Home » Flash Fiction » Prompt #33 Diam
Documen Pribadi
Documen Pribadi

Prompt #33 Diam

Pagi yang dingin di sudut ruang, sendiri di depan layar komputer membuatku teringat sesuatu, ada rasa yang hilang beberapa hari ini. Kulirik telepon seluler di tepi meja, sudah hampir seminggu berlalu, sudah pasti tak akan ada lagi pesan yang masuk melalui telepon selulerku. Mendadak rindu menyeruak, pada dia yang biasa hadir menyapa hari-hariku. 

“Selamat pagi, Vina”
“Semua orang juga tahu kalau ini pagi, Adrian”

“Lagi dimana, Vina?”
“ Jam kerja seperti ini … pasti di kantor dong, basa basi deh”

“Sudah makan?”
“Kalau belum memangnya mau kirim makanan kesini?

“Kamu sehat, Vina?
“Kalau aku sakit, jangan lupa beli buah-buahan untuk aku ya “

“Kamu aneh akhir-akhir ini, Vina”
“Sudahlah Adrian, aku baik-baik saja, pasti akan makan supaya tetap hidup, kerjaanku banyak, kalau sakit aku pasti    ke dokter dan minum obat”

“Kamu jadi pendiam sekarang, aku telepon sebentar ya, cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja kok, Vin”
“Tapi aku merasa terganggu Adrian….”
“Sebentar doang”
“Gak…. ntar kamu cerewet, kayak cewek”

Kulirik kalender meja, terpaku pada satu angka pada sebuah potongan peristiwa. Setengah hati kuraih telepon seluler yang tak kunjung memberi tanda ada pesan yang masuk, padahal biasanya minimal sehari tiga kali ada pesan yang masuk melalui benda ini dari orang yang sama. Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif, begitu suara merdu mesin penjawab menyampaikan pesan. Tanda silang merah di sudut kiri melengkapi kekosongan pagi. Dia tak bisa dihubungi.

Kutepis dugaan untuk segala tanya dalam benak. Pasti dia lagi sibuk menangani pasien-pasiennya atau bahkan mungkin dia sedang berada di ruang operasi. Sungguh sebuah tanya yang terjawab saat aku harus tergopoh-gopoh berjalan cepat sepanjang koridor rumah sakit, tak menghiraukan pandangan mata mereka yang melihatku terseok-seok dengan stilleto bergegas menuju ruang ICU.

Kulihat dia, ada disitu diam membeku, sementara aku tak mampu membendung airmata. Tangisku pecah, memeluk tubuh dingin berparas cantik dengan senyum tersungging di sudut bibirnya yang pucat tak teraliri darah. Perlahan aku menoleh, menyampaikan kata yang terwakilkan sorot mata pada dia yang hanya diam bersandar di dinding menatap dua wanita dihadapannya.

Ini jawabannya, Adrian… jawab atas keanehan yang kau pertanyakan waktu itu, hal yang harus kurahasiakan darimu tentang sahabatku. Seseorang yang untuknya aku rela menjauh darimu, karena aku tahu sahabatku menunggu sapamu tiap hari tiada henti, sesering obat yang dia harus minum untuk melawan ganas sebaran kanker di otaknya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Monday Flash Fiction Prompt #33

terinspirasi dari lagu After The Love has Gone karya David Foster

Jumlah kata 378.

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Dokumen Pribadi

Prompt #48 Yang Tergantikan

Aku bergegas melangkah. Susah payah aku berjalan melewati gundukan demi gundukan tanah sambil terus memegangi ...

10 comments

  1. “Pasti dia lagi sibuk menangani pasien-pasienmu atau bahkan mungkin sedang berada di ruang operasi.”

    ‘dia’ & ‘mu’ dalam kalimat diatas orang yang sama atau berbeda mba? kalau berbeda, yg mana yng cowo mana yg cewenya? apakah ‘dia’ dokter, dan ‘mu’ asisten dokter? Kalau orang yang sama, ‘mu’ tentu seharusnya ‘nya’ (pasien-pasiennya) ya? Sepertinya kalo kalimat diatas dihapus, aku malah nggak bingung memahami isi ceritanya. hehe maaf nyinyir.

    Ini ceritanya oke banget loh 😉

  2. Semoga ga slah tanggap ya.jadi bnrny si vina ini juga suka tp merelakan untuk sahabatny.toh sbentar lagi mgkn shbatny akan pergi dari dunia ini kan?

  3. ceritanya bikin penasaran awalnya, ditengah-tengah menjelang akhir bikin mikir, dan endingnya gak tertebak.. 😀

  4. itu Adrian sudah di sana lebih dulu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge