Home » Pelangi Jiwa » Pesan Papa Hari itu….
pesan papa

Pesan Papa Hari itu….

Papa sudah berdiri di depan vila saat aku turun dari mobil, sesaat setelah komunikasi yang kami lakukan via ponsel, saling berkabar bahwa sebentar lagi kami akan tiba di vila menyusul mereka seluruh keluarga besarku, mama, papa, dan tiga saudaraku lainnya lengkap dengan keluarga masing-masing, serta dibarani yang sudah berangkat terlebih dahulu meninggalkan kami di jakarta, berangkat ke cipanas, karena ada pekerjaan yang belum dapat kami tinggalkan sejak pagi.

Saling berkabar, dan menanti adalah kebiasaan beliau sejak dulu.

Waktu jaman teknologi belum secanggih sekarang, kalo kami magrib belum tiba dirumah pasti beliau sudah gelisah bolak balik menanti didepan rumah. Terbayang kala itu sulit untuk memberi kabar keberadaan kami diluar rumah, sehingga terbayang apa yang beliau rasakan saat itu.

Begitu pentingnya komunikasi buat beliau, membuat kami tak heran bila teknologi komunikasi selalu hadir dirumah kami sejalan perkembangan teknologi itu sendiri. Jadi bukan sok canggih atau gaya-gayaan kalo kami punya telepon rumah, pager, atau ponsel lebih awal dibanding teman2 sebaya kami.

Satu2nya alasan adalah kami memudahkan kami berkomunikasi setiap saat.

Aku inget bahwa beliau pernah marah besar, saat aku tidak menghubungi beliau karena satu dan lain hal, dan beliau pun tidak bisa menghubungi aku, sehingga membuat beliau khawatir.

Lewat magrib hari itu aku baru tiba dirumah, disambut beliau disekitar pos satpam depan kompleks yang berjarak beberapa ratus meter dari rumah dinas waktu kami tinggal di Rempoa dengan wajah penuh kekhawatiran. Aku menunduk mengikuti langkah beliau menuju rumah, tanpa kata…hiks

Begitulah cara papah yang jarang marah, kalo marah pun gak ngomel…cukup beberapa kalimat namun dalem banget he he he. Jadi bikin gak enak hati…..

Nah yang lucu, saat kita semua sudah diperkenankan mengendarai mobil sendiri, kekhawatiran beliau makin intensif. Seiring dengan makin intensifnya kami menikmati masa muda kami kesana kemari dengan fasilitas yang diberikan beliau.

Nah kalo beliau udah rewel, bolak balik nanyain kami dimana, kapan pulang, cepat pulang, jangan ngebut, hati2 dijalan, maka kami sering menggoda beliau dengan berseloroh ” idih, papa tuh khawatir ama kita apa mobilnya sih?’ perasaaan kalo gak bawa mobil, gak gitu2 amat…..

xxixixixixixi….maaf ya pah, kita suka nakal.

Jadi sampai setua ini pun, meski aku sudah menikah, papah tidak merubah kebiasaannya. Kalo kami sudah memberi kabar akan mengunjungi beliau, pasti beliau sudah menanti di halaman rumah, entah rumah Lampung maupun di Cileungsi…..selalu tetap seperti itu.

Beliau melankoli, punya perhitungan yang matang untuk segala hal, termasuk jarak dan waktu tempuh, sehingga bila kami sedikit meleset dari perhitungan maka pasti beliau akan cari tahu ada apa.

Nah, saatnya pulang pun akan begitu. Apalagi kalau malam, meski aku disetirin suami, beliau tidak akan tidur sebelum sms dari kami yang mengabarkan bahwa kami sudah tiba dirumah dengan selamat sampai di layar ponsel beliau.

Yang hebatnya…waktu saya dan suami pertamakalinya mengendarai mobil berdua trans jawa menuju yogyakarta, beliau mendampingi kami via ponsel dengan chat sejak kami berangkat sampai tiba di yogya.

Namun beliau melepas kami menikmati hari2 kami di sana tanpa intervensi sms or call via ponsel, seolah membiarkan putri dan menantunya tercinta menikmati suasana yogya, lalu kembali mendampingi kami via ponsel saat perjalanan kami kembali ke Jakarta.

Begitulah salah satu cara beliau menyayangi kami anak2nya….penuh perhatian.

kalimat sakti beliau adalah, “kekayaan aku adalah kalian ber-empat”,

lebih dari 25 tahun berkarya, hasilnya didedikasikan buat keluarganya,untuk wanita hebat yang kami panggil mama dan tentunya buat kami empat bersaudara.

Beliau mengatakan bahwa, semua jerih payah beliau yang kami nikmati bersama hanyalah sebatas akhir hayatnya, tapi nilai2 yang beliau tanamkan pada kami akan menjadi warisan terbesar kami.

Bahwa kami ber-empat harus saling sayang, bahwa setiap anak beliau adalah unik, punya karakter yang beda satu sama lain meski lahir dari rahim yang sama, masing2 punya kelebihan dan kekurangan, sehingga saling mengisi dan memahami itu yang menjadi bagian yang terpenting, sehingga karena itulah kehangatan tak pernah pudar diantara kami, dan itu menjadi penerang hidup beliau.

Kami tahu, beliau bangga dan sayang sekali pada kami semua.

Jadi bila, pada siang itu, papa sudah senyum manis didepan vila menyambut anak manis dan menantunya yang baik itu (aihhhh), untuk berlibur bersamanya selama 3 hari, kami sudah tak heran lagi, namun juga tetap tidak kehilangan makna, karena episode selanjutnya adalah moment indah yang selalu aku rindukan, karena pasti kemudian aku akan menghambur ke pelukan beliau dan mencium hangat kedua pipinya…*luv u pap…aku jadi mewek pas nulis ini.

Lalu kenapa aku menulis tentang beliau pagi ini adalah karena aku teringat sesuatu yang beliau berikan hari itu.

Malam itu saat aku membuka layar netbook ku dimeja makan, sambil ngobrol dengan mama dan papa tentang perjalanan hidup dan tumbuh kembang kami, anak2 dan cucu2 beliau, beliau tiba2 bilang…”Don, papah punya tulisan bagus buat kamu”…

lalu beliau memberikan sebuah bulletin kecil, yang rutin beliau terima sebagai bagian dari perkumpulan pensiun sebuah bank pemerintah yang kala itu masih bernama Bank Exim.

Beliau lalu membuka sebuah halaman, yang isinya berikut :

=============================================

DISAAT AKU TUA

Di saat aku tua, aku bukan lagi diriku yang dulu

maklumi lah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku

disaat aku menumpahkan kuah sayur dibajuku

disaat aku tidak lagi mengingat bagaimana mengikat tali sepatu

ingatlah saat-saat bagaimana aku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya

disaat aku dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankan

bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku

dimasa kecilmu aku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita ribuan kali hingga dirimu terlelap mimpi.

disaat aku kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern

janganlah mentertawaiku, renungkanlah bagaimana aku dengan sabarnya menjawab setiapa “mengapa” yang kau tanyakan saat itu.

disaat aku melupakan topik pembicaraan kita, berilah aku waktu sedikit untuk mengingatnya

sebenarnya topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan kau ada disisiku untuk mendengarkannya, aku telah merasa bahagia.

disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan, ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku bagai dimasa kecilmu aku menuntunmu melangkankahkan kaki untuk belajar berjalan.

disaat aku membutuhkanmu untuk memnadikanku, janganlah menyalahkanku. Ingatlah dimasa kecilmu bagaimana aku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi.

disaat kau melihat diriku menua, janganlah bersedih

maklumilah aku, dukunglah aku,

seperti aku membimbingmu belajar bagaimana menapaki kehidupan ini…..

================================================

aku terhenyak malam itu, kusimpan bulletin itu diam2 didalam ransel.

Hati2 sekali seolah tak ingin beliau tahu bila bulletin itu hilang, kusimpan hati2 bak titipan harta dari relung hati orangtua yang sangat aku sayangi itu, dan berjanji suatu saat nanti akan aku tulis ulang.

Kami tahu pap, betapa papa ingin selama mungkin bersama kami, anak2, para menantu dan cucu2 yang papa sayangi utuh tanpa beda satu dengan yang lain, meski kami sering menggoda papa dengan meng-klaim diri kami paling hebat dibanding yang lain ha ha ha.

Kami tahu, ajaran papa bahwa keadilan bukanlah matematika, bahwa papah selalu menjadi orang pertama yang akan menjadi perisai hidup kami…sesuai dengan kebutuhan kami masing-masing.

Lagi2 kami keluarga yang sanguin ini sering sekali menggoda satu dengan yang lain ini, bahkan menjuluki papah sebagai pemilik “Herman Djahri foundation “, yayasan abadi penyantun kami xixixixi.

Karena, Meski kami sudah bisa cari duit sendiri, mampu mencukupi hidup kami alhamdulillah….tapi tingkahlaku kanak2 kami tetap aja tak hilang, sering minta ditraktir, merayu gadget nya bokap yang up to date terus untuk dilungsurin, minta dibeliin oleh2 kalo ke jakarta, bahkan backup financial bila mendadak butuh xixixixi…dasar ya….

papa dan mama tentunya…selalu melakukan yang terbaik untuk kami

meski kadang kami suka lengah, khilaf….itu semata mata karena kami meski sudah setua ini…kadang suka lupa diri dan menjelma menjadi kanak2 yang terperangkap dalam tubuh dewasa….he he he

kadang lupa bila harus santun, lupa kalo harus care, lupa kalo harus mengatakan sayang….

tapi bagaimanapun kami selalu sayang papa mama

miz u mam…miz u dad

jangan khawatir untuk menua pap…

we love u, melebihi apapun yang kami miliki didunia ini

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

10 comments

  1. titoetsoeyatmo

    Begitulah Donna, cinta orang tua itu tak akan pernah luntur kepada anak2nya. Sekalipun dia harus menderita, lelah dan tak berdaya lagi, keinginan untuk membahagiakan anak2nya tetap menyala. doanya tak pernah putus terbisik dari mulut keriputnya. Semoga Donna tetap bisa menghargai beliau sampai akhir hayatnya. Amien ya robbal allamien.

    • donna imelda

      Iya tante….semoga kami semua “anak-anak” mampu menjaga dan berbakti pada orangtua kami sampai akhir hayat mereka, Terimakasih banyak tante nasehatnya dan terimakasih pula sudah mampir. #peluk

  2. titoetsoeyatmo

    I like to read your writing Don, I hope one day you will be “a great writer” in Indonesia.

    • donna imelda

      aamiin…..Insyaallah dikabulkan ya Tante…inginnya donna pun begitu, agar lebih banyak yang baca, lebih banyak menebar manfaat kewat tulisan. Terimakasih doanya tante…

  3. Mampir ya donna, tulisan nya bagus…..kayaknyasdh mau jadi sastrawati nih….salam buat om dan tante ya….

  4. And I do speechless ….
    Tanti Amelia recently posted…PESONA PULAU BIDADARIMy Profile

  5. Saya terharu bacanya. Pengorbanan orang tua tulus buat anaknya. Betapa orang tua tetap ingin yang terbaik.
    Alris recently posted…Saya Suka Andrea HirataMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge