Home » Family and Parenting » Saat Harus berganti Peran
triplet me

Saat Harus berganti Peran

Tulisan ini sebenarnya adaptasi tulisan ku di MP bulan Desember 2008 yang lalu. Sudah cukup lama memang, dan menjadi sesuatu yang ingin aku baca dan tulis ulang karena ada sesuatu yang menggelitik benakku. sesuatu yang mirip dengan situasi akhir2 ini, Tentang memainkan peran dalam drama kehidupan aku…halah.!!

Aku akhir2 ini sering merasa terbang ke awan, seolah ingin menyampaikan pada Tuhan bahwa terimakasih terbesar ku saat ini adalah karena Dia menurunkan banyak orang yang begitu care terhadap orang lain, terutama di masa-masa sulit seperti sekarang ini.
Dua asassemen lapangan, dari dua program studi di fakultas dalam rangka re-akreditasi yang hanya berselang beberapa minggu, mendapat partisipasi aktif dari banyak kolega, mahasiswa dan karyawan. Yang dengan setia mempersiapkan dan standby sampai selesai. Sunggu, itu sangat membantu aku yang relatif harus gedumbrangan “sendirian”.

sebagai seorang mahasiswa, Di sisi lain, meski tidak biasa, aku akhir2 ini menerima beberapa statement wujud perhatian beberapa teman kuliah yang prihatin melihat penelitian aku yang jalan di tempat. Lewat inbox, sms, chatbox dan telepon…. mereka mengajak, menghimbau, menawarkan bantuan bahkan memberikan alternatif kemudahan…..agar aku segera memulai penelitian. Tapi malah bikin penasaran,jangan2 aku segitu memprihatinkan ya ?? he he he. (terimakasih ya temans).

Chat tadi malam dengan seorang teman, membicarakan tentang hal ini membuat aku gak enak hati sebenarnya, perhatian teman-teman itu seperti sebuah hadiah yang terlalu mewah buat aku terima.
Meminjam istilah mappe bahwa “kebingungan publik kenapa bu donna belum memulai penelitiannya plus berita burung gereja bahwa”sang pembimbing” udah pusing mau diapaain itu bu donna layaknya kebingungan tim APG mau diaapain APG itu supaya bisa bening” .. menjadi jawab penasaran ku, he he he.

Sempat terlintas di kepala ku saat menulis tentang ini, beberapa schedule penelitian membuat ku tergagap-gagap. Tuntutan waktu, kualitas dan kuantitas pekerjaan yang lumayan banyak yang dikarenakan kondisi intern manajemen institusi yang sedang ada dalam fase transisi dan bergejolak mau gak mau secara otomatis mengarahkan seluruh gerak dan pikirku tuk fokus ke urusan pekerjaan dan tangungjawabku dulu.

Tentu, tidak banyak yang tau bagaimana aku harus menghandle seluruh pernak pernik ini. Dan begitu tersita nya aku pada persoalan bagaimana operasional institusi harus tetap berjalan meski turbulensi manajerial begitu besar, membuat prioritas riset sebagai tahap akhir studi lanjut menjadi prioritas menjadi nomer buntut.

Hal terakhir ini sejatinya merugikan aku sebagai pribadi, membuat aku seolah sedang berhadapan dengan sang pemalas, tidak smart dan tidak memiliki progress apapun selama beberapa bulan. Hal ini semakin meruncing karena aku seolah tak bergeming dengan pernyataan itu. Aku tau kalau aku tidak perlu meluruskan apa-apa lewat kata, hanya lewat wujud nyata perbuatan, dan bagaimanapun untuk sampai di titik itu aku memang perlu waktu untuk melakukannya.

kontrak seumur hidup sebagai seorang ibu dan insyaallah sebagi seorang istri, studi lanjut dengan tanggungjawab struktural dipundak, memang menyajikan atmosfer yang unik untuk mejalankan berbagai peran.
Kompromi waktu dan prioritas sedemikian dinamisnya sehingga tidak bisa dikotak-kotakkan secara kaku. Terus terang saat aku harus memilih antara ngerjain paper yang deadline nya sama2 besok dengan jadual gajian fakultas pasti aku memilih mempersiapkan yang terakhir, meski kosekuensinya nilai paper ku akan berkurang.
saat aku harus memilih antara rapat dengan kuliah di Bogor pasti aku memilih rapat…..
saat aku harus mengajar sementara besok ada ujian aku pasti tetap mengajar dan kemudian begadang semalaman untuk sedikit punya bekal ujian besok.
jadi bukan sesuatu yang luar biasa pula bila akreditasi yang menjadi status penting buat alumni, mahasiswa dan institusi kami sementara menjadi prioritas utama beberapa waktu terakhir.

Ini semua bukan sekedar masalah pilihan tetapi lebih kepada prioritas dan tanggungjawab serta konsekuensi. Begitu pun terhadap keluarga, sama sekali tidak ada prioritas lain misalnya; selain kembali lagi ke jakarta meski sudah sampai di darmaga dalam perjalanan ke kampus, lalu membawa ke dokter saat si kecil sakit dan begadang lagi semalaman menjaga belahan jiwa ku itu dan memastikan demam nya turun meski besok harus presentasi atau ujian di Bogor.

Gak mudah buat perempuan biasa seperti aku dengan multi peran yang harus dilakoni. Setiap hari bergulat dengan dilema mana yang lebih prioritas. Aku memilih menikmati dilema demi dilema setiap harinya sampai aku terbiasa dan terlatih menyikapinya daripada aku harus mengkotak2kan dengan kaku mana yang lebih prioritas dalam hidup.

Di rumah, aku memilih peran sebagai bundanya Diba n Rani yang kata mereka paling mereka sayang karena kata mereka “Bunda Baiiiiiiiik….” he he he. (kalimat itu yang suka bikin aku kangen),lalu memilih menutup laptop dan buku untuk mendengarkan celoteh mereka, menyaksikan konser kecil mereka, peluk2an sambil leyeh dan becanda di tempat tidur meski dengan durasi waktu yang singkat. (Quality khan….not quantity). Lalu melanjutkan lagi yang tadi dihentikan sejenak.

Untungnya anak ku yang paling besar dan satu2 nya lelaki itu (baca: suami), sangat mandiri dan pengertian sehingga aku sudah tau persis kapan dia butuhkan dan tentu saja harus segera berganti peran saat ada di sampingnya, tau diri lah supaya gak salah treatment. he he he.

Tentang urusan dengan yang satu ini terus terang aku gak banyak kesulitan karena tak banyak yang dituntut dari aku, lebih banyak dia yang mengurusi aku (thanks Ay…malaikat juga tau kamu yang jadi pemenangnya).
Cukup buat dia aku tau diri dan mengenal dengan baik bahasa kasihnya sehingga senantiasa terpenuhi.
Jadi bukan urusan manja kalo aku sering disetirin ke Bogor pagi2, bukan sok romantis kalo kami dengan sengaja curi waktu nonton, makan dan jalan diluar waktu yang lazim oleh pasangan lain pada umumnya….karena memang itu dengan sengaja kami create untuk berperan sebagai pasangan saja, antara dia dan aku saja……berdua saja…..

Dua peran diatas relatif mulus dijalanin, mungkin bagaimanapun peran itu melibatkan situasi psikologis yang cukup kuat….karena ada cinta yang gak terukur antara ibu dan anak2nya serta kepada pasangan hidupnya.

Peran lain yang masih cukup mudah dilakoni ya sebagai dosen. Profesi ini memang sejak awal kuliah sudah manjadi profesi yang akan aku geluti…susah deh mengukur betapa aku mencintai pekerjaan ini. Sebenarnya bukan sebagai dosen nya itu, tapi menjadi orang yang punya sedikit lebih ilmu dan membagi kepada orang yang membutuhkan dan proses transfer ilmu itu menyentuh kehidupan orang lain dan amiiiiin amiiiin bisa merubah atau membawa seseorang kepada kehidupan yang seperti dia harapkan. Setiap mahasiswa itu adalah pribadi yang unik dan aku bahagia bila bisa menjadi bagian dari keunikan masing2 dari mereka…..pokoknya cinta banget deh dengan mereka.

Yang rada susah saat harus berganti peran sabagai mahasiswa. Memasuki 10 tahun berperan sebagai dosen dengan bargaining position yang lebih bagus sekarang harus senantiasa siap beradaptasi dengan posisi sebaliknya…sebagai mahasiswa. Kudu Siap dengan tugas setumpuk dan karakter dosen yang beragam. Kadang saat lemah aku mulai mencari pembenaran, attitude yang justru aku “haramkan” kepada mahasiwa2 ku. Tapi kesadaran tetap harus ditanamkan…bahwa mental dan sikap positif harus tetap ada meski apapun peran kita saat itu.

Bila kita mengajarkan bahwa tak ada alasan untuk mengelak tugas maka akupun tidak mau beralasan apalagi sampai mencari2 tuk ketidakberesan tugasku. Apabila kita mengajarkan tentang konsekuensi dan tanggung jawab maka itulah yang harus aku punya saat peran itu dituntut. Tetap harus kerja sepulang kuliah, tetap mengajar di kelas meski malam dan sampai dirumah sudah larut. Karena itulah peran yang harus aku jalani, karena itulah konsekuensi karena disitulah ada tanggung jawab……
saat kita berganti peran….

kembali ke awal tulisan ini dibuat, perhelatan fakultas sudah selesai, aku berpaling dari tepuk tangan dan puja puji panggung. Buat ku cukuplah aku tumbuh dari setiap pergumulan, bukan berbalik, dan pada akhirnya mampu keluar dari permasalahan dengan kondisi jadi lebih baik dari sebelumnya….

menjadi lebih paham dan mengerti, dengan tumbuhnya kesadaran diri melakukan yang terbaik yang mampu kami lakukan….adalah ganjaran terbesar bagi dahaga jiwa yang terus mencari kesejatian untuk menjadi bermakna

my research I’ll be back soon….
wait for me ya….
he he he

nirmala, 26 Mei 2010
catatan kecil dalam sebuah hirukpikuk dan carutmarutnya sebuah manajemen

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P8140535 - Copy

traveling asyik dimata anakku, lagu rindu sang bunda di bibir anaknya…

 Karena lagu yang tinggal diam di dalam hati seorang ibu, bernyanyi diatas bibir anaknya. Cuplikan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge