Thursday, November 23, 2017
Home » Review and Event » Menepis Gugat, Menuai Asa di Teluk Buyat
P_20160401_061315

Menepis Gugat, Menuai Asa di Teluk Buyat

Hati saya ikut terhanyut rasanya saat perahu kecil itu perlahan menjauh dari pandangan, meliuk-liuk melawan gelombang di atas Teluk Buyat. Di dalamnya duduk seorang lelaki, tak muda lagi. Pria kurus berwajah tirus dengan raut wajah datar tanpa senyum, duduk mengayuh dayung melarung nasibnya pagi itu.

Saya menyebutnya pria dari seberang sungai. Cukup lama kami mengamatinya dari seberang, tak jauh dari tempatnya bersiap melaut. Sapa kami ditanggapi acuh bagai gayung tak bersambut. Sungguh berbeda dengan sambutan penduduk di seberang lainnya yang begitu ramah dan bersahabat. Saya mencoba menerka sikapnya, mungkin kedatangan kami dengan kamera ditangan membuatnya tak nyaman. Namun tak urung terbersit jua tanya dalam benak, mungkinkah penyesalan itu masih membekas, hingga setiap orang asing yang datang seolah ingin mengorek kembali cerita pahit di Teluk Buyat.

  • Merunut Kembali Cerita di Teluk Buyat

Tentu saja ingatan saya masih lekat dengan kasus yang pernah terjadi di teluk kecil di pantai selatan Semenanjung Minahasa ini pada pertengahan tahun 2004. Saat itu tuduhan dilayangkan pada PT Newmont Minahasa Raya (PTNMR) yang dianggap telah mencemari perairan Teluk Buyat. Sebagian masyarakat pun serta merta menggugat bahwa berbagai masalah kesehatan yang menimpa warga lokal di sana disebabkankan oleh aktivitas pertambangan PTNMR di Kabupaten Minahasa Tenggara.

Sontak mata dunia tertuju ke Teluk Buyat ketika tuduhan itu mencuat ke ranah publik, menjadikan PTNMR dan Presiden PTNMR pada saat itu, Richard Bruce Ness sebagai terdakwa. Dalam persidangan muncul dakwaan bahwa PTNMR melakukan tindakan yang menyebabkan pencemaran lingkungan karena adanya kandungan merkuri dan arsenik pada air dan biota laut sehingga warga lokal menderita penyakit gatal-gatal karena tercemar kedua bahan berbahaya tersebut.

Saya tak mengikuti hingga tuntas kasus Teluk Buyat ini. Menepi begitu saja dari pikiran seiring dengan kesibukan dan urusan lain di Jakarta selama bertahun-tahun. Hingga pada Bulan Februari 2016 lalu PT Newmont Nusa Tenggara mengundang saya untuk ikut dalam program Sustainable Mining Bootcamp di Sumbawa Barat sekitar 9 hari lamanya, dan dilanjutkan dengan perjalanan ke Minahasa Tenggara untuk melihat kondisi ex-tambang emas PT Newmont Minahasa Raya bulan berikutnya.

Sebuah perjalanan panjang kembali kami lakukan pada tanggal 31 Maret 2016. Bertolak dari Bandar Udara Soekarno Hatta Cengkareng, kami terbang menuju Bandar Udara Sam Ratulangi Manado melalui rute transit Bandar Udara Juanda Surabaya. Total perjalanan udara selama 5 jam kurang 15 menit –plus delay dalam pesawat selama satu jam– masih harus dilanjutkan dengan perjalanan darat dengan menggunakan bis yang disediakan oleh Newmont dari Manado menuju Ratatotok Timur selama kurang lebih 3 jam lamanya.

Perjalanan ini mau tak mau membuat saya harus membuka kembali ingatan tentang Kasus Teluk Buyat. Kedatangan kami berlima belas ke Minahasa Tenggara memang untuk melihat langsung kondisi di Teluk Buyat saat ini serta menyaksikan sejauh mana PTNMR melakukan reklamasi di area tambang setelah kegiatan tambangnya selesai pada tahun 2004 yang kebetulan bertepatan dengan mencuatnya kasus pencemaran di Teluk Buyat.

Berbekal pengalaman mengikuti Newmont Sustainable Bootcamp selama 9 hari di Batu Hijau, tempat di mana saya melihat langsung bagaimana role model sebuah kegiatan tambang yang berkelanjutan dilakukan, baik dari operasional tambang, pengelolaan lingkungan hingga tanggung jawab sosial kepada masyarakat, saya mencoba menepis beberapa keraguan dalam benak. Apa mungkin PTNMR seceroboh itu melakukan kegiatan tambang hingga menyebabkan pencemaran dan menimbulkan penyakit yang berbahaya bagi masyarakat di Teluk Buyat. Rasanya tak masuk akal.

  • Menepis Gugat Kasus Teluk Buyat

Bermula dari tuduhan masyarakat dan organisasi nirlaba yang menyatakan bahwa telah terjadi pencemaran akibat penempatan tailing atau sisa pengolahan tambang emas PTNMR di Teluk Buyat. Menurut mereka, pencemaran ini ditandai dengan berkurangnya jumlah ikan tangkapan mereka, perubahan kondisi air laut yang menjadi keruh hingga timbulnya penyakit gatal-gatal pada beberapa warga lokal.

Persoalan ini kemudian menjadi pelik ketika berbagai tuduhan yang salah pun ditujukan kepada PTNMR, termasuk kematian Bayi Andini Lensu yang diduga mengalami sakit benjolan dan kulit yang mengelupas akibat pencemaran merkuri dan arsenik di Teluk Buyat. Warga pun kemudian banyak yang mengeluhkan penyakit serupa dan bahkan berbagai penyakit lainnya seperti pusing, lemas dan tremor yang kemudian menuduh limbah PTNMR sebagai penyebabnya.

Masyarakat didukung oleh organisasi nirlaba seperti WALHI kemudian mengajukan berbagai tuntutan kepada PTNMR yang kemudian berujung di meja hijau dan mendudukkan PTNMR serta Richard B. Ness sebagai Presiden Direktur PTNMR sebagai terdakwa. Yakin bahwa aktivitas tambangnya tak mencemari lingkungan apalagi menyebabkan berbagai penyakit aneh, PTNMR tak gentar menghadapi gugatan baik secara perdata maupun secara pidana. Meski harus melalui perjalanan panjang dalam kurun waktu delapan tahun dari tahun 2004 hingga 2012, persidangan demi persidangan dihadapi PTNMR untuk mendapatkan keadilan.

Bukti-bukti ilmiah disodorkan, termasuk dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Lingkungan Hidup yang menunjukkan bahwa tak kerugian bagi warga lokal dan tak ada pencemaran di Teluk Buyat akibat kegiatan tambang PTNMR. Akhirnya, Mahkamah Agung Republik Indonesia membebaskan PTNMR dari seluruh tuduhan dalam Kasus Buyat, baik secara perdata maupun pidana. Pada tahun 2009 MA telah mengeluarkan putusan yang menguatkan putusan PN Manado yang membebaskan PTNMR sekaligus menolak kasasi Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap Kasus Teluk Buyat secara pidana.

Begitu juga secara perdata, pada akhir tahun 2012 melalui surat pemberitahuan dari Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan yang menyatakan bahwa Mahamah Agung (MA) lewat keputusannya No. 2691K/PDT/2010 menolak permohonan kasasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan membebaskan PTNMR dari seluruh dakwaan dan tuntutan JPU.

Kini tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan di Teluk Buyat. Para pakar telah menyampaikan hasil penelitiannya di tahun 2013, bahkan Menteri Riset dan Teknologi pada waktu itu, Gusti Muhammad Hatta menyatakan bahwa semua makhluk hidup, ikan, dan juga terumbu karang serta air di Teluk Buyat tetap baik dan di bawah baku mutu. Namun penelitian akan tetap dilanjutkan hingga 2016 untuk memastikan semuanya baik-baik saja sepuluh tahun setelah operasi Newmont Minahasa Raya selesai.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

  • Sebuah Pembelajaran

Meski begitu, kasus Teluk Buyat ini terlanjur membawa dampak yang sangat besar bagi masyarakat lokal kala itu. Bahkan ada yang terbawa hingga kini. Pemberitaan tentang pencemaran Teluk Buyat yang belum terbukti kebenarannya menyebabkan keraguan terhadap ikan-ikan yang ditangkap oleh nelayan lokal dari perairan Teluk Buyat. Hasil tangkapan ditolak oleh industri pengalengan ikan yang biasa mereka suplai. Masyarakat takut mengkonsumsi ikan dan nelayan pun tak lagi melaut. Tentu saja ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat lokal yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

Tak hanya itu, konflik internal dalam masyarakat juga terjadi kala itu, hembusan pihak-pihak ketiga yang memiliki kepentingan tersembunyi membuat suasana semakin panas hingga masyarakat terbagi menjadi dua kubu yang saling bertentangan. Informasi yang simpang siur tentang kondisi Teluk Buyat sangat meresahkan warga. Sebagian ingin bertahan tinggal, sedangkan sebagian lainnya yang termakan isu dan terbujuk rayuan pihak-pihak yang tak bertanggung jawab tersebut memilih relokasi keluar dari Desa Buyat Pante dan membakar rumah-rumah mereka.

Kelompok terakhir inilah yang kemudian kelak sangat menyesali keputusan mereka kala itu. Jumlahnya sekitar 73 kepala keluarga. Pihak-pihak yang memberi janji-janji manis itu kemudian tak sepenuhnya bertanggungjawab. Komite Kemanusian Teluk Buyat (KKTB) yang berperan dalam proses relokasi toh pada akhirnya menghentikan bantuannya. Tak ada lagi uang dan pemenuhan kebutuhan pangan yang dijanjikan di Duminanga, Kabupaten Bolaang Mangondow tempat mereka di-relokasi.

Mereka kesulitan untuk mencari nafkah atau lahan pekerjaan. Rumah yang sempat dijanjikan pun tak kunjung dibangun dengan alasan itu sudah menjadi kewajiban pemerintah. Sebagian yang tak tahan dengan kondisi di Duminanga kemudian memutuskan untuk kembali ke Desa Buyat di Ratatotok, namun mereka mendapat penolakan dari mereka yang dahulu bertahan tinggal mengingat huru-hara saat mereka meninggalkan desa.

Meski akhirnya mereka diperbolehkan kembali, garis tegas berupa sungai memisahkan mereka yang dulu hidup rukun bertetangga. Mereka yang kembali dari Duminanga hanya boleh menempati lahan di Desa Bubuan di seberang sungai, berseberangan dengan tempat di mana mereka dulu tinggal di Buyat Pante, Ratatotok Timur. Memulai hidup mereka dari nol lagi. Ah, dada saya sesak menulis ini, teringat pria dari wilayah seberang berwajah tirus dengan air muka tanpa senyum yang saya lihat pagi itu di muara sungai.

Pandangan saya jauh ke seberang, merekamnya dalam benak dan membandingkan dengan pemandangan yang baru saja saya lihat sepanjang jalan dari penginapan hingga ke muara sungai. Di seberang sana, rumah-rumah terlihat sangat sederhana, sebagian besar dindingnya terbuat dari kayu dan beratap daun kelapa. Tak ada perahu-perahu besar penangkap ikan yang bersandar. Sungguh kontras kondisi dua desa dengan warga yang dulu bersama kini terpisahkan oleh sungai karena sengkarut isu.

  •  Asa di Bukit Harapan

Kini di Desa Buyat, rumah-rumah yang dulu terbakar tak terlihat bekasnya sama sekali. Di situ telah dibangun rumah-rumah permanen oleh PTNMR dengan luas tanah seragam sekitar 300 meter persegi. Rumah-rumah tembok itu tersusun rapi berjajar berhadap-hadapan layaknya sebuah perumahan. Penduduknya ramah-ramah. Saat saya berjalan kaki menyusuri kampung yang berada di desa tersebut , seorang lelaki ramah menyapa saya. Melihat kamera di tangan, sepertinya beliau mengerti kalau saya sedang mengeksplore wilayah sekitar dan mencari obyek menarik untuk direkam melalui mata lensa.

Kami saling melontarkan senyum, dan saya terus berjalan sendirian menyusuri pantai. Seolah mengerti bahwa saya sesungguhnya berharap ada nelayan yang sedang menurunkan ikan untuk diambil gambarnya, beliau pun menyapa saya. Beliau menawarkan kotak-kotak penyimpanan ikan tangkapannya semalam untuk diambil gambarnya. “tak ingin memoto ikan, bu” sapa beliau sambil tersenyum. Wah… saya tersanjung sekali, dan tentu saja menyambutnya dengan girang hati.

Pak Haji Jumadi namanya. Pria bergamis putih lengkap dengan kopiahnya, menyapa saya dengan wajah dan tutur kata yang menyejukkan jiwa. Kalimat pujian pada Sang Khalik tak putus keluar dari bibirnya saat bercerita dan setiap saya menyatakan ketakjuban terhadap ikan hasil tangkapan yang meruah dan segar-segar di dalam kotak-kotak yang disusun berjajar. Sayang pagi itu kami harus meninggalkan Ratatotok, sehingga terpaksa menampik dengan sangat halus tawaran Pak Haji untuk menikmati ikan bakar hasil tangkapannya siang nanti. Doakan kami bisa kembali ya pak, agar bisa menikmati ikan bakar segar dari Teluk Buyat lagi.

Perekonomian berdenyut kencang di sini. Pagi itu saja, di tempat Pak Haji Jumadi, kami menyaksikan berkotak-kotak ikan segar. Sebagian kecil ikan hasil tangkapan dibeli oleh warga lokal dan sebagian besar lainnya diangkut dengan menggunakan mobil bak terbuka untuk disuplai ke pengepul. Bayangkan…, dalam sekali angkut, mobil ini bisa membawa sekitar 12 kotak ikan segar. Bila harga per kotak ikan itu besarnya 600 ribu rupiah. Silakan hitung sendiri berapa omzet per hari hanya dari ikan tangkapan. 7,2 juta!

Dalam kesempatan berkeliling Ratatotok, kami juga melihat kehidupan masyarakat lingkar tambang PT. Newmont Minahasa berjalan begitu normal sebagaimana lazimnya sebuah kota kabupaten. PTNMR telah membangun sejumlah infratsruktur yang bisa dinikmati warga lokal, selain perumahan, dibangun jalan raya mulus lebar beraspal, drainase, sarana ibadah, tempat wisata, sekolah-sekolah, pengadaan kapal, pemodalan,puskesmas bahkan rumah sakit umum yang dibangun dengan dana sebesar 66 M rupiah yang diresmikan pada tahun 2009 kemarin.

  • Menuai Buah Kemandirian

Perjalanan kembali ke penginapan pagi itu membawa kesan yang mendalam dari Teluk Buyat. Senang rasanya melihat kehidupan yang damai di desa ini. Sekelompok warga bersama-sama menjala ikan, lalu berbagi hasil tangkapan. Di sudut lain sekelompok laki-laki bersama-sama menarik jala dari perahu untuk di gulung di tepi pantai. Semangat kerukunan dan kerjasama yang masih terjaga.

Lurus di hadapan dari tempat saya berjalan, berdiri kokoh Bukit Harapan. Tak terlalu payah mendaki ke atas, hanya perlu menaiki sekitar 200 anak tangga untuk melihat keelokan pemandangan Pantai Teluk Buyat dan Pantai Lakban dari ketinggian. Dari puncak Bukit Harapan ini, terlihat gradasi birunya permukaan air laut berpadu dengan hijaunya bebukitan yang mengitarinya. Pohon Nyiur berbaris rapi di pinggiran pantai menambah cantik suasana pagi.

Dua tugu berlambang Salib dan Bulan Sabit berdiri berdampingan di atas bukit, melambangkan kerukunan antar umat beragama di tempat ini. Nuansa yang persis sama seperti yang saya lihat di persimpangan dusun, di bawah sana sebuah masjid dibangun bersisian persis dengan sebuah gereja. Sebuah keindahan dalam perbedaan. Tak ada yang perlu dipertentangkan dari perbedaan bila keduanya bisa berdampingan dengan damai.

Semoga kerukunan tetap terjaga, kedamaian ini tetap terpelihara dan Tuhan senantiasa melimpahkan anugerah buat warga Teluk Buyat. Melihat apa yang telah PTNMR tanam bertahun-tahun dan kondisi di Ratatotok saat ini, saya yakin masyarakat perlahan telah mulai menuai bibit-bibit kemandirian di Ratatotok. Semoga tetap terus berbuah dan bisa dinikmati hasilnya meski keberadaan Newmont Minahasa Raya benar-benar usai di Minahasa Tenggara.

catt: Tunggu ceritaku tentang hutan reklamasi yang menjadi kebun raya pertama di dunia yang merupakan ex-tambang emas ya… stay tune

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170624114433

[Resensi Buku] JAVASIESTA 17/17 – Indri Juwono

Perjalanan dengan seorang teman juga menjadi kendali pada diri sendiri. Bisakah tetap dengan karakter sendiri, ...

36 comments

  1. Semoga semua pertambangan melakukan tanggung jawab terhadapa lingkungan dan masyarakat sekitar seperti yg PTNMR lakukan
    cumilebay recently posted…Damai RANAU ku Tenang Batin ku Galau Hati kuMy Profile

  2. Saya merasa tdk melihat bekas tambang di situ. Semua indah seperti sebelum ada tambang Newmont di sana. Sebuah penanganan serius dari Newmont tentang keberlanjutan alam di sekitarnya. Salut

  3. Aku juga masih terbayang wajah si Bapak yg tak begitu welcome saat ditanya-tanya. Iya mungkin ia sudah jenuh menerima pertanyaan atau takut lukanya kembali berdarah. Semoga yang terbaik ya untuk penduduk seberang sungai
    Evi recently posted…Pesona Kebun Raya MinahasaMy Profile

  4. Kasian nasib para pelayan di sana ya. keraguan merusak segala. semoga peraturan pertambangan di Indonesia memiliki standardisasi yg benar2 mengikat sehingga meminimalkan pengrusakan alam.
    Ipeh recently posted…Pet sematary : Pemakaman Hewan PeliharaanMy Profile

  5. Asa yang tak pernah putus dikarenakan harapan yang terus dipupuk. Insyaallah masyarakat Teluk Buyat semakin kuat seiring dengan ujian yang menimpa mereka.

  6. Tulisan yang sangat menggugah Mbak! Salut dengan Desa Buyat yang damai sekali dalam kebersamaan dan perbedaannya; contoh masyarakat Indonesia yang bhinneka tunggal ika :hehe. Fotonya apik pula, duh itu tak usah saya pertanyakan lagi.
    Memang, konflik antara korporasi, masyarakat, dan NGO itu rawan banget disusupi kepentingan, yang kadang saking mengerikannya tak memedulikan masyarakat sebagai pihak mayoritas namun berposisi paling lemah. Belum lagi ketika media urun serta di sana (seperti kasus Buyat yang eksposur medianya seingat saya gila-gilaan), duh isu yang semestinya sederhana bisa jadi bola panas yang mungkin sekali membuat banyak orang salah mengambil keputusan.
    Namun semua sudah terjadi–saya harap apa yang tinggal sekarang merupakan yang terbaik yang diberikan Tuhan. Agaknya demikian ya, dari tulisan ini saya membaca ada asa yang tumbuh di sana.
    Semoga kita semua hidup dalam kedamaian :)).
    Gara recently posted…Weekly Photo Challenge: DinnertimeMy Profile

    • donna imelda

      bener banget, Gara… di sana aku melihat bahwa kehidupan bergulir normal, masyarakat hidup rukun berdampingan. Tak ada lagi ragu soal pencemaran, lahan ex-tambang juga sudah direklamasi begitu baik bahkan melebihi indikator keberhasilan yang ditetapkan pemerintah. Kamu harus datang ke sana, Gara, Daftar ya tahun depan.
      donna imelda recently posted…Menepis Gugat, Menuai Asa di Teluk BuyatMy Profile

  7. Keren. Aku padamu, Mbak Donna..

  8. ada banyak cerita di sana ya mba…dan juga pelajaran hidup yang sangat menggugah. Saya pun suka menyusuri pojok-pojok Indonesia yang sarat cerita mba..Thanks for sharing..
    indah nuria savitri recently posted…Commuting..My Profile

  9. Semoga teluk Buyat selalu terlindungi ya Mak, baik itu hasil lautnya maupun masyarakatnya.. Aaaamiin

  10. teluk yg cantik, hasil laut yang melimpah ciri laut yang sehat.. semoga teluk dekat tempatku juga bisa bangkit lagi daerah ex-pengeboman karang…

  11. Sepertinya trauma si bapak dalam banget ya. Semacam anti untuk berbicara dengan orang luar. Semoga warga di sana semakin sejahtera. Bagaimana dengan pendidikan di sana, Mamak?

  12. Mbak Donna, love the article!

    Saya paling terkesan sama simbol-simbol kerukunan beragama yang diterapkan secara nyata di tengah-tengah masyarakat. Semoga toleransi antarumat beragama bisa semakin kuat ya di bumi Indonesia ini 🙂

  13. Kunjungan perdana ke blog ini. Salam kenal ya, Mbak.
    Saya lupa-lupa ingat kasus pencemaran Teluk Buyat ini. Tapi sepanjang ingatan saya, PT Newmont memberi respon baik atas isu ini. Beruntung sekali Mbak Donna bisa langsung melihat kondisi teluk tersebut sehingga dapat membandingkan sendiri antara “kata berita” dengan kenyataan sesungguhnya. 🙂
    Eko Nurhuda recently posted…Menelusuri Kota-Kota Tua di Turki bersama Cheria TravelMy Profile

  14. Smoga someday bisa menjejak kaki di teluk buyat
    salam sehat dan semangat mbak Donna
    amin

  15. Syukur lah mbak kalau begitu,,, setelah mengeruk hasil tambang yang ada, kini tanggungjawab berupa pemulihan dilakukan,,,,
    Aku terkesan dan trenyuh mbak ama sikap ramah para warga salah satu contohnya Pak Haji Jumadi yang menawarkan kotak – kotak penangkapan ikan untuk di foto,,, selain itu menawarkan pula untuk makan ikan bakar bersama,,,, baik banget ya warga – warga disana,,,,
    Keren – keren,,, selain pemandangannya yang yahud juga antar umat beragama yang terpelihara di Teluk Buyat ini,,,, jadi tersepona mbak Donna Aku, 🙂

  16. Ingat newwont…yg kuingat ya buyat ini dan kasusnya dulu
    Inayah recently posted…Susindra, Blogger Jepara Penerus Semangat KartiniMy Profile

  17. Manado, ku ingin mengunjungimu kelak…
    adi pradana recently posted…Aduhai Nikmatnya Mie Ayam Goreng MekatonMy Profile

  18. Senang sekali ya bisa berada ditengah masyarakat yang masih berinteraksi dengan alam bebas. Btw mbaa, tulisanmu sangat detail, hebat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge