” Gie kembali menatap lekat mataku, seraya menggenggam erat kedua tanganku yang mulai dingin, seolah ingin memberiku kehangatan sekaligus kekuatan.
“Aku ingin mengatakan sesuatu yang aku sebut dengan “sebuah pembebasan”. Aku membebaskan diri dari rantai yang membelenggu rahasia yang semakin kututup rapat semakin menyakitkan dan ini juga berarti sekaligus untuk melepaskanmu dari sebuah pengharapan yang tak mungkin terwujud.

Adis….aku tak mungkin mencintaimu lebih dari seorang sahabat.
aku sakit dis….
Aku gay dan aku skyzo….

Gie berkata dengan ciri khas nya….tegas tapi lembut.
Namun kelembutan nya kali ini tetap membuatku terhempas….begitu keras
Pernyataan yang sulit untuk aku cerna…
membuat semua nanar dan kemudian gelap….

kamu tidak sedang bercanda khan Gie?

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_1018

Yang Pertama Buatmu, Bukan Hanya Aku #ArgaSeries #5

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, seolah menopang isi kepalaku yang mendadak sarat oleh pengakuan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge