Home » Cerita di Balik Kisah » Sayap Cinta Devina #2

Sayap Cinta Devina #2

“kamu…?!” seruku seolah tak percaya

“Rakaaaaa……. !!! “ Aku menjerit tertahan melihat wajah dibalik pintu bungalow.

Aku terus menggeleng-gelengkan kepalaku sambil mundur perlahan…pemandangan ini mengapa begitu sulit dipercaya.

Langkahku terhenti,  aku terhenyak, terduduk di pinggir tempat tidur, termangu….menatap kamu.  Yang begitu tenang berjalan ke arahku. Mengambil  tempat duduk disebelahku, lalu sama terdiam, menatap kosong ke arah bunga kana yang mekar berwarna warni di balik pintu yang masih terbuka.

 

Aku masih mematut diriku didepan cermin tadi pagi saat ia datang mengetuk pintu, memoles tipis bibirku agar segar terlihat, bersiap untuk menikmati  hari kedua di Pulau Bali. Kadek dan aku sepakat untuk sepagi mungkin keluar dari bungalow untuk menyusuri  jalan menuju Kintamani. Jadi jelas saja aku tak akan menyangka bila bukan  kadek yang datang.

 

“Aku sengaja menyusulmu kesini, Vina. Terbang dari Jakarta dengan penerbangan paling pagi, meninggalkan semua urusan pabrik agar bisa bersama kamu. Kuhadapi semua resiko yang mungkin bisa terjadi, termasuk bila kau menolak kedatanganku tadi pagi”. Begitu kalimatmu membuka percakapan saat keempat roda kendaraan mulai bergerak.

 

Pria yang duduk dibelakang setir ini tenang mengendalikan laju kendaraan dengan kecepatan stabil. Sesekali diam, sesekali berbicara. Sementara aku masih banyak diam, tak banyak kata yang mampu keluar dari mulutku. Aku masih saja tak percaya bahwa lelaki yang menemaniku keliling Bali hari ini adalah dia. Tak menyangka gurauannya menjadi sungguh-sungguh. Aku ingat dengan ucapannya beberapa hari lalu saat berkata “kenapa mendadak sekali berangkatnya Vina, takut aku nyusul ya?”. Dan bodohnya waktu itu aku menjawab, “kamu gak akan berani menyusulku, Raka”.  

Dan nyatanya sudah satu jam perjalanan kunikmati keberadaannya disampingku.

 

Bagaimana aku bisa percaya dengan kenyataan hari ini. Aku tau persis Raka, orang yang penuh perhitungan, penuh perencanaan, gak pernah grusa grusu akan mengambil tindakan senekat itu. Bisa saja tadi pagi aku marah atas kelancangannya menggantikan Kadek, kelancangannya mengetuk pintu bungalow sekaligus pintu hatiku, dan bisa saja aku serta merta mengusirnya. Tapi entahlah, semudah itukah seorang perempuan luruh pada lembutnya gengggaman tangan pria yang dulu sangat dicintainya, dan pasrah mengiyakan pinta “aku yang temani kamu selama dua hari ini ya, Vin…please” .  Dan Raka tau jawabannya…..

 

Angin sejuk terus membuyarkan rambut2 halus dikeningku, menampar lembut pipiku. Semangkok sup didepanku pun semakin tak menarik terlihat, pasti sudah tak hangat lagi untuk dinikmati. Aku masih menikmati kehangatan lain. Berhadapan persis dengan pemandangan gunung Batur, ketenangan danau yang mendampinginya seolah terusik oleh detak jantung Raka yang kini tepat ditelingaku. Aku menikmati hangat dekapannya.

 

Aku cuma ingin ini tiada lagi berakhir…..

 

Kintamani, 10 Juli 2012Image

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_1018

Yang Pertama Buatmu, Bukan Hanya Aku #ArgaSeries #5

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, seolah menopang isi kepalaku yang mendadak sarat oleh pengakuan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge