Tuesday, September 26, 2017
Home » Family and Parenting » Mengenalkan Konsep Keuangan Pada Anak
IMG_0501

Mengenalkan Konsep Keuangan Pada Anak

Hutang kartu kredit yang menumpuk, cicilan barang konsumtif yang tak habis-habis, gaya hidup boros tak dipungkiri hinggap pada banyak kehidupan orang dewasa saat ini. Hal ini ditengarai karena sebagian besar dari kita tidak mengenal konsep keuangan sejak kecil. Konsep pendidikan di masa lalu lebih mementingkan aspek akademik dan lupa mendidik anak melek finansial sejak dini sehingga tak heran bila saat mereka dewasa dan memiliki penghasilan sendiri mereka terjebak dalam pola keuangan yang salah.

Saya merenung banyak soal ini dalam perjalanan menuju sebuah tempat kemarin. Bacaan di sebuah majalah bulanan mengingatkan kembali bahwa sudah cukup lama saya absen mengajarkan konsep keuangan pada anak-anak karena kesibukan dalam pekerjaan. Padahal sejak pertama mengenal dan belajar mengenai konsep perencanaan keuangan, anak-anak sudah dilibatkan dalam pembelajaran tersebut. Tentu saja disesuaikan dengan usia anak-anak kala itu, dari sekedar mengetahui bahwa untuk mendapatkan penghasilan kita harus bekerja hingga belajar mengelola uang saku.

Saya masih ingat bagaimana mengajarkan mereka tentang “earn money”, bagaimana mendapatkan penghasilan dengan mengambil alih beberapa pekerjaan seperti menyapu, membereskan rumah dan melipat pakaian bersih dari jemuran lalu menerima sejumlah uang sebagai imbalan sebagaimana orang dewasa mendapatkan uang hasil pekerjaan. Mereka juga belajar membuat laporan keuangan uang saku mingguan yang mereka terima. Konsep menabung juga diajarkan agar saat membutuhkan uang ekstra, mereka memiliki dana cadangan.

Namun dua tiga tahun terakhir, terutama setelah mereka memasuki sekolah jenjang menengah pertama, rasa-rasanya saya belum menambah “jam terbang” mereka tentang konsep keuangan. Padahal di usia 12-15 tahun, anak-anak sudah mulai memiliki lifestyle sendiri. Mereka sudah punya hobi yang mereka tekuni, kebutuhan akan barang tertentu, dan kegiatan di luar rumah bersama teman-teman tanpa orangtua mereka. Mendadak saya merasa lalai mengajarkan konsep keuangan di fase ini. Tapi tak ada kata terlambat bukan? Saya mulai kembali menyusun rencana pengajaran sebagaimana yang dicontohkan Ligwina Hananto di tabel di bawah ini.

USIA

KONSEP NILAI

Pra-sekolah Belajar tentang nilai “cukup”, artinya anak diberi tahu untuk tidak makan sebanyak-banyaknya, Ketika bermain pun, mainan bia bergantian dengan teman.
TK 3-5 tahun Konsep uang dan hitungan sederhana. Misalnya, anak diberitahu bahwa ayah dan ibu bekerja agar bisa mendapatkan uang. Uangnya dipakai untuk berbelanja.
SD 5-12 tahun Anak mulai kenal penggunaan uang. Biasanya dari uang saku. Bisa seminggu sekali saja, atau belajar dengan ikut berpikir saat ke supermarket.
SMP 12-15 tahun Anak telah memiliki lifestyle sendiri. Ketika berpergian bersama teman atau tanpa orangtua, anak remaja ini sudah bisa belajar membuat budget sederhana.
SMA 15-18 tahun Beri otoritas dan kemampuan bertanggung jawab lebih. Selain serah terima uang saku bulanan, remaja ini bisa mulai dilibatkan dengan tanggung jawab di rumah, seperti mengurus pulsa listrik.
18-25 tahun Belajar memiliki penghasilan sendiri dan membayarkan pengeluarannya sendiri.

Aakar Abyaza Fidzuno, seorang Perencana Keuangan menuliskan bahwa anak-anak harus mengenali perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, bahkan nilai ekonomis suatu barang. Menurut beliau ada dua pola pengenalan konsep keuangan, yaitu: Wealthy dan Rich. Wealthy berarti mendorong anak untuk memiliki kehidupan yang kaya raya, sedang Rich berarti anak didorong untuk memiliki kehidupan kaya berkecukupan. Melihat definisinya, sebagian dari kita pasti akan merasa risih. Begitu juga saya pada awalnya. Namun bila dilihat bagaimana konsep ini diterapkan, ternyata tidak kok.

Pola Wealthy mendorong anak untuk membagi uang saku dalam tiga pos, yaitu: saving, spending, dan sharing. Saving yang dimaksud di sini adalah menabung untuk tujuan tertentu. Jadi anak-anak juga harus belajar membuat tujuan keuangan. Pos spending mengajarkan anak-anak bagaimana membelanjakan uang mereka, karena pada dasarnya, mengenalkan konsep keuangan pada anak bukanlah mengajarkan mereka tentang uang melainkan mengajarkan mereka mengambil keputusan keuangan. Sedangkan pos sharing melatih mereka untuk memiliki empati dengan menganggarkan uang untuk dibagikan baik sebagai hadiah maupun kegiatan amal atau sosial.

Sesekali saya mengajak anak-anak berbelanja, memberikan mereka sejumlah uang untuk dibelanjakan dan memberikan kebebasan mereka untuk memilih barang yang akan mereka beli. Saya hanya mendampingi mereka dan memberikan masukan terhadap barang yang akan mereka beli sebelum mereka membayar sendiri belanjaan mereka ke kasir. Di sini mereka akan belajar memilah dan memilih, membedakan mana barang yang mereka butuhkan dengan yang diinginkan, mempertimbangkan harga dan akhirnya bisa memilih barang yang bernilai paling baik, bukan sekedar murah atau mahal.

Sekarang saat anak-anak sudah masuk usia remaja, sudah bisa menggunakan gawai dan internet dalam berbelanja di toko-toko online seperti Zalora misalnya. Namun saat transaksi mereka masih harus didampingi. Mereka juga harus belajar untuk memanfaatkan peluang berbelanja lebih murah seperti hanya membeli barang-barang yang mereka butuhkan. Di momen-momen tertentu seperti di periode diskon di Hari Belanja Online Nasional seperti sekarang ini, mereka akan belajar agar tetap belanja sesuai dengan budget dan kebutuhan. Inilah pentingnya belajar berbelanja, bukan hanya sekedar menabung saja.

Perencana Keuangan Ligwina Hananto mengatakan bahwa, “semua pemboros yang sudah dewasa, waktu kecil diajarkan menabung. Tapi, karena tidak diajari belanja, dia tidak tahu cara belanja sehingga uangnya habis.” Dan yang lebih menyedihkan, sebuah hasil riset mengungkapkan bahwa 92% orangtua tidak tahu bagaimana mengenalkan dan mengajarkan pengelolaan keuangan kepada anak sejak dini. Parahnya lagi bahkan orangtua sendiri, banyak yang melakukan kesalahan finansial, misalnya mentang-mentang lagi ada diskon besar-besaran lalu tidak bijak dalam belanja. Akibatnya mereka secara tidak langsung mengajarkan kesalahan tersebut pada anaknya. Duh…

Jadi, yuuk kita berbenah dan mari kenalkan konsep keuangan dan nilai uang pada anak. Tak pernah ada kata terlambat untuk berbenah dan belajar.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

15thn

15 tahun…wedding anniversary

Tahun ini genap 15 tahun usia pernikahan kami dan 13 tahun saya menjalani kehidupan dengan ...

11 comments

  1. Mantabh Mbak Donna. Hari belanja online nasional dihubungkan dengan konsep perencanaan keuangan! Makasih ilmunya Mbak.. 🙂
    dani recently posted…Belanja Baju Hemat di Pondok Busana DepokMy Profile

  2. Lengkap sekali mbak, penting nih buat para orang tua yang ingin mengajarkan konsep keuangan pada anaknya sejak dini. Kalo saya mah, pas kecil dulu cuma diajarin untuk menabung aja. 😀
    Makasih udah share 😀
    sistalisius recently posted…Syarat & Ketentuan #Sistalisius Blog CompetitionMy Profile

  3. Kalo saya mah dulunya cuma disuruh nabung-nabung aja. gak diajarin konsep keuangan yg lengkap kaya gitu. Lengkap banget mba,, penting nih buat para orang tua yang ingin mengenalkan konsep keuangan pada anak sejak dini .
    Makasih udah share 😀
    sistalisius recently posted…Syarat & Ketentuan #Sistalisius Blog CompetitionMy Profile

  4. meski bapak ibu saya bukan orang finance, tappi emang ngerasa sih udah diajarin cara ngelola duit dari kecil. inget dulu SD udah punya rekening tabungan sendiri di kantor pos.
    Inayah recently posted…Lawang Sewu More Than InstagenicMy Profile

  5. wah… belanja jg ada ilmunya ya
    Nathalia DP recently posted…Belly Dance untuk Perut Lebih RampingMy Profile

  6. Hmm, jd harua diajari belanja juga ya, bkn cuma diajari menabung. Ok, noted! Mamacih infonya kakaa
    Noe recently posted…5 Alasan Memilih ZTE Blade A711My Profile

  7. Nah kayaknya ini juga bisa dijadikan edukasi yang penting bagi Anak. biar anak tau bagaimana penting nya berhemat, dan yang paling penting bisa menumbuhkan sikap menghargai dan tidak menyia-nyiakan..
    willova recently posted…Mudagaya Clutch Pilihan Tepat Saat Pergi Ke PestaMy Profile

  8. Sangat jarang orang tua di Indonesia yang mengajarkan mengenai keuangan sejak dini kepada anak-anak mereka.

  9. Susah mencari orang tua di Indonesia yang mengajarkan mengenai keuangan sejak dini kepada anak-anak mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge