Sunday, September 24, 2017
Home » Cerita di Balik Kisah » Panah Yang Tertancap… #AdistySeries
golden-arrow

Panah Yang Tertancap… #AdistySeries

Udara di Teluk Jakarta mendadak bagai menghilang, meski kucoba menarik nafasku dalam-dalam, tetap saja pengap yang kurasa dalam dada seolah tak ada oksigen yang berhasil kutarik ke dalamnya. Meski Gie berkata tetap dengan lembut, namun kelembutan nya kali ini tetap membuatku terhempas….begitu keras. Sungguh pernyataan yang sulit untuk aku cerna.

“kamu gak sedang bercanda khan Gie?”
Sebuah tanya yang hanya dijawab dengan gelengan kepala dengan tatapan mata yang tak lepas menatap lurus ke bola mataku. Aku membalas dengan pandangan yang menelisik, tak ada kebimbangan disana, yang kulihat hanya sebuah kejujuran yang lahir dari sebuah keinginan kuat, yang ia sebut dengan “sebuah pembebasan”.

“Tak mudah melepas rantai yang membelengguku selama puluhan tahun ini, adis…, terikat begitu kuat dengan rahasia diri, tenggelam dalam dan makin dalam diperjalanan waktuku bertahun-tahun”, Gie melanjutkan ceritanya.
Sejak kecil aku mengagumi lelaki gagah berpostur tegap, lelaki berseragam dan berwibawa, namun tak seperti anak kecil lain yang inginkan cita menjadi pilot, polisi atau tentara nan gagah berwibawa itu, aku tak terbersit sedikit pun untuk menjadi seperti mereka.

Saat remaja aku makin menyadari bahwa aku berbeda. Tentu kamu masih ingat saat kita duduk di kelas yang sama. Aku memang pendiam, tapi bukan karena itu aku tak dekat dengan satu pun perempuan kala itu, termasuk saat kamu mulai mendekati aku. Aku tidak tertarik pada wanita. Aku menikmati perhatian-perhatian kecil yang kamu berikan, aku menyukai celotehmu, senyummu, candamu menggodaku, meski dalam hati aku berujar “ah…andai kau tau bahwa aku gay,dis”.

Aku menyimpan semua rasa ini sendiri, mencari pelepasan dengan caraku sendiri, berbicara dengan diriku sendiri, hingga entah kapan aku tak ingat pasti, aku mulai punya teman bicara saatku sendiri….cupid-cupid itu.
Jadi semua obrolan kita hampir tiap malam, yang kau nikmati ceritanya bahkan sampai jelang fajar tiba itu bukanlah sebuah cerita dongeng. Mereka ada dalam kehidupanku Adis. Mereka yang kemudian ku beri nama dan punya karakter seperti manusia di bumi. Mereka yang kesehariannya menemani kesendirianku dalam semua rahasia itu.

“Kamu pasti masih inget semua itu khan, dis? Negeri bagai di awan dengan keindahan surgawi, cupid-cupid, para nabi dan hal-hal yang dulu kau nikmati bermalam-malam dengan sebutan “Dunia Gie”. Ya…kalian menyebutnya khayalan, tapi bagi kami itu bagian dari hidup kami di dunia lain. Kalian bahkan menyebut itu penyakit dan mengatakan kami gila. Melihat kami bagai monster ketika kami berhari-hari mengurung diri dan berbicara panjang kata dengan teman-teman kami disana, cupid-cupid itu. Kata yang sesungguhnya sangat menyakitkan yang harus kami terima.

Pernah suatu hari, seorang teman mengetahui rahasiaku, dan hanya dalam hitungan jam semua orang mendadak menjauhiku, memandangku rendah. Di kota kecil kita itu, yang dikenal dengan kota yang sarat dengan nilai-nilai agama, lelaki gay sepertiku mungkin begitu hina di mata mereka, dan bagai aib yang terbongkar, semua orang disekitarku bahkan tembok disekelilingku pun seolah berbisik….berbisik….dan menjauh. Kuputuskan saat itu juga, berhenti kuliah dan pindah ke kota dimana tak seorang pun mengenaliku. Tak ada lagi tempat bagiku disini.

Berhari-hari ku tempuh perjalanan dalam bus antar kota dari ujung Sumatera menuju Yogyakarta. Diam seribu bahasa melewati malam demi malam dengan perasaan yang hancur, tanpa kawan bicara dan masa depan yang gelap. Sempat ku bertanya mengapa takdir ini yang harus aku terima, bila aku sedemikian hina dan berdosanya untuk hal yang tak pernah kuminta, mengapa tak Ia cabut saja nyawaku, agar tak berpanjang deritaku didunia dan dosa ku yang harus kupertanggungjawabkan kelak.

Aku menarik nafas panjang mendengar penuturan Gie…. tak tau harus mengatakan apa dan berbuat apa. Mendengar ceritanya saja membuat batinku lelah. Bagaimana dengan kamu, Gie? tidak kah engkau lelah menanggung semua ini sendiri?

Tiba-tiba kesepian hadir, terasa begitu hampa. Perlahan sisi tubuhku condong kearahnya….menyandarkan kepalaku di bahunya, sambil berkata “Usap punggungku, Gie…”
“rasakan perlahan….anak panah itu masih tertancap lekat dipunggungku….”
………pengakuanmu tak membuatnya anak panah itu terlepas,
jangan biarkan punggungku sepi, Gie………

Teluk Jakarta,
Saat purnama bulan pertama kala itu

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_1018

Yang Pertama Buatmu, Bukan Hanya Aku #ArgaSeries #5

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, seolah menopang isi kepalaku yang mendadak sarat oleh pengakuan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge