Wednesday, November 13, 2019
Home » Review and Event » Menanam Bibit Kemandirian Masyarakat di Lingkar Tambang

Menanam Bibit Kemandirian Masyarakat di Lingkar Tambang

Tanah ini sungguh diberkati. Lihatlah sekeliling; tanah nan subur, lautan luas, pantai indah, semua jenis tanaman dapat tumbuh, curah hujan dan panas silih berganti sepanjang tahun, memberi kehidupan bagi penghuninya. Siap untuk dimanfaat dan diolah dengan bijaksana, bukan hanya untuk kehidupan hari ini tapi juga di masa nanti.

Begitulah pikiran yang ada di benak saya setelah tepat satu pekan berada di Kabupaten Sumbawa Barat dalam rangka mengikuti Sustainable Mining Bootcamp 5 yang berlangsung selama sembilan hari dari tanggal 14-22 Februari 2016. Selain mengunjungi dan mempelajari kegiatan tambang, dari penambangan, pemrosesan dan pengelolaan lingkungannya, kami juga mengunjungi beberapa tempat yang menjadi bagian dari program tanggung jawab sosial PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT).

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa prinsip berkelanjutan dari sebuah perusahaan tak lepas dari tiga aspek yang dikenal dengan istilah Triple Bottom Line, yaitu keberhasilan ekonomi, perlindungan terhadap lingkungan dan tanggung jawab sosial. Bagaimana ketiga hal itu dilaksanakan melalui berbagai program tanggung jawab sosialnya, PTNNT mengajak kami melihat dan berinteraksi langsung dengan masyarakat di lingkar tambang.

Mungkin beberapa pembaca sempat singgah ke tulisan saya mengenai tanggung jawab sosial PTNNT di bagian pertama di sini. Jadi tulisan ini adalah bagian kedua yang sengaja saya pisahkan bukan hanya karena alasan akan menjadi terlalu panjang bila dimuat dalam satu tulisan. Namun karena tempat-tempat PTNNT melakukan kegiatan tanggung jawab sosial ini memberikan atmosfer lain yang berbeda yaitu bisa digunakan pula sebagai tempat wisata dibanding tempat-tempat lain yang sudah saya tulis sebelumnya.

Kebun Jeruk Sunkis
Salah satu tempat yang dikunjungi peserta bootcamp adalah Kebun Jeruk Sunkis. Jangan terkecoh dengan namanya ya, di kebun seluas satu hektar ini justru jenis Jeruk Sunkis hanya ada beberapa batang saja. Sebagian kecil lainnya terdiri dari jenis Jeruk Bali, Jeruk Peras. Jenis yang paling banyak di tanam adalah Jeruk Keprok dan Jeruk Siam. Sayang saat kami datang, belum banyak Buah Jeruk yang sudah matang, rata-rata masih kecil-kecil dan berwarna hijau. Tapi buat saya tetap menyenangkan berteduh di bawah pohon dengan Buah Jeruk yang bergelantungan di atas kepala.

Ada sekitar 362 batang pohon yang ditanam di kebun ini. Perawatannya tergolong tidak sulit, hanya perlu disiangi dan diberi pupuk sebanyak tiga kali dalam setahun. Dari satu pohon bisa dihasilkan sekitar 75 kilogram Jeruk. Panen terjadi hanya satu kali saja dalam satu tahun dengan jumlah buah yang dihasilkan sekitar 17 ton sekali panen. Satu kilogram Jeruk dapat dijual dengan harga sekitar enam ribu rupiah. Buah-buah Jeruk yang sudah matang dan dipanen nantinya akan di supply ke PTNNT untuk konsumsi penghuni camp di Town Site Batu Hijau.

Belajar Sambil Bermain di Hutan Wisata Edukatif Lawar
Tempat ini adalah hutan kecil yang dikelola oleh PTNNT menjadi Hutan Wisata Edukatif dan diperuntukkan untuk masyarakat umum. Sebagaimana namanya yang mengandung unsur wisata dan unsur edukatif, tempat ini dilengkapi dengan berbagai jenis tanaman koleksi serta sarana permainan luar ruangan atau outbound. Masyarakat dapat mengunjungi tempat ini tanpa dipungut biaya.

Anak-anak di sini dapat belajar mengenai keanekaragaman hayati dari berbagai koleksi tanaman yang disediakan dan disediakan juga pemandu untuk menjelaskan perihal tanaman-tanaman tersebut. Di tempat ini juga tersedia pondok untuk orang dewasa atau orangtua duduk bersantai sambil memperhatikan anak-anak mereka bermain di area outbound. Alat permainan ini juga bisa digunakan oleh orang dewasa, beberapa peserta bootcamp juga sempat mencobanya lho, dan terlihat menyenangkan.

Saya sempat tersenyum sejenak, mengagumi upaya yang begitu detail dari PTNNT untuk memperhatikan kebutuhan masyarakat lingkar tambang. Bukan hanya urusan bagaimana meningkatkan ketrampilan dan kemampuan untuk berwirausaha namun sampai kebutuhan psikologis dasar manusia untuk bersenang-senang dengan menyediakan tempat wisata yang bernilai yang menyenangkan buat masyarakat lingkar tambang dan keluarganya.

Karena Lautan Adalah Rumah Mereka
Tidak hanya concern di bidang ekonomi kemasyarakatan, PTNNT juga melakukan program konservasi Penyu dengan melibatkan masyarakat lingkar tambang terutama yang berada di pesisir pantai. Harapannya tentu saja selain untuk kelestarian Penyu itu sendiri juga untuk menumbuhkan kepedulian terhadap hewan langka tersebut. Selama ini masyarakat Sumbawa Barat sangat menggemari hidangan Telur Penyu, bahkan kedudukannya hidangan ini sangat terhormat sebagai salah satu jenis hidangan yang dipersiapkan untuk orang yang dianggap penting dan dihormati.

Siang itu, 18 Februari 2016, peserta bootcamp diajak ke Pusat Penangkaran Penyu di Pantai Maluk yang dikelola oleh masyarakat. Pak Arifin Rayes sebagai salah satu pengelolanya mengatakan bahwa, mereka harus membeli telur-telur Penyu ini dari masyarakat agar tidak dijual ke pihak lain untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Telur-telur ini kemudian dipendam dalam pasir di penangkaran hingga telur-telur ini menetas menjadi Tukik, dirawat hingga berusia sekitar sekian bulan dan siap dilepas ke lautan.

Terbayang bila kebiasaan mengkonsumsi telur Penyu ini tidak dihentikan, mungkin anak cucu kita hanya akan mengenal Penyu dari buku atau gambar tanpa pernah melihat langsung. Sekarang saja, saya yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, hanya bisa melihat Penyu yang berukuran besar di Kebun Binatang. Tak pernah lagi melihat hewan ini di habitat aslinya kecuali yang terdekat di Pulau Penyu di Bali. Padahal usia hidup Penyu sangat panjang lho, bisa mencapai puluhan tahun, bahkan ratusan tahun.

Tak hanya bermasalah dengan manusia, keberadaan hewan yang termasuk hewan purba ini juga sangat dipengaruhi oleh seleksi alam yang begitu ketat. Bayangkan saja, dalam satu kali bertelur, Penyu betina mampu menghasilkan ratusan telur. Namun, setelah menetas menjadi Tukik dan memulai kehidupannya di lautan belantara, kemungkinan hidup mereka untuk menjadi Penyu dewasa hanyalah 1:1000.

Itulah mengapa saya sempat merasa trenyuh dan sentimentil saat melepas Tukik di Pantai Maluk sore itu. Tukik kecil nan lucu itu antusias menuju laut dan menghambur ke dalam ombak yang memecah di bibir pantai. Apakah ia akan bertahan hidup dan lolos dari predator-predator alam yang jauh lebih besar dan lebih kuat di lautan luas sana sehingga ia akan kembali pada masa bertelur tiba ke pantai ini.

Saya tak sempat menelisik kedua Tukik yang saya lepas pada hari itu, entah jantan ataukah betina. Saya berharap mereka adalah satu dari seribu tukik yang bertahan hidup menjadi dewasa. Ia akan kawin dan kembali ke pantai di mana dulu ia dilahirkan untuk bertelur.

Serenyah Rumput Laut kertasari
Menjejakkan kaki di perkampungan pesisir Pantai Kertasari membawa kesenangan tersendiri buat saya. Pemandangan di daerah ini sangat unik, khas perkampungan di pesisir pantai. Rumah-rumah panggung dan hamparan rumput laut yang sedang dikeringkan tampak berserak di halaman hingga ke jalan. Di bawah terik matahari Sumbawa, anak-anak kecil berlarian di pinggir jalan kecil berpasir, sementara beberapa ibu dan anak gadis terlihat tekun menyiangi rumput laut kering di rumah.

Selain masyarakat asli Sumbawa, sebagian besar penduduk di Desa Kertasari di Kecamatan Taliwang ini berasal dari Makassar, Sulawesi Tenggara. Mereka sudah puluhan tahun menghuni desa ini dan beberapa diantaranya sudah mencapai generasi yang ke-4. Mata pencaharian mereka dahulu adalah nelayan dan pengrajin kain tenun. Namun sejak tahun 2009, PTNNT membangun infrastruktur di sini dan mengajarkan mereka budidaya Rumput Laut.

Penduduk di sini belajar dengan cepat dan bisa dikatakan, diantara desa-desa lain di bawah binaan PTNNT dan Pemda setempat, Desa Kertasari adalah desa yang paling cepat belajar dan kini sudah menjadi desa yang mandiri dengan budidaya Rumput Laut sebagai mata pencarian yang utama. Bahkan kini, mereka tak hanya menjual Rumput Laut sebagai bahan mentah namun juga telah mampu memproduksi berbagai makanan olahan dengan bahan baku Rumput Laut yang dikemas dengan baik seperti Dodol Rumput Laut, Agar Rumput Laut hingga Stick Rumput Laut.

Bukan hanya itu, tahun 2015 yang lalu di desa ini juga dibangun Pabrik Pengolahan Karagenan –istilah lain untuk Rumput Laut—yang hasilnya disuplai ke P.T. Ocean fresh sebagai bahan baku kosmetik, obat-obatan dan personal care. Masih ingat kelompok usaha VCO di bawah binaan PTNNT yang saya ceritakan di sini? Nah VCO dan olahan karagenan inilah yang kelak bersama bahan baku lainnya menjadi produk-produk personal care seperti sabun, shampoo, odol hingga body lotion.

Rantai ekonominya juga tertata apik, masyarakat Desa Kertasari telah memiliki koperasi yang mengurusi rantai distribusi ekonomi produksi Rumput Laut mereka sehingga Rumpu Laut mereka memiliki nilai jual dan pemasaran yang jelas. Produktivitas budidaya Rumput Laut di sini juga cukup tinggi. Bayangkan, setiap kali panen, koperasi ini bisa memasok hingga 90 ton Rumput Laut kering dari masyarakat ke PT. Ocean Fresh.

Rumput Laut ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi di pasaran. Per kilogram Rumput Laut kering bisa mencapai 7.000 rupiah, bahkan sebelumnya bisa mencapai 10.000 rupiah per kilogram. Masa tanam Rumput Laut hingga bisa dipanen hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 hari, dan petani bisa panen hingga lima kali dalam setahun. Tak heran bila secara perlahan penduduk Desa Kertasari beralih menjadi petani Rumput Laut. Para perempuan sudah jarang yang menenun karena sebagian besar waktunya sudah digunakan untuk mengurusi Rumput Laut dengan hasil yang secara nyata sudah dirasakan memberikan kehidupan yang layak buat mereka.

Rumput laut ini ditanam dengan cara diikatkan satu persatu dengan jarak tertentu pada satu lajur tali sepanjang 10 meter yang mereka sebut ris. Rata-rata dalam 100 ris bisa menghasilkan sekitar 20 kuintal Rumput Laut Kering. Jadi dengan mudah dihitung bila setiap keluarga rata-rata memiliki sekitar 300 s.d. 500 tali ris, maka tinggal dikalikan saja berapa kuintal Rumput Laut yang mereka hasilkan sekali panen. Tentu saja hasil bersihnya harus dikurangi dengan biaya produksi terutama untuk upah tenaga kerja yang membantu mengikat, menanam, membersihkan ris-ris, menjemur dan menyiangi Rumput Laut kering.

Hasilnya terlihat jelas di desa ini. Meski tidak mewah, tapi saya melihat kebersahajaan di sini. Rumah-rumah yang berjajar rapi, lingkungan yang bersih jauh dari kesan kumuh, interaksi antar masyarakat yang harmonis dan anak-anak yang sehat riang bermain. Bahkan dari salah satu sumber saya dapatkan informasi bahwa beberapa penduduk Kertasari mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga tingkat perguruan tinggi di Mataram. Saya pikir ini salah satu indikator pertumbuhan ekonomi di desa ini.

Melihat bagaimana penduduk Desa Kertasari berproses hingga menjadi mandiri seperti ini, sungguh mendatangkan asa penuh dalam benak. Kekhawatiran yang selalu menyelinap di segala bentuk perhatian PTNNT untuk masyarakat lingkar tambang saya coba tepis dengan sebuah harapan. Semoga satu per satu desa dan kelompok usaha yang dibina, diberi bantuan, dan didampingi selama ini oleh PTNNT mulai meniru jejak kemandirian masyarakat Desa Kertasari.

Segala infrastuktur dan fasilitas telah diberikan, tinggal bagaimana mengelola dan mengembangkannya. Dan di tahap ini, masyarakat sendirilah yang harus mengambil alih tanggung jawab dirinya. Bila kelak saatnya tiba Newmont Nusa Tenggara harus mengakhiri kegiatan tambangnya di Batu Hijau, masyarakat lingkar tambang telah mampu menghidupi dirinya sendiri, tetap membangun dan terus melangkah, maju ke depan.

Semesta menggenapi… aamiin

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Kulit Kering dan Tumit Pecah-pecah? Ternyata Gampang Mengatasinya!

Kulit kering dan tumit pecah-pecah itu bagi saya bukan hanya sekedar mengganggu penampilan namun juga mengganggu ...

13 comments

  1. Avatar

    Masyarakat lingkar tambang ini agak susah mandiri nya terutama yg di ring 1 nnt. Karna apa2 tinggal minta dan kalo ngak di kasih bakal murka hahaha. Tp semoga saja pasca tambang nanti mereka siap
    cumilebay recently posted…Merinding “Shalawat BADAR” Menggema Di AmperaMy Profile

  2. Avatar

    Tulisan yang informatif Mbak Donna. Semoga semesta menggenapi warga lingkar Tambang ya. Amin

  3. Avatar

    Wah, saya pasti juga akan ngrasa sentimentil kalau melepas penyu 🙂
    Aprillia Ekasari recently posted…Waspadai Penyakit Pembunuh Wanita Nomor Satu di Indonesia!My Profile

  4. Avatar

    Waktu di Kertasari, gegara keasyikan futu-futu narsis aku melewatkan mengambil gambar aktivitas petani rumput laut..Terutama yang memproses rumput laut kering. Sekarang merasa keterlaluan deh …
    @eviindrawanto recently posted…Membangkit Ekowisata Berbasis Masyarakat Kabupaten Sumbawa BaratMy Profile

  5. Avatar

    Mungkin inilah salah satu penyebabnya tambang newmont adem ayem karena mereka sangat peduli dengan lingkungan sekitar dan penduduknya. Kalau semua perusahaan besar seperti ini saya kira rakyat Indonesia akan senang menerima dimanapun mereka mau berusaha.
    Alris recently posted…Hati-hati Menerima BarangMy Profile

  6. Avatar

    Masyarakat yang kehidupannya spesifik ya mba> Aku jadi ingat novel yang di filmkan laskar Pelangi.
    Edukasi yang berkesinambungan mungkin akan menumbuhkan kemandirian itu

  7. Avatar

    langkah PT NNT memang sgt bagus untuk menyadarkan dan mengarahkan pentingnya kemandirian. Salut..

    tulisannya apik Bunda.. Sukaaa.. 😀

  8. Avatar

    Seru banget ya mengajarkan anak buat sayang sama alam.. keren bunda..
    willova recently posted…Satchel Bag Maika Hadir Dengan Kualitas PremiumMy Profile

  9. Avatar

    senang sekali dengan pemaparan ini, bentuk CSR yang sangar memberdayakan dalam membentuk kemandirian masyarakat

  10. Avatar

    Duh, senengnya punya kesempatan meliput sedalam ini. Kapan ya saya bisa punya kesempatan seperti ini. Kalau wisata sendiri sepertinya tidak mungkin.

    Sustainability, green industri, CSR sekarang lagi gencar dilaksanakan para pelaku industri ya Mbak. Memang begitu seharusnya. Keberadaan industri jangan sampai menimbulkan kesenjangan di lingkungan sekitar tempat industri beroperasi.
    Levina Mandalagiri recently posted…Mengenal Sejarah, Budaya & Tradisi Palembang di Museum Sultan Mahmud Badaruddin IIMy Profile

  11. Avatar

    Aaaahhh rumput lauut! Salut sama perusahaan dan masyarakat tentunya. Saling bersinergi satu sama lain

  12. Avatar

    Manteps pengalamannya mba’…
    Travelling seolah olah menjadi nafas bagi blogger… hehe.. sip .

  13. Avatar

    makasih atas infonya, menjadi semngat menjalani hidup, untuk mengembangkan potensi UMKM desa saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge