Home » Family and Parenting » My Beloved Daughter, Rani
Rani

My Beloved Daughter, Rani

“Bunda kapan bisa sembuh, terus kalo udah agak udah gak panas tapi batuk gitu gak boleh renang ya, kalo makan juga pasti masih pahit ya nda lidahnya”.

Pertanyaan cerdas seorang anak tadi malam saat menjelang tidur, bertanya pada bunda nya yang sudah dua hari tidak beranjak dari pembaringannya akibat demam. Aku tahu kemana arah pembicaraan anak ini, Rani….anak kedua-ku. Tadi malam pasti dia sudah berpikir tantang kegiatan yang kami rencanakan untuk merayakan hari ulang tahunnya hari ini. Kami sudah merencanakan untuk pergi bersama berenang dan makan berempat ditempat yang sudah dia pilih. Ah tapi apalah rencana manusia dibanding rencana besar sang Kreator yang menghadiahkan aku sakit beberapa hari terakhir. Tapi aku tak mau mengecewakan hati putri tercinta ku itu dengan mengatakan…..nanti kita set ulang ya nak, insyaaalah besok bunda sudah bisa keluar rumah, sabtu kita jalan-jalannya ya. Diikuti anggukan patuh penuh rasa lega terpancar dari wajahnya.

Hanifah Dianti Maharani, lahir 14 Agustus 2002 di Rumah sakit Haji Pondok Gede. Anak ini sejak lahir sudah membawa cerita tersendiri, lahir secara normal dengan berat badan 4 kg dalam kondisi terjerat tali plasenta dileher. Berat badan yang besar juga berpengaruh pada kadar gula darahnya sehingga mengalami penurunan kadar gula darah drastis mengharuskan “Giant Baby” ini masuk ke ruang khusus senacam inkubator baby selama 5 hari.

Duh rani-ku, bulan bulan pertama merawat mu seperti merawat anak burung tanpa daya, menyendoki tetes demi tetes air susu karena kamu masih lemah sekali, merawat luka dileher akibat jeratan tali plasenta yang lama sekali kering karena lehermu tertutup tubuh mu yang tambun menjadi menu setiap pagi sambil berjemur dibawah sinar ultraviolet pagi.

waktu terus berlalu……semua jerih payah itu terasa terbayar, Rani tumbuh dengan personality yang sangat berbeda dengan kakaknya. Meski sama-sama ekstrovert, Rani lebih sanguin dibanding kakaknya. Motorik nya juga berkembang lebih baik dari kakaknya..sehingga dia lebih berperan sebagai pemberi warna dalam keluarga kami. Rani cerewet, banyak sekali bicara, suka protes tapi hatinya gampang tersentuh.

Rani sejak kecil suka sekali berakting. Dulu waktu aku masih bisa ada di rumah sebelum jam 8 malam, biasanya setelah belajar kami (aku dan kakaknya terutama), pasti sudah dipersilahkan duduk dikamar untuk berperan sebagai penonton sementara rani lah yang berperan sebagai aktris he he he. Ada ada saja pertunjukan nya setiap malam. Kadang sebagai presenter musik, kadang sebagai penyanyi, kadang sebagai pragawati dan aku gak boleh mengantuk selama menonton pertunjukannya karena kalo ngantuk tepuk tangannya gak keras ha ha ha.

Cita-cita nya pun unik, jadi Ahli Kecantikan. Jadi kalo barang2 yang disukai kakaknya adalah hal2 yang berbau maskulin maka rani sangat feminin, seperti alat salon dan make up, dan warnanya harus dungk….nge-Pink. Tapi aku suka dengan kefeminiman Rani….dia hobi memaksa aku untuk tiduran supaya di Creambath, padahal tanpa dipaksa pun siapa yang tak suka kepala nya dipijat pijat, disisiri, dibersihkan dari uban dan ketombe…ups he he he..denganjari yang terampil dan bertenaga meski Rani baru berumur 7 tahun.

Ada cerita lucu tentang tangan mungil nan terampil ini.
Rani akhir2 ini sering memotong sendiri poni rambutnya, abis kalo nunggu bunda gak sempat2 sih, nunggu nyai datang dari lampung juga lama, maka dia potong sendiri. jauh dari rapih sih sebenarnya, tapi dia tetap pede dengan hasil potongan nya sendiri. Pernah aku komentar halus tentang potongan rambutnya yang acak-acakan dengan mengatakan

” dek, itu sepertinya yang dipinggir agak lebih pendek ya….kok gak rata ya dek,
tau gak jawabannya enteng banget…..
“bundaaaaa…..ini bukan gak rata, ini model poni miriiiiiiing * dengan huruf r yang cadel he he he.

Tapi trade mark rani bukan hanya feminin dan sedikit genit, dia juga pandai mencari dan mengelola keuangan. Tidak ada yang gratis lho dengan pijatan-pijatan itu, tarifnya sampai sekarang masih sekitar rp 1000….murah khan. Uang itu dikumpulin dalam dompet khusus dan tau benar berapa jumlah didalamnya, jadi jangan coba-coba ya pake duit Rani tanpa izin, dia pasti tahu….yang ini mungkin menurun dari neneknya yang rajin mengumpulkan uang dari setiap bajaj yang masuk …..xixixixi.

Membicarakan Rani adalah membicarakan kegembiraan, semua dikerjakan dengan senang hati, mengatur hatinya dengan membuatnya senang, membujuknya dengan lelucon, agar dia tersenyum kembali…..

Begitulah rani….warna merah dan kuning dalam rumah kami…..ceria dan selalu segar….dengan rentetan cerita yang seolah tak pernah habis untuk dibagi pada bunda nya yang selalu pulang malam ini.

Selamat ulang tahun Rani…..
tumbuhlah wahai bungaku….sebarkan wangimu pada dunia, tetaplah merunduk namun tegar menghadapi badai….tengadah menyongsong setiap mentari pagi….karena disitu sumber energi….

darmaga
14 Agustus 2009

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P8140535 - Copy

traveling asyik dimata anakku, lagu rindu sang bunda di bibir anaknya…

 Karena lagu yang tinggal diam di dalam hati seorang ibu, bernyanyi diatas bibir anaknya. Cuplikan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge