Sunday, September 24, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Nasehat Bijak di Waktu yang Tepat
sssttt... sini deh aku bilangin....
sssttt... sini deh aku bilangin....

Nasehat Bijak di Waktu yang Tepat

Saat seseorang mengalami musibah atau sedang dalam kesulitan, kita seringkali terdorong untuk menasehati. Terlebih bila orang tersebut menceritakan masalahnya kepada kita, dorongan untuk menasehati biasanya akan semakin besar. Niatnya memang baik yaitu untuk membantu menyelesaikan masalah. Tetapi yang terjadi kemudian acapkali tak seperti yang kedua belah pihak harapkan. Alih-alih masalahnya selesai, nasehat tersebut terkadang malah memicu pertengkaran dan menjadi masalah baru.

Pemberi nasehat kadang-kadang kesal karena merasa nasehatnya tak didengar atau tak dipahami. Tak kalah seru, yang dinasehati juga bisa jadi kesal karena nasehat yang diberikan terkesan menggurui bahkan terasa memojokkan. Untuk hal seperti inilah kemudian saya memang berhati-hati sekali dalam memberi nasehat. Seberapa pun besarnya keinginan untuk memberi nasehat saya akan menahan diri terlebih dahulu sambil mencermati kondisi di bawah ini.

1. Apakah yang bersangkutan meminta
Ketika seseorang bercerita tentang masalahnya pada kita, itu tak selalu berarti ia meminta nasehat kita atas permsalahan yang ia hadapi. Banyak orang bercerita hanya untuk didengarkan, dimengerti dan diberi empati. Ia butuh pendengar. Banyak dari kita yang ketika mengalami masalah sebenarnya sudah tahu solusi apa yang sebaiknya dilakukan. Namun perasaan tak enak karena kejadian tersebut bisa saja masih terasa sehingga perlu orang lain untuk berbagi agar beban yang dirasakan berkurang.

Ketidakpahaman tentang hal ini membuat kita seringkali memberi nasehat sebelum diminta, menasehati panjang lebar tanpa sadar bahwa bukan nasehat yang dibutuhkannya. Yang perlu kita lakukan hanyalah duduk menemaninya dan mendengarkan seluruh keluh kesahnya, Ingat, telinga di ciptakan lebih banyak jumlahnya daripada mulut. Itu artinya kita memang sebaiknya lebih banyak mendengar daripada berbicara.

2. Apakah waktunya sudah tepat
Ada fase-fase seseorang saat ia mengalami masalah atau musibah. Fase yang paling awal adalah penolakan, rasa tidak terima dan kecewa terhadap kejadian yang tak diinginkan tersebut. Seseorang butuh waktu sebelum akhirnya bisa menerima bahkan melupakan kejadian tersebut. Seberapa lama fase ini dilalui sifatnya sangat individual. Semakin keras penolakan maka semakin lama seseorang bisa menerima dan akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri.

Di fase awal ini biasanya yang bersangkutan masih dalam keadaan emosional sekali dan belum bisa menerima nasehat. Bisa jadi suatu masalah terjadi karena kesalahan atau kelalaian yang bersangkutan, atau bisa jadi karena ketidakpahaman dan emosi sesaat. Namun memberinya nasehat, apalagi sambil menyuruhnya introspeksi bahkan mengulas kesalahan-kesalahannya hanya akan membuat yang bersangkutan kesal dan merasa disalahkan. Ia hanya memerlukan seseorang yang membantu dan mendampingi ia melewati masalah ini.

3. Apakah hubungannya dekat
Nasehat yang paling sering didengar adalah nasehat dari orang-orang yang memiliki keterikatan secara emosional, entah itu orang tua, keluarga, sahabat ataupun kekasih. Pastikan hubungan anda dekat untuk memberi nasehat terutama masalah-masalah yang sifatnya sangat pribadi. Jangan pernah sekali-sekali masuk ke dalam ranah pribadi seseorang saat memberi nasehat kecuali hubungan anda dengan yang bersangkutan memang dekat. Ada hal-hal yang sangat sensitif yang menyangkut harga diri seseorang yang tak ingin dibicarakan dengan orang lain di luar lingkaran orang-orang terdekatnya.

4. Beri nasehat sekaligus jalan keluar
Menasehati itu bagus, namun ingat bahwa mereka yang memuliki masalah tak cukup hanya diberi nasehat, mereka butuh dibantu, dicarikan jalan keluar. Misal mereka yang mengalami masalah keuangan, mereka mungkin akan senang menerima nasehat bagaimana mendapatkan uang, namun adakalanya mereka terdesak oleh waktu saat itu. Membantu secara nyata dengan meminjamkan atau memberi uang adalah hal yang lebih mereka butuhkan saat itu dibanding hanya memberinya nasehat.

Pada seseorang yang sudah sakit misalnya, yang ia butuhkan saat itu adalah pertolongan segera, dan bukan sedang membutuhkan nasehat bagaimana cara menjaga kesehatan tubuh. Mereka perlu obat atau ke dokter. Beri bantuan agar mereka bisa memperoleh obat dan membawanya ke dokter segera. Bawakan ia makanan yang sehat atau buah-buahan yang bergizi. Berhentilah menanyakan sebab musabab penyakitnya, hal ini hanya membuat yang bersangkutan merasa bersalah dan mungkin membawa kesedihan pada dirinya.

Lalu bagaimana bila kita tidak bisa membantu secara fisik atau finansal? Ya tak apa. Tak ada keharusan anda harus ikut menyelesaikan masalah seseoran terlebih bila anda juga memiliki keterbatasan. Yang penting bagi kita adalah tahu persis kapan harus bicara, kapan harus mendengarkan. Bukankah nasehat yang bijak selalu disampaikan pada saat yang tepat.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

2 comments

  1. Terimakasih Mbak Donna diingetin lagi. Memang sih waktu orang cerita masalahnya kayak ngerasa dimintain nasihat dan solusi gitu. Tapi akhir-akhir ini berusahaaa banget buat ngerem ini mulut dan cuma dengerin aja. Biar nantinya dia yang nanya sendiri aja ada solusi atau menurut kita bagaimana.
    dani recently posted…Jangan Beli Saham dan Reksadana, Cek Profil Risiko Dulu!My Profile

  2. Selalu suka tulisan-tulisan seperti ini. Ah, peyuukk akyuuu, Mamaaakk :*
    Lestarie recently posted…Satu Blogpost Itu TantanganMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge