Saturday, October 21, 2017
Home » Review and Event » [Resensi Buku] JAVASIESTA 17/17 – Indri Juwono
IMG20170624114433

[Resensi Buku] JAVASIESTA 17/17 – Indri Juwono

Perjalanan dengan seorang teman juga menjadi kendali pada diri sendiri. Bisakah tetap dengan karakter sendiri, bisakah mencoba untuk lebih sabar, bisakah untuk lebih memahami, atau menjadi pribadi yang lebih dimengerti?
Tidak bisa semata-mata menuntut seseorang menjadi apa, tapi juga mengolah diri sendiri menjadi teman seperjalanan yang seperti apa. (Indri Juwono)

Buku ini sebenarnya sudah cukup lama di tangan saya, namun baru sempat saya baca secara utuh dari awal beberapa hari yang lalu. Saya selesaikan buku dalam tiga hari di sela-sela kegiatan saya yang lain, maklum saya memang pembaca yang lambat, di perjalanan menuju tempat kerja dan atau menjelang tidur, perlahan buku ini saya cerna. Judulnya Javasiesta 17/17, ditulis oleh seorang perempuan yang saya sudah kenal cukup lama, Indri Juwono nama penulisnya. Dari judulnya pasti pembaca mungkin sudah bisa menebak bahwa buku ini berkaitan dengan Pulau Jawa. Dan karena penulisnya adalah seorang traveler, maka saya memperkirakan pasti buku ini terkait dengan kisah perjalanan beliau di Pulau Jawa.

Dan ternyata memang seperti itulah adalah adanya, buku berukuran 14×21 cm ini bercerita tentang tentang Pulau Jawa, tentang perjalanan seorang Kirana dan teman-temannya menapaki satu demi satu tempat yang ada di sana, kisah teman perjalanan, dan segala sesuatu yang dilihat dan dialami selama perjalanan tersebut. Uniknya tak hanya itu, cerita dalam buku ini diselipi juga dengan kejutan-kejutan manis yang dikemas dalam 17 perjalanan di 17 tempat di Pulau Jawa sebanyak 293 halaman. Bagai sebuah relief aksara yang membentang dari ujung Pulau Jawa di sebelah barat hingga ke ujung timur Pulau Jawa. Dari Tanah Kanekes Suku Baduy di Banten hingga Baluran di Banyuwangi dan Ujungkulon.

IMG20170624113919

Melihat sampul buku ini pertama kali saya langsung teringat sebuah tempat yang eksotis di Pulau Jawa yaitu Baluran. Tempat ini memang terkenal dengan julukan Afrika-nya Indonesia. Boleh di bilang tempat ini memang menjadi salah satu tempat wisata yang menjadi destinasi unggulan di Pulau Jawa, mungkin karena itu juga yang membuat penulisnya memilih foto ini sebagai sampul depan. Namun saya memperkirakan bahwa selain karena juga merupakan tempat yang terkenal, mungkin juga kisah perjalanan di Baluran dalam buku ini termasuk kisah yang berkesan bagi penulisnya. Sayang hingga resensi ini saya tulis saya belum sempat mengkonfirmasi hal ini pada penulisnya.

Indri Juwono sebagai penulis buku ini saya kenal bukan hanya sebagai seorang pejalan wanita, namun memiliki latar belakang sebagai arsitek sekaligus penulis catatan perjalanan. Beliau juga adalah salah satu travel blogger favorit saya karena tulisan-tulisannya yang khas di www.tindaktandukarsitek.com. Sebagai seorang arsitek saya menyukai jenis tulisan beliau bila sedang mengulas tentang sejarah, heritage dan bangunannya. Beliau bisa menjelaskan dengan detail dan menarik untuk disimak, sehingga tanpa terasa bertambahlah informasi dan pengetahuan saya tanpa saya harus terlalu serius mengerutkan kening. Sentuhan itu juga yang terlihat dalam tulisan beliau di Javasiesta 17/17 di perjalanan beliau di beberapa tempat seperti saat singgah dan bercerita tentang Baduy, Kampung Naga, Gunung Kidul dll.

IMG_20170321_135739

Secara garis besar buku ini menarik untuk dibaca dengan perlahan. Penulis menceritakan pengalamannya melalui tokoh bernama Kirana secara kronologis di setiap persinggahan, sejak mereka bertolak dari suatu tempat hingga perjalanan selesai. Dalam tiap tulisan diselipkan dua buah foto pendukung cerita dan informasi tentang tempat itu sendiri yang diselipkan secara bergantian dengan cerita selama perjalanan seperti dengan siapa ia berjalan, bagaimana perjalanan itu ditempuh, dan hal-hal menarik yang ada di tempat tersebut dan pengalaman apa saja yang mereka rasakan kala itu.

Alurnya memang terasa lambat di awal, dan sempat saya bertanya-tanya bagaimana sebenarnya alur buku ini dibuat. Apakah semata hanya 17 cerita perjalanan atau ada hal lain yang membawa pembaca pada rasa penasaran untuk terus membaca. Ternyata penulis cukup pandai membuat kita larut dalam perjalanan rasa sang tokoh setelah perjalanannya yang kesekian kali. Saya mengendus romansa dalam perjalanan, mengendus sebuah metamorfosa rasa dari pertemanan biasa menjadi tak biasa hingga mencapai klimaksnya menjelang buku ini selesai dibaca. Saya ikut terbawa perasaan hingga kemudian tak sabar untuk menyelesaikannya. Jadi memang harus dibaca sampai akhir baru kita bisa tahu kemana arah cerita di buku ini dan kejutan-kejutan apa yang penulis siapkan untuk pembaca.

Satu hal yang menjadi catatan saya adalah ketidakmampuan saya menghadirkan tokok Kirana dalam benak. Sepanjang membaca, saya tetap saja membayangkan Kirana adalah Indri Juwono. Apalagi di awal memang sempat membingungkan buat saya ketika pertama kali menemukan nama Kirana dalam buku ini. Saya terlanjur merasa bahwa buku ini adalah catatan perjalanan seorang Indri Juwono, bukan Kirana. Di bagian awal pun sudah tertulis bahwa tokoh dalam buku ini bukanlah nama sebenarnya, begitu juga tokoh utamanya yang diwakili oleh sosok Kirana. Namun sayang, saya masih menemukan beberapa penyebutan “In” yang merupakan penggalan nama penulis di beberapa percakapan. Padahal seharusnya panggilan tersebut sudah tidak muncul karena sudah menggunakan nama Kirana sebagai tokoh utama buku ini.

IMG20170624114515

Seperti yang tertera pada sampul buku ini bahwa, Indri Juwono mengajak kita merenung sejenak, bahwaPerjalanan bukan lagi sekedar membentangkan peta dan mencari tahu cara mencapainya, Perjalanan dengan seorang teman juga menjadi kendali pada diri sendiri. Bisakah tetap dengan karakter sendiri, bisakah mencoba untuk lebih sabar, bisakah untuk lebih memahami, atau menjadi pribadi yang lebih dimengerti? Tidak bisa semata-mata menuntut seseorang menjadi apa, tapi juga mengolah diri sendiri menjadi teman seperjalanan yang seperti apa.” Buku yang tadinya saya pikir hanya sebuah catatan perjalanan biasa diolah menjadi sebuah cerita yang tak biasa. Hampir mirip sebuah romansa perjalanan, menurut saya.

Nah, bagaimana rasanya melakukan perjalanan dengan orang-orang yang istimewa dengan latar belakang tempat yang istimewa pula, kalian harus baca sendiri buku yang ending-nya mengejutkan ini. Buku ini diterbitkan dan dijual langsung oleh penulisnya dalam dua versi, yaitu buku dengan foto berwarna atau yang hitam putih. Harganya 81 ribu rupiah untuk yang foto hitam putih dan 121 ribu untuk yang fotonya berwarna. Bisa dipesan langsung di bit.ly/javasiesta atau kontak ke penulisnya melalui akun Facebook Indri Juwono atau lewat akun twitter beliau @miss_almayra.

Selamat membaca

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170405103421

Forward Your Dreams: Catatan dari Peluncuran Brand Promises CIMB Niaga

Memiliki impian ternyata bukanlah hal sederhana bagi orang dewasa. Di masa kanak-kanak kita sangat mudah ...

One comment

  1. Ulasan perjalanan dari segi arsitekturnya di bahas detail gak ya?
    Penasaran sama bagian itu sih.. dududu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge