Sunday, September 24, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Menuju Mengkenang: it’s not about the destination but the journey
Mengkenang Lintas Tengah Sumatera Selatan

Menuju Mengkenang: it’s not about the destination but the journey

“Dari sini kita akan menempuh perjalanan selama berapa jam, nda? Jalannya berkelok-kelok nggak? Naik turun bukit nggak? Masih jauh nggak, bunda?”

Pertanyaan di atas kerap mewarnai perjalanan kami selama perjalanan melalui Lintas Tengah Sumatera Selatan kemarin. Perjalanan panjang menempuh Jakarta-Bandar Lampung-Baturaja-Mengkenang melalui medan yang tak biasa dan jarak yang jauh ternyata berpengaruh terhadap mental anak-anak dalam perjalanan.

Saya memaklumi perasaan anak-anak. Hampir dua puluh jam menempuh perjalanan darat di etape pertama perjalanan libur lebaran kami sekeluarga melipir ke Sumatera Bagian Selatan, ternyata adalah perjalanan darat terpanjang pertama yang dialami mereka. Meski dari Jakarta kami sempat singgah di Bandar Lampung selama beberapa jam sebelum melanjutkan perjalanan sampai ke Baturaja, tak urung lelah dan bosan sesekali dirasakan juga oleh anak-anak saya.

Mengkenang Lintas Tengah Sumatera Selatan
Jalan yang berkelok menembus bukit

Meski begitu, toh saya juga tak ingin mereka bosan selama perjalanan. Sambil berseloroh saya mengajak anak-anak untuk menikmati saja perjalanan yang dilalui. Melihat segala hal di sekitar, dan menemukan yang menarik dari yang mereka lihat. Mengutip sebuah kalimat yang sudah seringkali didengar oleh para pejalan, saya mengatakan pada anak-anak kalimat berikut:

“Focus on the journey, not the destination. Joy is found not in finishing an activity but in doing it.”

Voilaaaa, It’s work… meski sambil gantian berseloroh menggoda ibunya dengan berpura-pura menikmati, mereka menyenandungkan syair lagu pembuka serial kartun televisi kesayangan mereka saat kecil yang berjudul Ninja Hatori. “Mendaki gunung, lewati lembah. Sungai mengalir indah ke samudera. Bersama teman bertualang.” Begitu kira-kira syairnya. Dan berangsur mereka mulai bersemangat dan benar-benar menikmati.

Mengkenang Lintas Tengah Sumatera Selatan
Deretan rumah tradisional khas Sumatera Selatan

Sesekali mereka bertanya atau saya yang bercerita tentang apa yang kami lihat dan lalui dari sudut pandang yang menarik buat mereka. Seperti saat melihat fenomena maraknya pedagang batu akik yang bertebaran di ruas jalan Baturaja, dan asal-usul terbentuknya batu akik berdasarkan pelajaran yang mereka pelajari di sekolah. Saya juga sempat bercerita tentang primadona buah lokal Sumatera Selatan yang terkenal, seperti Duku, Durian dan Nanas Prabumulih yang juga diperdagangkan di pinggir-pinggir jalan raya Trans Sumatera seperti batu-batu akik ini.

Karena kami memiliki ketersediaan waktu yang jauh lebih panjang dibanding waktu tempuh yang kami butuhkan untuk sampai di Dusun Mengkenang yang hanya sekitar empat jam saja, maka memungkinkan bagi kami untuk singgah di beberapa tempat cantik dalam perjalanan untuk mengambil gambar dan menikmati suasana. Termasuk berfoto di bagian sungai favorit kami di Dusun Tubohan tempat dahulu leluhur kami bermukim.

Mengkenang Lintas Tengah Sumatera Selatan
Tempat favorit yang wajib disinggahi setiap lewat Dusun Tubohan

Rumah-rumah tradisional khas setempat juga menjadi obyek perhatian kami. Baru terbayang oleh mereka bila dahulu kala rumah-rumah panggung sengaja dibangun lebih tinggi di atas tanah untuk menghindari binatang buas dan air pasang. Kayu-kayu yang digunakan juga adalah kayu dengan kualitas sangat baik sehingga kekuatannya bisa bertahan sampai puluhan tahun. Jendela-jendela pun dihiasi kaca patri atau kaca ukir berwarna-warni sehingga membuat rumah makin terlihat cantik.

Saya ingat sekali betapa kokohnya rumah panggung leluhur kami. Tiang penyangganya besar-besar, berasal dari satu batang kayu utuh. Warna dinding kayunya semakin tahun semakin gelap dan tetap kuat. Lantainya meski juga terbuat dari kayu, kondisinya bersih, licin mengkilap tak kalah dengan lantai pualam. Konon nenek saya selalu menyeka lantai kayu tersebut dengan menggunakan ampas kelapa parut yang telah diambil santannya. Pantas saja…

Mengkenang Lintas Tengah Sumatera Selatan
Lada hitam setengah kering yang lagi dijemur.

Tak cukup bagi anak-anak hanya mengingat bahwa dalam perjalanan mereka “sekedar” melihat ada tanaman Karet, Kelapa Sawit, Kopi, Lada dan Cengkeh bertebaran sepanjang jalan. Mereka harus tahu bahwa ini justru ini adalah kekayaan alam Indonesia. Beberapa diantaranya adalah rempah-rempah yang diincar kaum penjajah di Indonesia, kekayaan yang seharusnya turut memakmurkan petani dan penduduk negeri.

Mereka bisa belajar bagaimana biji kopi berproses menjadi minuman siap saji di kota, bisa belajar bagaimana tanaman Lada yang ternyata tumbuh memanjang sehingga harus menumpang dengan dililitkan pada tanaman lain. Mereka juga bisa melihat langsung bahwa ternyata segala macam karet yang mereka gunakan di kehidupan modern berasal dari getah pohon yang kulitnya ditoreh secara berkala.

Mengkenang Lintas Tengah Sumatera Selatan
ah, romantis xixixix

Alhamdulillah, perjalanan tak terasa lelah dan membosankan. Menjelang tengah hari kami pun tiba di Dusun Mengkenang, Kabupaten Lahat. Sebuah rumah tradisional sudah disiapkan untuk kami bermalam selama tiga hari ke depan. Karpet lebar terhampar di tengah rumah, seolah menyambut kami dan mengajak beristirahat. Namun tentu saja kami tak ingin segera menghabiskan sisa hari hanya dengan tidur-tiduran di dalam ruangan. Saya memilih untuk duduk di beranda menikmati angin sejuk suasana kaki bukit sambil menikmati hamparan biji kopi yang sedang dijemur.

Amboiiii, nikmatnya…

Mengkenang Lintas Tengah Sumatera Selatan
Menikmati sejuknya udara pegunungan dan aktivtas petani kopi

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

16 comments

  1. atuhlah mampir kerumah akuuu nexttime tante donna 🙂
    eeehh minal aidin wal fadizin yah.
    ASTARI RATNADYA recently posted…Bawal Ayam Ceplok – menu favorit selama berlayarMy Profile

  2. Subhanalloh perjalanan yang sangat indah, bismillah suatu saat saya ingin menikmati perjalanan yang sama, bisa menikmati setiap perjalanan yang ditempuh dan mampir ke beberapa tempat spesial, slaam bahagia kak Dona, Minal Aidzin Walfa idzin ya kak, mohon maaf lahir dan batin 🙂
    Ipan Setiawan recently posted…Kerja sama adalah kunci sukses dari segalanyaMy Profile

  3. Ahh kalo dikasih yang begini perjalanan lebih dari 20 jam beneran jadi menyenangkan ya

  4. Pengalaman yang luar biasa Mbak Don. Dan dirimu menuliskannya dengan indah juga 🙂
    Evi recently posted…Jelajah Malaysia : Tangerang, Batam, dan Johor BahruMy Profile

  5. Gambar yang terakhir itu lho, suasananya bikin haru. Di Jogja sekarang jarang ada suasana seperti itu…
    adi pradana recently posted…Kriuknya makan Rengginang Ketan ItemMy Profile

  6. uenaknya yang punyakampung halaman… selalu ada yang akan diceritakan ketika mudik… 🙂

  7. oh bentuk lada hitam seperti itu ya mbak
    Lidya recently posted…Berbagi Cerita Berbagi Cinta – Stories From The HeartMy Profile

  8. Foto yg di jendela2 itu aku suka banget …instagram able
    cumilebay.com recently posted…Melongok Batu AKIK di Rawa BeningMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge