Thursday, November 23, 2017
Home » Cerita di Balik Kisah » Pendar Hati #Adisty Series
pendar hati

Pendar Hati #Adisty Series

Jelang tengah malam saat kerlip merah lampu disudut kanan telepon pintar berkedip mencuri perhatianku yang sudah setengah mengantuk. Sebuah pesan tertulis singkat “selamat malam, madam” dari sebuah nomer tanpa nama. Aku tersenyum, tak terperanjat sedikit pun, ini pasti balasan sinyal yang kukirim dari toko buku kemarin selama beberapa jam. Aku tau persis dari siapa kerlip lampu ini dikirim…ini kamu khan “Jo”? Meski kamu mencoba menggodaku dengan memangggil madam, bukan Adis seperti biasanya.

Aku percaya sekali dengan intuisi dan dengan sengaja melatih diri mengoptimalkan intuisiku. Mencoba merasakan apa yang ia rasakan. Saat aku mulai resah merindukan Jo, aku yakin pada saat yang sama ia pasti sedang memikirkan aku pula. Dan biasanya aku mulai mengirimkan sinyal2 tak berwujud untuknya, dan bila sinyal itu tertangkap, muncul rasa lega, rsanya seperti berhasil menangkap frekuensi radio. Bening dan jelas.Dan yang menyenangkan karena tak lama kemudian….sinyal balasan pasti akan datang….persis seperti malam ini.

Lama kelamaan aku mulai nyaman menggunakan cara ini, aku tak lagi memaksa diri untuk menjelaskan panjang lebar duduk permasalahan setiap kami bertengkar, tak juga menuntut Jo untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf, Bukan sekali dua terjadi keajaiban kecil antara aku dan Jo.Dua orang yang selalu saja bertengkar dan sama keras kepala ini, selalu tak sepakat untuk banyak hal, lalu berdebat dan mengakhiri perdebatan tanpa pernah ada kata sepakat. Berganti hari berganti masalah berganti polah, kadang aku yang bergeming dan terus seperti itu sampai Jo yg menyapa, atau sebaliknya, aku yang mengalah pada akhirnya. Tapi aku mencatat ada pula beberapa pertengkaran besar antara aku dan Jo yang tak jua kunjung selesai. Kami berdua merasa benar, merasa dilukai satu sama lain dan memelihara luka itu seolah tak tersembuhkan, lalu saling menghukum, hingga aku sering mepertanyakan hubungan kami…ini dua orang yang saling mencinta apa dua hakim yang hobi menjatuhkan vonis.

Menggunakan intuisi dan mengirimkan silent signal beberapa kali menyelamatkan hubungan kami. Aku ingat sebuah pertengkaran hebat disuatu malam, segitu hebatnya sampai kami berdua terbakar amarah dan berpanjang tuntutan dan tuduhan, lalu berhenti karena kami telah kehabisan kata. Tak sempat kuhitung berapa kali purnama setelahnya aku menyesali kata-kataku berhambur bersama amarah yang menggelegak. Aku tak tau cara menyelesaikannya, Jo membeku sejak itu. Tapi aku percaya, ada rasa yang takkan selesai meski pertengkaran sehebat itu melanda kami berdua. Rasa itu juga membuat aku yakin Jo pun pasti sesekali memikirkan hubungan kami. Aku tahu bahwa aku yang salah, kini aku sedang menerima hukumanku dengan caranya, meski itu artinya ia menghukum dirinya sendiri dengan rindu yang ia coba nafikan.

Tak ada cara lain menyentuhnya, aku mulai mengirimkan sinyal dalam diam, hanya dengan menghadirkan Jo dalam benak dan dengan sepenuh hati masuk ke ruang sepi untuk menyampaikan betapa menyesalnya aku, betapa aku merindunya untuk datang dan memberiku kesempatan meminta maaf. Begitu terus menerus aku lakukan hingga sekonyong-konyong disiang bolong, sebuah keajaiban terjadi menutup pertengkaran kami, aku datang dari utara dan ia dari selatan, bertemu disuatu titik, disuatu waktu ditempat yang sama sekali tak pernah kami datangi apalagi sepakati. Ajaib bukan, kami bisa bertemu tanpa janjian, tanpa mengetahui satu sama lain bahwa kami akan datang ke tempat yang sama siang itu. Tempat yang jauh dari rumah kost Jo di selatan atau rumahku yang terletak di utara. Meski ending nya tak sesempurna sinetron di televisi, tapi yg jelas sepulang dari sana kami berbaikan.

Aku masih ingat bagaimana intuisi itu bekerja pada sebuah peristiwa, aku sungguh gelisah lama tak menerima kabar dari Jo setelah ia memutuskan untuk pergi dari hidupku. Ya…akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kami. Tak ada tangis tak ada sesal, kami memang tak kunjung belajar bagaimana cara saling mencinta. Aku menuduh Jo tak pernah menghargai semua pengorbanan yang aku lakukan untuknya, sementara Jo tak kalah menuduhku terlalu merasa hebat untuk mau mengalah. Kami memang dua orang yang sungguh keras kepala. Perpisahan memang satu-satunya jalan.

Hingga suatu hari aku tak tahan dengan gelisahku yang semakin menjadi, aku masih mencinta Jo, tapi ini bukan rindu, ini sesuatu yang aku tak tau. Aku mengkhawatirkan Jo sedemikian rupa sehingga gelisahku mewujud mimpi sedemikian buruk disuatu malam. Tak ada cara lain, aku mulai mengirimkan silent signal….berkata dalam diam. “Please, Jo….call me, are you ok?!”. Dua hari kemudian….serangkaian teks singkat masuk ke telepon selularku, tulisannya singkat “selamat pagi, Adis”…dan aku meloncat dari tempat tidurku.

Aku menghela nafas memikirkan Jo, bukan cinta yang menghadirkan pedih perih, tapi rindu lah yang tak terperi. Pada setiap senyummu saat bergambar di banyak atap dunia, di setiap teks nyleneh setiap kamu gak mood menjawab sapaanku yang masih aku simpan, pada setiap lagu yang kamu kirimkan dan pada semua aktivitasmu yang bisa aku pantau dari semua akun sosial yang kamu punya. Melalui malam dengan berkelana di satu persatu jejak yang kamu tinggalkan itu bukanlah perjalanan yang menyenangkan. Seperti seorang masokis yang menggoreskan sembilu setiap malam lalu menikmati kesakitannya sendirian. Aku sakit setelah kamu pergi Jo…dan kamu gak pernah tau itu.

Lalu kalo bukan cinta yang membuat perih, maka biarkan lah rindu tak pernah ada lagi. Aku pun mengambil langkah yang sama sepertimu. Menghapus semua jejak dengan sukarela, dengan senyum kesadaran bahwa semua harus berlalu dan membiarkan cinta tanpa merindu dan berharap cara itu kelak mampu membunuh cinta yang aku punya. Aku harus tetap hidup…dan tidak gila.

Aku merasa berhasil…pada setiap gelisah yang muncul akibat rindu yang mendera, santun aku berujar, “pergilah rindu…..biarkan cinta ini tetap indah apa adanya”. Aku mencintai Jo dan merelakan kepergiannya. Tak perlu rindu ini terjawab, pahit atau maniskah yang sedang ia kecap. Aku tau ada ia yang lain yang menjaganya, mencinta sama besarnya dengan cinta yang aku punya bahkan selamanya sampai mungkin akhir hayatnya. Aku hanya bagian dari serpihan cinta yang ia punya. Sisa-sisa masa lalu yang tak terselesaikan. Aku pamit Jo….begitu ucap perpisahanku padanya saat itu.

Tapi kemarin, seketika saat ku menjejakkan kaki di toko ini, kamu pasti ingat kebiasaanku menyebut toko ini “toko kita”, Karena meski ada jutaan beda diantara kami, ada bebarapa hal yang kami bisa tenggelam bersama…tak banyak, tapi mampu mengikat kami bertahun. Dan toko kita sering membuat kita tenggelam bersama. Aku ingat kebiasaan ku saat terpaksa sendiri tanpa kamu ke toko kita, aku pasti menanyakan, “kamu, mau dibawaain buku apa, Jo?”.

Begitupun kemarin, aku tak mampu membendung…sinyal2 itu berhamburan tanpa mampu aku cegah. Disetiap rak buku muncul wajah kamu, menyembul menggoda dengan senyum khas yang aku suka…sinyal2 berhamburan dari setiap langkahku menyusuri satu persatu rak buku.

Aku menyerah….kubiarkan seluruh sinyal berkekuatan penuh mendobrak benak…muncul memenuhi pikiranku, berputar membuatku semakin nanar. “aku disini, Jo..di toko kita, kamu mau pesan buku apa”, “aku disini,Jo…ditoko kita…kamu mau aku bawain apa?”, aku disini Jo, di toko kita….kamu juga rindu aku khan, Jo?….

Jadi bila jelang tengah malam tadi, kerlip merah lampu disudut kanan telepon pintar berkedip, sebuah pesan tertulis singkat “selamat malam, madam” dari sebuah nomer tanpa nama. Aku tersenyum, tak terperanjat sedikit pun…sinyal balasan pasti akan datang….persis seperti malam ini. Lalu bila pesan itu berlanjut meski saat itu aku masih mengetik balasan, bertuliskan…”selamat tidur, Adis”. Aku menjawab dengan satu kalimat sederhana. “ada yang akan tidur dengan senyum paling manis yang ia punya malam ini, dan itu untukmu Jo, thanks for contact me”

Nirmala, 7 November 2012

Kita sama tau, selalu ada rindu diantara dua rasa

meski betapa hebatnya beda memisahkan kita

selalu ada

selalu…..

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_1018

Yang Pertama Buatmu, Bukan Hanya Aku #ArgaSeries #5

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, seolah menopang isi kepalaku yang mendadak sarat oleh pengakuan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge