Sunday, September 24, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » sebelum Tuhan menghentikan, begitu sulitnya menghapus sejarah

sebelum Tuhan menghentikan, begitu sulitnya menghapus sejarah

Kemarin merupakan hari termalas saya di kantor. Entah karena memang tubuh saya yang terasa begitu penat atau karena kebetulan semester telah berakhir sehingga load pekerjaan agak longgar membuat saya hanya beres2 kerjaan dikit dan sisanya menunggu suami selesai meeting tuk menjemput saya dan kemudian waktu menunggu saya gunakan untuk mengistirahatkan kepala dari berpikir tentang kerja lalu asyik berhadapan dengan layar netbook untuk surfing dan bersosialisasi via internet.

Bermula dari situlah ide tulisan ini dibuat.
Dalam keasyikan tersebut, seorang karyawan menunjukkan sebuah artikel tentang plagiasi karya ilmiah di kalangan pendidikan, perbuatan yang sejatinya sungguh rendah dilakukan dikalangan yang mengaku dirinya cendikia, terlebih dilakukan oleh seorang yang memutuskan untuk berkarya ditempat yang akan memuliakan dirinya dengan sebutan mulia yaitu “GURU” apalagi menyandang predikat “GURU BESAR” yang harfiahnya berarti sosok yang layak ditiru.
Mengapa karyawan tersebut bersemangat sekali untuk menunjukkan tulisan yang ditulis di media Koran Tempo tersebut adalah karena kami mengenal sekali salah satu nama yang terkait dengan topik yang ditulis tersebut meski kejadiannya sudah terjadi belasan tahun lalu di tahun 1997.

Yang muncul dkepala saya kemudian adalah ternyata begitu sulitnya menghapus sejarah. Kejadian tersebut sudah 13 tahun yang lalu, seumur pernikahan saya. Tapi ternyata tidak menjadikan peristiwa itu berlalu seperti waktu yang terus berjalan.

Lalu teringat pula wawancara disalah satu televisi swasta dengan salah satu narasumber Maria eva yang kita tau siapa perempuan tersebut dan paket apa yang melekat pada dirinya sampai hari ini berkaitan dengan kasus video porno yang pernah dilakukannya bertahun yang lalu.
Saat itu sang presenter mengingatkan bahwa meski sang narasumber mengatakan itu adalah masa lalu nya, dan dia tidak ingin menoleh lagi ke belakang, presenter tersebut mengatakan “namun sejarah itu tidak akan pernah terhapus, bahkan didunia dengan teknologi yang semakin canggih seperti sekarang, maka anak anda (presenter itu berbicara kepada narasumber) masih bisa mengakses video itu sampai saat ini….. **dan sang narasumber pun tersenyum kecut.

Teringat lagi wajah Cut Tari dengan uraian kata bersimbah airmata mengatakan bahwa salah satu yang membuatnya merasa begitu bersalah dan berdosa adalah saat ia melihat wajah anaknya. Saya pikir semua orangtua dan khususnya seorang ibu akan memahami perasaan itu.
Bagaimana seorang wanita yang menyandang predikat ibu adalah seorang pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya, didalam keluarga yang dia bangun.
Masih mampu kah kita mengajarkan kepada anak-anak kita, anak didik kita, kebajikan, nilai moral dan etika kepada mereka dengan kondisi seperti itu?

Teringat lagi seorang perempuan berstrata tinggi yang pakaian dan ucapannya bak penjaga surga, tujuh purnama yang lalu, bersikeras untuk berkuasa dengan cara apapun, lalu pergi bagai “gone with the wind”meninggalkan sejumlah kesemrawutan, juga mewariskankan sejarah kelam sampai saat ini dihati saya dan beberapa koleganya. Apa yang dia rasakan bila kelak bertemu kembali. Dapatkah kami melihat dia sebagai sosok baru lepas dari kenyataan kelam yang dia torehkan?

Saya pernah membicarakan tentang hal ini dengan seorang teman. Meski bukan hanya dengan kasus yang diatas, namun dalam konteks bagaimana kita menjaga diri kita dan keluarga agar sejarah mencatat kita dalam rangkaian kebajikan, dan membahas pula bagaimana seandainya sejarah “hitam” terlanjur tertulis.

Beliau mengatakan bahwa, “untuk itulah Tuhan membuka pintu taubat. Donna”.
Ya…saya setuju.
Tuhan saja maha memaafkan dan membuka pintu taubat yang seluas-luasnya untuk umatnya. Mengapa kita manusia tidak bisa memaafkan bahkan menghakimi dan kadang mengecam secara berlebihan seolah dosa tidak pernah menempel di tubuh dan pikir kita.

Meski begitu, saya juga bersikeras bahwa, hal tersebut hanya berlaku buat manusia yang sadar benar kesalahan atau kekhilafan yang dia lakukan sebelumnya. Dan benar meninggalkan perbuatan yang membuat sejarah hitam itu dibuat, lalu berbuat banyak kebajikan untuk mengisi hidup selanjutnya.

Konteks diatas tidak berlaku saat manusia yang melalui nuraninya telah diingatkan, entah itu langsung berupa hidayah dari Tuhan atau dari himbauan keluarga, sahabat atau kolega, bahwa ada yang salah dalam hidupnya, dalam keputusan yang diambilnya, dan dalam perbuatan yang dilakukan, namun tetap ada atau bersikeras dalam situasi tersebut, tetap melakukan bahkan enggan meninggalkannya.

Saya pikir setiap manusia yang normal, yang hatinya masih ada celah untuk kebajikan masuk kedalamnya, selalu ada perasan gak enak bila kita melakukan sesuatu diluar norma, etika atau moral. Melalui nurani itulah hidayah itu masuk, dengan perantara manusia atau peristiwa. Tinggal sejauh apa kita mau dan mampu memberi ruang untuk nurani itu bekerja dalam pikir dan tubuh kita.

Saya pun begitu….begitu dekatnya saya dengan godaan dalam berbagai bentuk; uang, jabatan, strata, gengsi ,cinta, nafsu, kebendaan,kesombongan, hedonisme dan banyak hal lain yang sering menjadi berhala-berhala didunia. Bukan pula saya tidak pernah tergoda, saya acap ada dalam situasi merasa ingin, ada, memiliki, menikmati berhala-berhala itu, hal-hal yang membuat saya merasa “hidup” dan “keren”.
padahal kita semua sebenarnya tau, bahwa semua itu bila didapatkan dengan cara-cara yang salah pada akhirnya hanya akan membuat kita hina, malu, terluka dan menyesal.

Begitu sejarah tertulis, maka tak mudah buat kita untuk menghapusnya.
Bila nurani kita bicara, dengarkanlah….mungkin itu cara Tuhan mengingatkan.
Dan berhentilah, sebelum Tuhan menghentikan dengan cara yang mungkin tidak pernah kita bayangkan.

Saya percaya, apapun skenario Tuhan, itu merupakan yang terbaik.
Namun bukankah takdir itu ada nya di ujung usaha manusia ? maka pertanyaannya sejarah apa yang anda ingin tulis dalam hidup anda.

Pandang wajah orangtua anda, pandang mata pasangan hidup anda, dan pandang mata anak2 anda…..serta pandang wajah sahabat2 anda…seperti apa anda ingin dikenang oleh mereka.

berilah kemuliaan bagi hidup mereka melalui sejarah baik yang kita torehkan, bahwa kita ada dalam bagian hidup mereka dan telah menyentuh hidup mereka, sampai nanti saatnya “sejarah” itu menjelma bagai musik indah yang terus dimainkan meski jasad kita sudah ada didalam tanah.

Suami saya pernah mengingatkan bahwa, dosa itu demikian gaib untuk ditakuti. Bayangkan bila pada setiap dosa yang kita lakukan maka hidung kita bertambah panjang,mungkin ceritanya jadi berbeda. Orang akan tahu dosa-dosa yang kita lakukan. Justru karena tidak seperti itulah seharusnya kita lebih bersabar terhadap ujian atau godaan.
Saya tau itu tidak mudah, namun saya percaya, bila pertahanan diri kita lemah, dan agama masih begitu terasa gaib, maka takut pada Tuhan itu lah satu2nya jalan….

Mark Twain menulis bahwa : salah satu jalan untuk bisa bertahan dari godaan adalah menjadi pengecut.

Robbana dzolamna anfusana waillam taghfirlana watarkhamna lanakuunanna minal khoosiriin…

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”
amiin
semoga

nirmala 2
saat mendung menggantung
akhir Juli 2010

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

4 comments

  1. "salah satu jalan untuk bisa bertahan dari godaan adalah menjadi pengecut." Praktek aahhh

  2. nice posting Mba Donna 🙂

  3. terima kasih karena telah diingatkan lewat tulisan ini : )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge