Home » Flash Fiction » Prompt #48 Yang Tergantikan
Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi

Prompt #48 Yang Tergantikan

Aku bergegas melangkah. Susah payah aku berjalan melewati gundukan demi gundukan tanah sambil terus memegangi perutku. Tak kuhiraukan pandangan puluhan pasang mata yang memandang khawatir. Tujuanku tinggal beberapa langkah lagi, perempuan di gundukan itu.

“Saya Adisty, salah satu rekan bisnis suami mbak”, ujarku membuka percakapan.

“Oh ya, suami saya pernah bercerita tentang anda. Maafkan bila suami saya ada salah. Terimakasih atas kedatangannya.”, jawab perempuan yang tak mampu menyembunyikan lirikannya ke arah perutku.

Entah apa yang diceritakan suaminya tentangku. Perempuan lajang berusia empat puluh tahun dengan perut membuncit. Aku tak peduli karena pasti suaminya takkan pernah menceritakan yang sebenarnya.

“Maaf, saya izin untuk berdoa sebentar”

“Silahkan”

Entah doa apa yang hendak kupanjatkan dihadapan tanah yang masih basah dengan taburan bunga diatasnya. Bahkan aku tak tahu harus berduka atau bersyukur. Yang terbayang hanyalah percakapan sebulan yang lalu. Perjalanan bisnis bersalut romansa di Negeri Sakura. Dan malam-malam yang kami habiskan berdua di sela rangkaian pertemuan demi pertemuan dengan kolega bisnis kami. Masih lekat aroma nafasnya yang berhembus lembut di tengkukku dan kokoh lengannya mendekap hangat lekat tubuhku. Sambil terus mengusap perutku, ia berkata,

“Aku bahagia Adis, tak sabar rasanya menunggu ia hadir. Aku telah menyuruh Pak Abbas untuk menyiapkan segala sesuatu untuknya.”

“Tapi waktunya masih lama, Raka. Kita masih punya banyak waktu untuk mempersiapkannya.”

“Ini sudah trisemester kedua. Kamu tahu persis kesibukan aku di Jakarta, Adis. Aku khawatir tak sempat mengurusnya.”

Ya, kamu memang tak sempat mengurusnya, Raka. Tapi kamu tak perlu khawatir, beristirahatlah dengan tenang dalam tidurmu yang panjang di alam baka. Pak Abbas, notaris perusahaan kita telah melakukan tugas darimu dengan baik. Tak perlu kusampaikan pada perempuan ini, bahwa ia tak perlu iba dengan calon bayi yang ada dalam perutku. Suaminya telah menyiapkan segalanya untuk kami, sebagian besar saham perusahaan untukku dan sebagian harta suaminya untuk calon anak kami dalam kandunganku.

 

Naskah ini diikutsertakan dalam Monday Flash Fiction, Prompt #48

 

 

 

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P6060276

Prompt #43 Kembali

“Sehari setelah resepsi, kita berangkat ke Bali, Saras. Sepertinya kamu harus mengambil cuti lebih panjang ...

4 comments

  1. jadi istri nya gak tay ya mbak, dapat warisan juga kah? 🙂

    • donna imelda

      Raka orang baik sebenarnya, cuma dia inginkan keturunan. Istrinya sahnya juga dapet kok. *enak ya jadi penulis, kita yang nentuin hidup orang wkwkwk

  2. Hmmm… calon anak yang dirahasiakan dari istri sah ya? 😀

    Sudah agak nakal, Bu Dosen, di bagian tengah :))) sukak!

    Btw, berikut adalah cara penulisan dialog yang benar.

    “Saya Adisty, salah satu rekan bisnis suami Mbak,” ujarku membuka percakapan.

    “Oh ya, suami saya pernah bercerita tentang Anda. Maafkan bila suami saya ada salah. Terimakasih atas kedatangannya,” jawab perempuan yang tak mampu menyembunyikan lirikannya ke arah perutku.

    Entah doa apa yang hendak kupanjatkan di hadapan tanah yang masih basah dengan taburan bunga di atasnya.

    Terus hmmmm… akan lebih bagus juga kalau sedikit disinggung kenapa Raka meninggal. 😀

    • donna imelda

      Senangnya dikoreksi Mbak Carra, thanks ya mbak. Nanti aku benahi lagi.Jadi semangat terus belajar bikin FF. *tetep boleh sedikit nakal khan? hahahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge