Sunday, September 24, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Pekerjaan adalah Cinta yang Terlihat
p20120713-092659

Pekerjaan adalah Cinta yang Terlihat

Pemandangan yang umum terlihat di status sosial media pada hari Minggu malam atau Senin pagi nyaris seragam….”oh, I dont like Monday”, begitu tema utama nya meski diungkapkan dengan berbagai gaya bahasa. Tentu saja tidak semua orang menulis hal serupa, karena ada juga yang melihat hari Senin tak ubahnya seperti hari-hari lain dalam seminggu, biasa-biasa saja atau justru ada yang melhat hari Senin justru hari baru yang penuh semangat untuk disambut dan yang ada pula kelompok terakhir yang berada diantara harapan dan kenyataan supaya Senin bisa lebih ramah padanya dengan mengatakan, “Monday..please be nice for me”.

Lalu bagaimana anda memandang Senin di hidup anda?

Untuk mereka yang tinggal dan bekerja di Jakarta dan sekitarnya, dengan ritme kerja Monday to Friday, Nine to Five for a week, maka Senin Jakarta seolah menjadi hari yang tak menarik untuk disambut. Setelah tubuh bersantai pada hari Sabtu dan atau Minggu, otak tidak secara otomatis memerintah tubuh untuk siap beraktivitas lagi. Bisa saja karena memang kita tidak membuat program otomatis di pikiran bahwa dua hari memang sudah cukup untuk merefresh diri, sehingga pada malam hari menjelang Senin, alih-alih kita bergembira akan datangnya hari baru, justru kita sibuk membayangkan akan bertemu dengan setumpuk pekerjaan yang belum selesai minggu kemarin, bertemu dengan atasan atau rekan kerja yang menyebalkan, target yang belum terpenuhi ditambah dengan Senin pagi Jakarta yang menyuguhkan kemacetan lebih dibanding hari-hari lain, sudah cape duluan membayangkan harus berangkat lebih pagi, harus mengejar kereta, biskota atau tranportasi massa lainnya dan segala keruwetan Jakarta yang memang bukan situasi yang menyenangkan untuk dilalui. Maka beramai-ramailah kita mengatakan, Oh…weekend sudah berakhir, I hate monday.

Namun pernahkah kita mencoba memprogram ulang pikiran kita tentang Senin dan pekerjaan kita. Dalam buku nya The Magic of Thinking Big, Carnegie mengatakan bahwa otak anda adalah pabrik pikiran yang sibuk menghasilkan pemikiran dibawah pengawasan dua mandor. Tubuh kita patuh sekali dengan mandor pikiran yang ada dalam diri kita. Tetapi masalahnya tidak hanya ada satu mandor pikiran yang bersemayam namun ada dua, mandor yang bisa membuat kita optimis atau justru pesimis, ke arah yang positif atau ke arah sebaliknya, negatif. Pilihan ada ditangan anda. Hendak memperkerjakan mandor yang mana untuk pikiran anda. Mereka patuh sekali lho. Bila anda memperkerjakan mandor pikiran negatif atau tuan kekalahan maka dia akan mengeluarkan berjuta alasan untuk anda berpikir bahwa senin dan pekerjaan anda adalah hal buruk begitu pun sebaliknya, bila anda memperkerjakan mandor positif atau tuan kemenangan, maka segitu banyak pula dia mengeluarkan pemikiran2 positif tentang senin dan pekerjaan anda. Silahkan memilih.

Saya sudah lama sekali memecat mandor kekalahan dari pabrik pikiran saya. Mudah2an begitu pula dengan anda. Saya melihat Senin adalah sebuah rahmat, sebuah hari baru, bonus teristimewa dari Sang Penguasa Jagad Raya bahwa saya masih diberi kesempatan untuk bangun di pagi hari dalam keadaan sehat ditengah2 orang yang saya cintai, anak-anak dan pasangan hidup saya. Pernahkan anda berpikir bahwa betapa terberkatinya anda dengan nafas yang diberi pada fajar hari Senin, karena pada saat yang sama beberapa diantara kita tak bisa tidur atau terbaring dalam keadaan sakit, bahkan mungkin beberapa diantara kita sudah tak lagi bernafas dan tak menjumpai sinar matahari Senin.

Senin buat saya adalah bonus waktu untuk berbenah diri, memperbaiki hidup dan bertobat atas dosa hari-hari yang telah terlampaui. Saya inget sekali obrolan Sabtu malam kemarin dengan seorang sahabat sepulang kami dari sebuah pesta pernikahan anak seorang kolega. Ia mengatakan bahwa, saat usia mencapai empat puluh, tak ada keinginan lain selain inginkan hidup yang bermanfaat dan bermakna. Gemerlap dunia tak lagi menarik meski karya, kerja mencari nafkah harus tetap diupayakan. Bila Allah berkenan kita hidup 20 tahun kedepan, itu artinya tak lebih dari separuh usia kita sekarang yang kalaulah sudah maksimal jadi orang benar pun, belum tentu bisa menghapus dosa-dosa 40 tahun lalu (semoga Allah melimpahkan kasih sayangnya buat kita dan mengampuni dosa-dosa kita, aamiiin)

Senin adalah saatnya bekerja dan berkarya, menjalankan kewajiban atas amanah pekerjaan yang dari situ kita mendapatkan nafkah, bersyukur karena banyak saudara2 kita yang masih pusing bagaimana mencari pekerjaan. tapi banyak pula dari kita justru mengumpat hari senin, mengumpat pekerjaan kita, boss kita, teman kerja kita, perusahaan tempat kita kerja dsb. Lupa kalo dari pekerjaan itu kita mengisi perut dan hidup kita, makan dan hidup anak2 kita. jadi inget Mario Teguh bilang, “jangan kotori tangan orang yang memberi anda makan”. Tapi banyak dari kita lakukan sebaliknya.

Saya sering mendengar perdebatan ringan seperti ini, orang bisa saja bilang, ” ya loe bisa ngomong gitu karena pekerjaan loe gampang, perusahaan loe bagus, boss loe baek, gaji loe besar, temen2 kerja loe asik”. Tapi itu apa bisa jadi alasan untuk kerja sembarangan., ngakal2in kerjaan dan jam kerja, serakah dan mengambil hak orang lain, dan dengan jabatannya bisa mengatur lebih leluasa kepentingan diri sendiri. Bukankah dengan anda tetap berada di tempat itu artinya anda sepakat dengan kompensasi pembayaran atas kerja anda dengan komitmen menjalankan kewajiban pekerjaan yang dibebankan pada anda dan dipertanggungjawabkan pada Tuhan. Kalo anda gak setuju atau memang tak puas dengan kondisi pekerjaan anda…ya cari pekerjaan lain atau bikin usaha sendiri saja. Bukankah hidup adalah pilihan? tentukan pilihan anda, jalani konsekuensi dari pilihan anda, dan berhentilah mengeluh.

Sebagai penutup tulisan ini, Saya menyitir sebuah puisi karya pujangga besar, Kahlil Gibran yang menulis indah tentang pekerjaan. Mungkin ini bisa menginspirasi kita.

pekerjaan adalah cinta yang terlihat

dan bila kau tidak dapat bekerja dengan cinta

tetapi hanya dengan mati rasa,

lebih baik kau meninggalkan pekerjaan mu

dan duduk di gerbang kuil

dan menonton mereka yang bekerja dengan sukacita.

karena bila kau membakar roti dengan acuh,

kau membakar roti yang lebih pahit

yang tidak dapat mengenyangkan kelaparan seseorang.

dan bila kau enggan memeras buah anggur,

keenggananmu akan mengakibatkan racun.

dan bila kau bernyanyi bagai malaikat

dan tidak mencintai nyanyianmu,

kau hanya mengganggu telinga orang dengan suara siang dan malam.

Selamat bertambah bijak

Nirmala, 10 september 2012

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

2 comments

  1. heummm,sangat menarik sekali mak….terima kasih sharingnya,pagi2 dapat pencerahan…^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge