Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » [relationship] Jangan Lupa Check Hidung Anda
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

[relationship] Jangan Lupa Check Hidung Anda

Saya punya tingkat sensitifitas yang cukup baik terhadap bau, mungkin ini bawaan genetik dari ibu saya yang memiliki sensitifitas yang kurang lebih sama. Kami mudah sekali mengidentifikasi bau, sehingga tak heran bila kalimat “bau apa sih ini?” akrab sekali ditelinga kami sekeluarga. Tapi soal bau ini saya punya cerita, dan mengambil nilai moral didalamnya.

Suatu hari saya membaca sebuah buku tentang seorang paman yang sangat menyenangkan. Beliau suka sekali menyapa dan menggoda anak2 kecil yang selalu lewat didepan rumahnya saat berangkat sekolah setiap pagi. Paman tersebut acapkali mengatakan dengan ceria dan penuh senyum,

“hmmmmm, siapa yang membawa bekal yang enak ini?, bau keju panggang tercium sampai ke hidungku.”

Lalu bila anak-anak itu menyanggah kalimat Sang Paman,

“tidak ada yang membawa keju panggang dalam kotak bekal kami, paman!”

Maka Sang Paman mengatakan,

“hohoho…. ternyata ada keju panggang di hidungku yang terbawa dari dapur bibi.”

Pagi ini saya merenungkan kembali dua cerita itu dan mengambil nilai moral didalamnya. Ternyata kita sering sekali mengendus suatu bau dan secara responsif menganggap bau itu berasal dari luar diri kita. Lupa bahwa ternyata bisa jadi bau itu ternyata justru ada di hidung kita. Beruntung dalam cerita di atas, bau yang tercium adalah bau yang enak, sehingga tak jadi soal apakah bau keju panggang yang menggugah selera itu berasal dari bekal anak-anak atau ternyata dari keju panggang yang menempel di hidung Sang  Paman. Lha, kalau bau tak enak?

Analogi bau dari pengantar di atas mirip-mirip dengan sebuah permasalahan. Bahwa acapkali kita dengan mudah menyalahkan orang lain terhadap suatu permasalahan yang timbul atau peristiwa yang tidak menyenangkan yang terjadi pada diri kita. Lupa bahwa segala sesuatu akan terjadi menurut hukum “ada aksi ada reaksi”. Bahwa setiap peristiwa tidak terjadi dengan sendirinya, bila ada asap tentu ada api.  Dan masalah itu terjadi karena sikap kita yang mengizinkan itu terjadi. Sikap kita akan menimbulkan reaksi dari orang-orang di sekitar kita. Sehingga benar kutipan yang mengatakan bahwa, “attitude is a little thing that makes a big difference”

Namun sayangnya, bagi sebagian besar kita lebih mudah untuk ribut dan kesana kemari mengatakan “ini bau lho, di sana bau, dia yang bikin bau.” persis seperti analogi pada cerita diatas. Lupa memeriksa jangan2 hidung kita yang kotor. Jelas saja bila hal ini yang terjadi, yang pertama kita harus lakukan adalah senantiasa berbersih diri dan seringlah bercermin, pastikan bahwa sudah tidak ada kotoran di hidung kita baru kemudian mencari tahu darimana bau itu berasal. Itu pun tak perlu repot-repot mengatakan pada seluruh dunia bahwa ada bau di situ. Bersih-bersih saja lah atau menjauhi baunya.

Tentang hal ini saya belajar dari seorang travelmate saya. Dalam sebuah obrolan santai di kamar hotel saat kami menginap bersama, ia bercerita. Bahwa ketika ia bereaksi negatif terhadap sikap seseorang, yang ia lakukan adalah memeriksa dirinya sendiri dulu, mengapa ia tak menyukai hal tersebut, jangan-jangan karena masalahnya ada di dirinya bukan pada orang lain. Jangan-jangan karena trauma masa lalu, atau karena merasa terancam, atau bisa jadi sekedar reaksi yang berasal dari rasa iri tanpa dasar. Periksa dirimu sendiri dulu baru kemudian bereaksilah dengan tepat.

Begitupun saya menanamkan nilai moral tersebut dirumah, terkadang saya perlu duduk bersama kedua anak saya yang bertengkar, yang saling menyalahkan satu sama lain. Saya akan menanyakan apa masalahnya, lalu setelah masalah itu disingkirkan dan dicarikan solusinya, saya tanyakan kembali apakah perasaannya sudah membaik. Bila salah satu dari mereka mengatakan “belum atau masih ada yang mengganjal” maka saya mengatakan bahwa berarti ada yang belum selesai, selesaikanlah. Dan bila itu masih juga berlanjut meski sudah ada kata maaf dan klarifikasi, maka dengan tegas saya mengatakan bahwa masalahnya ada di dirinya sendiri, dia harus perbaiki dulu dirinya.

Dulu di awal-awal pernikahan, saya dan suami sering sekali bertengkar. Saya dengan mudah menyebut sumber baunya, entah soal uang, soal keluarga pasangan, pertemanan dan lingkungan sosial sekitar rumah, bahkan untuk hal-hal kecil seperti pekerjaan rumah dan pola pengasuhan anak. Tapi ternyata meski sumber baunya dianggap sudah pergi dan disingkirkan, atau masalahnya udah “clear” dan bisa diatasi, kok kami masih sering bertengkar ya?

Ternyata semua yang saya sebutkan di atas bukan itu sumber baunya, tapi cara saya memandang permasalahan dan sikap saya dalam mencari solusinya. Setelah saya mengambil pendekatan yang berbeda, baru saya menyadari bahwa, bau itu kadang justru ada di dalam diri kami, ada di rumah kami! huffhhhh, cape kan?!. Jadi, bersihkan dulu, benah-benah diri dan senantiasa bercermin, siapa tahu ada kotoran yang lama tidak dibersihkan sehingga menumpuk. Siapa tahu ada kotoran yang terbawa dari luar yang membuat kita selalu menganggap orang lain bau.

Sejak itu saya mengambil pendekatan seperti Sang Paman Si Keju Panggang dalam hidup. Tak hanya soal rumah tangga, tapi juga pekerjaan dan relasi dengan orang lain. Memandang permasalahan dari cara yang berbeda. Saya berusaha selalu mencium bau sedap dalam hidup saya. Dengan begitu, rasanya seperti menghirup udara segar setiap hari. Bila mulai ada bau yang tak sedap, saya selalu mulai dari bercermin diri, ada kotoran gak, lalu bersih-bersih diri dan meyakinkan bau itu hilang dari “rumah” saya. Pastikan sumber masalahnya.

Dan kalau pun bau itu masih ada, biarkan itu ada diluar, bukan dari tubuh saya dan tidak akan membuat saya ribet kesana kemari dengan urusan bau, lalu mengatakan pada seluruh isi dunia bahwa dunia saya bau karenanya. Tak perlu ribut kesana kemari untuk mengatakan suatu masalah timbul karena seseorang. Bila saya bisa bersihkan, ya saya bersihkan, tapi bila tidak bisa atau memang ada yang sulit sekali berbersih diri, itu mungkin pilihan mereka yang ada diluar sana. Biarkanlah…

Pilihan ada ditangan anda… so, bau apa yang anda hirup pagi ini? Mungkin bolu berlapis keju mozarella  dari oven anda? hmmm, pasti yummiii…

Kalau saya,  mencium aroma laut  di Labuan Bajo pagi ini… yang ini beneran masalahnya ada di hidung saya, hehehe.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

7 comments

  1. kalo abis megang keyboard sama mouse jgn pegang idung..
    karena dari 2 benda tersebut mengandung banyak kuman hehe sekedar mengingatkan
    ebes recently posted…Nuansa Korea Dalam Desain InteriorMy Profile

  2. Ahhh terima kasih artikelnya ya mba reminder banget untuk saya

  3. Makasih Infonya bermanfaat sekali hehe

  4. Wah ini analoginya keren ya.. terkadang dari hal-hal yang kecil kita terkadang dibuat lupa. Bahwa terkadang sebelum kita melihat ke arah lain, kita perlu bercermin terlebih dahulu..
    willova recently posted…Back Pack Maika, Tas Ransel laptop Yang Unyu-unyuMy Profile

  5. bagus mbak renungannya

  6. tapi kadang jika sudah memeriksa hidung sebdiri tetap ketauan bhw yg bikin masalah dari orang lain gimana mbak? dilema rasanya.
    lia lathifa recently posted…Cukup Satu Tetes, Sabun Anti Kuman Ini 10 Kali Mencegah Cacar AirMy Profile

  7. self reminder buat saya. Masalah ada pasti karena ada sebab. Sebelum menyalahkan orang lain, jangan-jangan kita penyebabnya. Aaaa… merasa tertohok bacanya. btw, aku suka analoginya. Sangat mengena dipahami.
    oka nurlaila recently posted…Skenario Menuju KematianMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge