Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » [relationship] I am What I am, as simple as that
i-am-what-i-am

[relationship] I am What I am, as simple as that

“I am what I am…if you dont like me, turn your head and walk away… Simple as that.” Tulisan ini pertama kali saya baca di status BBM seorang teman, cukup lama jaraknya dengan saat kemarin ketika saya membaca lagi tulisan ini melalui kicauan salah satu akun di lini masa saya. Kali ini saya merasa klik sehingga men-twit ulang kicauan tersebut di akun sosial saya. Tiga orang merespon hanya dalam hitungan detik dengan reaksi yang spontan sekali. Terasa aura bersemangat saat mereka bereaksi meski mereka berada ratusan mil jaraknya dari saya. Saya perkirakan semangat mereka kurang lebih sama dengan yang saya rasakan saat menulisnya. Tulisan itu…”gue banget.”

Ada rasa yang berbeda meski membaca kalimat yang sama. Saat pertama kali membaca tulisan itu di status BBM teman, saya hanya sekedar membenarkan. Benar juga sih…kalau gak suka ya kenapa gak menjauh saja. Tapi kali ini, ketika saya membaca untuk kedua kalinya, perasaan saya berbeda. Ego saya berbicara. Saya berhak menjadi diri saya sendiri, mengatakan tidak untuk hal yang tidak saya suka, lalu melakukan yang saya suka. Berhak diam untuk hal yang tidak ingin saya bagi dan berbicara hanya pada orang yang padanya saya ingin bicara.

Saya berhak melindungi diri saya dari mereka-mereka yang berpotensi mengganggu hari-hari saya, merusak mood dan menyita pikiran saya dengan hal yang tidak menyenangkan karenanya. Berhak memilih apa yang ingin saya lihat dan apa yang ingin saya dengar lalu menutup semua akses yang saya tak tahu, tak ingin tahu dan tak perlu tahu. Benar, sometimes memang ada bagian dari ego yang memang harus saya kantongi tapi ada bagian lain yang sesekali ego itu memang harus muncul paling depan. Terlebih kalau demi mengantongi ego, kemudian saya tersiksa dan menjelma menjadi malaikat bersayap tanpa senyum. Toh saya tidak melarang dan berbuat apa-apa atas hal-hal yang tak saya sukai yang mereka lakukan. Saya hanya menutup pintu dan membiarkan mereka bermain-main diluar pintu kehidupan saya.

Relationship itu punya seribu bentuk, bagai wajah yang punya seribu topeng. Ada yang sekedar kenalan, ada pula pertemanan dan bentuk lain yaitu persahabatan. Dalam perjalanannya, ada hubungan yang memang harus dipertahankan namun ada pula yang tak bisa lagi terselamatkan. Saya belajar sepanjang hidup saya tentang hal ini, hasilnya lumayanlah… di usia saya yang sudah 43 tahun ini, saya bisa membedakan berbagai bentuknya relasi bahkan relasi apa yang kira-kira akan terbentuk sejak pertama kali saya bertemu dengan seseorang. Mana yang palsu mana yang tulus.

Jika dahulu saya memilih untuk banyak menyesuaikan diri, menekan sebisa mungkin rasa gak enak demi membina hubungan, dengan mengambil resiko saya tidak nyaman dalam hubungan tersebut, kini saya memilih pendekatan berbeda tentang sebuah relasi. Sebuah pendekatan yang bila harus saya katakan dengan satu kalimat sederhana ya seperti kalimat di awal tulisan ini, “I am what I am…if you dont like me, turn your head and walk away… Simple as that”

Sarkas kah kelihatannya? egois?! Saya pikir tidak. Saya tetap menghormati prinsip orang lain, membiarkan orang lain melakukan hal yang dia suka, tak menuntut memenuhi apa yang saya mau. Sejauh yang berhubungan dengan pekerjaan dan profesionalisme, toh saya tetap memenuhi hak dan kewajiban saya. Seharusnya, begitu pula sebaliknya bukan? It takes two to tango…. butuh dua orang untuk saling mengerti dan mengisi langkah dengan sukarela untuk bisa menikmati tarian bersama. Bila tidak bisa, mengapa harus memaksakan diri menari bersama. Relasi yang seperti ini hanya melahirkan “awak yang tak pandai menari, lalu mengatakan lantai yang terjungkat”. Ahhh…. *Lalu japri banyak orang hanya untuk sekedar menjelek-jelekkan orang lain. Untuk apa?

Take it or leave it… , itu saja.
Semudah itu?
Tentu tidak.
Saya ingat sebaris lirik lagu Peter Cetera yang sering saya dengar dari laptop saat menulis, lagu itu mengatakan bahwa “If you leave me now, you’ll take away the biggest part of me”.
Konsekuensi logis sebuah keputusan bukan?

Selamat malam…selamat bertambah bijak…..

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

3 comments

  1. Bener mba,,,take it or leave it ajaa. Dan semua relationship pasti ada sisi baiknya meski jarang yang bertahan lama:-)
    inayah recently posted…Suka Duka Female Engineer, Break The StereotypeMy Profile

  2. Setuju sekali sama yang ini. Idemlah dulu ngerasa nggak enakan. Sekarang? Mari meleeekkk :))))))

  3. Membaca ini kemudian aku teringat kalimat lainnya, “kita tidak bisa membahagiakan semua orang”. Paling tidak saya berusaha untuk menjadi orang yang baik. Baik pun relatif bagi semua orang.

    Balik lagi manusia punya batasan, yang kadang tidak bisa diraihnya. Dan kesempurnaan hanya milik Allah swt semata.

    Perkenalkan saya Desy, dan inilah saya. ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge