Wednesday, August 15, 2018
Home » Uncategorized » Potensi Zakat dan Wakaf Bagi Pemberdayaan Umat
WhatsApp Image 2018-03-27 at 16.14.55

Potensi Zakat dan Wakaf Bagi Pemberdayaan Umat

Apa yang anda bayangkan ketika mendengar jumlah 217 triliun dana yang bisa dihimpun dari masyarakat? Kalau menurut saya sih ini sungguh sebuah angka yang besar. Decak kagum spontan terungkap ketika melihat data yang dipaparkan oleh Bapak Muhammad Fuad Nasar saat membuka lokalatih yang diselenggarakan selama tiga hari pada tanggal 27 Maret 2018 hingga 29 Maret 2018 di Hotel Royal Padjajaran, Bogor. Acara yang bertajuk “Lokalatih Tunas Muda Agent of Change Ekonomi Syariah” ini memang fokus pada materi mengenai potensi zakat dan wakaf serta peran agent of change di era digital seperti sekarang ini.

Dalam pemaparannya beliau mengatakan bahwa, bila dihitung, potensi zakat nasional Indonesia yang dapat dihimpun itu bisa mencapai 217 triliun per tahun atau sebesar 3.4% dari total Produk Domestic Bruto (PDB). Itu belum termasuk potensi tanah wakaf yang luas totalnya bila dijumlah bisa mencapai 435.944 hektar. Adalah hal yang logis bila kemudian dikatakan bahwa zakat dan wakaf merupakan pilar ekonomi syariah dan sekaligus sebagai instrument ekonomi umat yang sangat potensial yang mampu membantu mengatasi masalah pengentasan kemiskinan. Sayangnya, penghimpunan zakat nasional kita belum mampu mencapai angka yang signifikan. Tercatat bahwa zakat yang berhasil dihimpun dari masyarakat muslim masih berkisar di angka enam triliun saja.

Ada beberapa cara yang dilakukan orang untuk menyalurkan zakat, ada yang menyalurkannya langsung, ada pula yang mengelolanya melalui lembaga atau yayasan yang mereka bangun, atau ada pula yang menyerahkan pengelolaan zakatnya kepada lembaga-lembaga pengelolaan zakat resmi seperti Baznas, Dompet Dhuafa atau Rumah Zakat dan lain-lain. Saat ini masih banyak masyarakat muslim yang lebih memilih membayarkan zakatnya langsung kepada mereka yang berhak menerima zakat dibanding menyerahkannya kepada lembaga-lembaga pengelola zakat.

Hal ini banyak dipilih dan dirasa lebih nyaman karena dengan menyerahkannya pada mustahik langsung, mereka mengenal dan mengetahui persis kondisi para mustahik, sekaligus dapat bertemu langsung dan berinteraksi dengan penerima zakat. Jadi kekhawatiran bahwa justru orang-orang terdekat di lingkungan mereka tak mendapatkan haknya akan berkurang. Namun secara pribadi, saya juga membayangkan betapa hebatnya potensi zakat kita bila dana tersebut terhimpun secara signifikan dan kelola secara profesional, teroganisir dan terprogram sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh lebih banyak orang dan lebih produktif, jadi bukan hanya diberikan dan habis dikonsumsi namun juga bisa dikelola dalam bentuk pemberdayaan sehingga menghasilkan dan memutar roda ekonomi. Salah satu contohnya adalah Pilot Project Kampung Zakat yang didirikan di 7 lokasi di 7 Propinsi seperti di NTB dan di Halmahera Selatan yang merupakan dua di antara 133 titik yang masuk kategori 3T (terdepan, terluar dan tertinggal).

Bagaimana dengan wakaf? Wakaf adalah potensi penggerak ekonomi nomer dua setelah zakat. Bayangkan bahwa tanah wakaf yang ada di seluruh Indonesia itu luasnya 5 kali lebih luas dari negara Singapura. Wakaf pun boleh diserahkan dalam bentuk uang atau Wakaf Tunai ke Lembaga yang bernama LKS-PWU (Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang). Ada 17 LKS-PWU yang sudah terdaftar dan bisa disetorkan Bank Syariah untuk kemudian dimasukkan ke LKS-PWU.

Tanah wakaf selama ini paling banyak digunakan untuk dibangun di atasnya masjid, kuburan, atau madrasah, belum digunakan untuk pemberdayaan menjadi wakaf produktif. Kita bisa mengambil contoh penggunaan tanah wakaf di Malang sebagai wakaf produktif. Di atas tanah wakaftersebut dibangun enam buah minimart dan satu rumah sakit. Contoh lain ada di Demak. Tanah wakaf seluas 350 hektar, sebagian besar digunakan untuk lahan sawah, hasil sawahnya setiap panen dilelang dan menghasilkan 6 M per tahun. Besar khan?! Dah hebatnya, hasil tersebut sebagian digunakan untuk membeli tanah lagi dan kini tanah wakaf tersebut sudah bertambah menjadi 50 hektar dan sekarang totalnya mencapai sekitar 400 hektar.

Jadi bayangkan betapa hebat dan besarnya potensi zakat dan wakaf. Kita bisa ambil bagian secara aktif dengan melakukan kegiatan serupa. Misal dengan mencari tanah wakaf di kampung atau di daerah-daerah, lalu kelola dan berdayakan, missal membangun madrasah, rumah sakit, koperasi, minimarket dan lain-lain. Lahannya menggunakan tanah wakaf, fisik bangunannya di bangun dengan wakaf tunai dan operasionalnya dibiayai dengan zakat.

Mudah-mudahan dengan cara ini, kita bisa ambil bagian dalam pemberdayaan zakat dan wakaf untuk pengentasan kemiskinan dan menghasilkan banyak mustahik menjadi muzaki sehingga angka 217 T dan 435.944 hektar itu tak hanya menjadi kekaguman yang tak terjangkau.

Wallahu a’lam bii shawab

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

4 comments

  1. Yes, ingin banget potensi yang digaung2kan itu tidak hanya sekedar asumsi belaka

    Terimakasih mba Donna ulasannya

  2. Benar bu, coba saja semua bisa selalu menyisihkan zakat dengan benar dan sempurna, mungkin tingkat sosial ekonomi di indonesia bisa semakin membaik 🙂

  3. Zakat dan wakaf memang ada baiknya diberdayakan secara tepat. Saat ini sudah banyak lembaga sosial yg menaungi hal tersebut

  4. Ulasan yang amat bermanfaat, menjelang ramadhan & lebaran, kondisi sosial ekonomi masyarakat pada umumnya terbantu meningkat dengan adanya zakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge