Home » Cerita di Balik Kisah » Panggil Aku Julia…
my name is Julia

Panggil Aku Julia…

Berat terasa tarikan napasku saat membuka kotak kecil ini, diiringi getar yang tak mampu kukendalikan, jemariku meraih satu-satunya benda yang ada didalamnya. Sambil menahan sesuatu yang basah di sudut mataku, kulingkarkan benda itu dipergelangan tangan kiri. Tak urung punggung tangan kananku harus menghapus jua air mata yang menetes pelan.

Kupandang wajahku di cermin, tak ada bayanganku disana, hanya ada seraut wajah yang mirip denganku, seulas senyum manis menghias raut setengah baya yang terus memandangiku seolah berkata, “berangkatlah nak, temui ia”

Aku menghela napas seraya berpamitan dengan wajah dibalik cermin, “aku berangkat, bunda. Mungkin ini lah ujung perjalanan panjangku, hari yang tetapkanNya untuk menjumpai akar sejarah yang melahirkan kisah panjang kehidupan kita berdua”

Dan wajah itu masih tersenyum, diam.

*****

Julian

Sontak aku terperanjat saat gadis dihadapanku ini melepas sesuatu dibalik lengan bajunya yang panjang.  Benda itu, ya benda itu. Aku mengenal dengan baik benda di pergelangan tangan gadis muda ini, tak mungkin ini sebuah kebetulan belaka karena masih jelas terukir namaku di atas lempengan besi tipis itu . Benda ini seperti jawaban semua tanya yang ia hadirkan sejak kedatangannya beberapa hari lalu dirumah kami. Terlalu banyak kebetulan antara aku dengan perempuan ini. Aku mulai nanar tak tahu harus mengatakan apa saat kupandangi ia dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Sorot mata, senyum, warna kulit, seperti sebuah sulapan dari mantra yang aku ucapkan puluhan tahun lalu, saat dua tubuh saling berbagi kehangatan menghalau dingin udara  malam di kaki Merapi. Tak kubayangkan bahwa yang kuhindari ternyata berbuah jua. Sorot mata tegas milikku berpadu dengan senyum manis ibunya dibungkus kulit sewarna langsat kini menjelma dihadapanku.

“Gelang ini milik oom, bukan?” Gadis ini menyodorkan benda itu ke arahku, sambil melanjutkan kalimatnya.

“Aku temukan di kotak perhiasan bunda, tiga hari setelah kematiannya”

Bagaimana benda itu bisa ada ditangannya? Kepalaku rasanya hampir pecah saat ingatanku sampai di malam itu, betapa aku seperti tertampar masa laluku sendiri, betapa durjananya aku. Bermain-main dengan ketulusan perempuan yang terlanjur mencintai sehingga rela memberikan segalanya buatku. Lalu dari apa terbuat hati perempuan itu, dari pualamkah sehingga kemudian memilih berlalu dengan kehidupan yang terlanjur tumbuh didalam rahimnya saat isak tangisnya hanya mampu membuat aku mengelak dari semua kenyataan yang ia sajikan. Dan bodohnya aku mengira semua cerita kami berakhir sampai disitu dan jejak perempuan itu tak pernah kutemui lagi.

*****

Jeanny

Aku mengabari mama bahwa akan mengajak seorang teman kuliahku menginap di rumah selama libur semester ini. Namanya sudah tak asing lagi di rumah kami, mama pun sudah pernah bertemu karena beberapa kali ia sempat bertandang ke rumah kami. Meski kami sama-sama mengambil kuliah di Fakultas Teknik namun kami mengambil jurusan yang berbeda, aku di Jurusan Teknologi Informasi dan ia Teknologi Industri. Kami berdua menjadi dekat karena sama-sama suka traveling dan sering melakukan kegiatan bersama di Unit Kegiatan Mahasiswa Jurnalistik dan Fotografi.  Biasanya ia pulang ke Yogyakarta bila libur untuk menemui ibunya yang tinggal seorang diri disana. Namun kali ini aku memberanikan diri mengajaknya menghabiskan liburan di Bali bersama keluargaku agar ia tidak kesepian setelah ibunya meninggal dunia beberapa bulan lalu. Papa dan mama pun tak keberatan dan ia menyambut dengan senang hati.  Kami membuat serangkaian rencana untuk menghabiskan waktu bersama selama liburan, mencari tempat-tempat menarik untuk meyalurkan hobi fotografi kami ditemani papa yang sengaja mengambil cuti untuk anak perempuan kesayangannya ini. Hubungan aku dan papa memang lebih mirip hubungan antar sahabat dibanding hubungan antara ayah dan anak. Aku mewarisi bakat papa dibidang fotografi dan memiliki hobi yang sama yaitu traveling sehingga tak heran jika papa sering dengan sengaja mengambil cuti disaat aku libur semester agar bisa berpergian bersama seperti liburan kali ini.

*****

"Bunda memutuskan meninggalkan Jakarta dan memilih Yogyakarta setelah lelaki brengsek itu menolak bertanggung jawab atas benih yang dikandungnya". Julia mulai bercerita.

Ulu hatiku terasa nyeri saat ia mengatakan “lelaki brengsek”, tak peduli bahwa yang ia maksud dengan lelaki brengsek itu adalah ayah biologis yang duduk disampingnya saat ini.

"Bunda memang perempuan hebat, ia membesarkan aku seorang diri tanpa nama seorang lelaki pun dalam kehidupan kami, hidup dengan bersahaja sebagai seorang penulis. Aku dibesarkan dengan hatinya yang lembut namun tegas.  Sejak kecil aku sudah harus menerima kenyataan bahwa aku berbeda dengan anak-anak lain yang memiliki ayah. Bunda tak pernah menjelaskan dengan gamblang siapa dan kemana ayahku. Waktu aku kecil, aku menerima saja semua penjelasan bunda tentang itu, dan menjelang dewasa aku bisa menebak jalan cerita hidupku sendiri dan tak pernah tega untuk mencari kebenarannya dari mulut bunda. Aku tau bahwa aku adalah anak yang tak diinginkan lelaki brengsek itu. Namun kenyataan bahwa bunda memilih untuk mempertahankan kehidupanku meski sebenarnya ia bisa saja memilih untuk menggugurkannya, memilih membesarkan aku dengan kasih sayang, darah dan keringatnya bertahun-tahun seorang diri hingga membuatku tak ingin sedikit pun mengorek luka lama yang sesungguhnya masih berdarah.

Bagaimana tidak, di tubuhku mengalir darah orang yang dicintainya, yang tega mencampakkan hidupnya. Ada bagian lelaki itu yang menurun secara genetik pada diriku yang pasti menghadirkan perih setiap ia memandangku. Tapi bunda selalu tersenyum tak pernah memperlihatkan goresan-goresan perih luka hatinya. Aku sering menangis dalam hati, begitu kuat ia menyimpan semua rahasia dan kepedihannya, terbuat dari apakah hati bunda.

Tanpa sepengetahuan bunda, aku menelusuri jejak hidupku, mencari akar sejarah diriku. Bertahun bersabar mencari potongan-potongan puzzle hidup, menyusun satu persatu yang kutemukan, sambil terus berdoa semoga takdir berpihak kepadaku,  berharap cepat atau lambat potongan-potongan itu akan menjelma menjadi sebuah gambar utuh keberadaan ayah biologisku. Tuhan mengabulkan doaku, takdir berpihak padaku, mempertemukan aku dengan Jeanny, sahabatku sekaligus mempertemukan aku dengan lelaki brengsek itu. Kami ternyata berasal dari benih yang sama"

*****

Aku dan gadis ini, duduk bersisian diatas karang menghadap lautan. Merasakan gemuruh dibenak yang susul menyusul serupa gelombang samudera dihadapan kami. Mencekam bagai sendyakala di langit jingga merah darah.  Aku tak tahu apa yang akan terjadi setelah hari ini. Aku bisa merasakan dendam yang bertahun-tahun disimpan gadis ini, wajahnya yang masih menorehkan seulas senyum kini serupa kotak pandora yang siap terbuka dan menebarkan kutukan atas masa laluku.

Hidupku kini bagai menunggu vonis kematian dan darah dagingku sendiri lah yang menjadi hakimnya, gadis yang baru beberapa hari lalu kukenal, kujabat erat tangannya dan memperkenalkan diri sebagai sahabat anakku, Jeanny.

“Julietta Adistya….”, begitu ia menyebut namanya yang indah

“Oom boleh panggil aku Julia, itu panggilan kesayangan bundaku…”

“panggilanku mirip sekali dengan nama oom, bukan?. Cuma kurang satu huruf doang kok, lahirnya juga cuma beda satu hari hehehe ”, Ia berseloroh…

*****

Kala itu aku ikut tertawa, menikmati keramahan gadis manis ini.

tapi mengingat itu semua kini, dada kiriku begitu sesak ….

keramahan yang ia punya, khas milik perempuan itu…

Adis…

 

tiba-tiba ombak menerjang tubuhku….

menghempas keras..

membentur karang…

gelap…..

 

 

Jakarta, 2 Juli 2013

fortuna dies natalis, Joe….

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

p20120517-102803

Lelaki Yang Sama #ArgaSeries #4

Kereta melaju kencang meninggalkan Stasiun Universitas Indonesia saat jam tanganku menunjukkan pukul sembilan pagi di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge