Saturday, November 18, 2017
Home » Perjalanan Jiwa » Melintas Lorong Waktu di Hari Guru
P2190030

Melintas Lorong Waktu di Hari Guru

Melintas Lorong Waktu di Hari Guru – Di pagi yang basah ini, saya berjalan memasuki lorong waktu. Kembali ke masa dimana sekolah itu artinya adalah bermain. Saya mencoba mengingat nama guru Taman Kanak-Kanak saya. Upaya yang tak sepenuhnya berhasil, karena saya hanya mampu mengingat kegembiraan yang saya rasakan setiap hari kala itu.

Namun satu hal yang saya rekam jelas, di masa inilah landasan kokoh hidup saya diletakkan. Di fase ini saya menemukan kegemaran menulis dan membaca. Begitu senangnya saya menorehkan ujung pensil saya di atas kertas bergaris untuk menuliskan aksara meski sebatas huruf dengan metode halus kasar. Di fase ini juga saya menemukan kesukaan terhadap buku. Memiliki minat yang besar terhadap banyak hal membuat saya ingin cepat-cepat bisa membaca. Sementara anak-anak seusia saya kala itu baru belajar mengeja huruf, saya sudah mampu melahap kalimat demi kalimat di majalah anak-anak. Terimakasih guruku…

Masih dalam perjalanan melalui lorong waktu, masuk ke masa seragam putih merah. Melewati 6 tahun pendidikan dasar di tiga sekolah di kota yang berbeda, Lampung, Jakarta dan Aceh membuat saya memiliki banyak guru. Meski guru-guru saya itu memiliki karakter dasar yang berbeda-beda, tapi mereka semua saat itu rasanya menorehkan kesan yang sama, berkharisma, disiplin, banyak tahu dan jadi panutan.

Perasaan yang sama yang dialami putri-putri saya saat Sekolah Dasar. Di fase itu, guru benar-benar digugu lan ditiru. Apa yang dikatakan guru selalu yang paling benar. Petuah yang disampaikan guru bagai kalimat sakti yang harus ditaati. Bahkan terkadang, saat membantu anak-anak belajar di rumah -mengerjakan pekerjaan rumah misalnya, orangtua pun harus mengalah bila ternyata cara yang digunakan berbeda dengan cara yang guru mereka ajarkan. Yang diajarkan di sekolah oleh guru adalah yang paling tepat menurut anak-anak. Terimakasih guru…

Sedikit berbeda saat memasuki usia pubertas di sekolah menengah pertama. Ketika lorong waktu membawa kenangan ke masa putih biru tua ini, saya tersenyum simpul. Remaja labil mulai mencari jati diri. Ada saja cara untuk tampil berbeda agar menjadi pusat perhatian. Tak jarang lebih memilih hal negatif agar terlihat keren dan jadi terkenal.

Di fase ini, peran guru mulai bergeser, dari yang serba hebat menjadi lawan kucing-kucingan. Sudah jelas aturan harus pakai sepatu hitam, yang dipakai malah sepatu hitam belang putih. Senam di lapangan sekolah sebelum belajar agar sehat, malah menggerakkan tubuh dengan malas. Tidak boleh membawa bacaan selain buku pelajaran sekolah, malah bawa majalah remaja. Pekerjaan rumah malah dikerjakan di sekolah, berlomba-lomba menyontek pekerjaan teman sebelum bel tanda masuk kelas berbunyi. Alhasil, selalu kucing-kucingan dengan guru supaya tidak ditegur atau dimarahi. Hiks, maafkan kami guru…

Puncaknya ada di masa putih abu-abu. Kalo gak mepet bel masuk sekolah rasanya gak perlu bergegas berangkat. Lari-lari mengejar gerbang sekolah sebelum ditutup jadi kegembiraan tersendiri. Bahkan hukuman di jemur di lapangan beramai-ramai jadi kegiatan yang menyenangkan. Ada keasyikan tersendiri saat curi-curi waktu untuk ngobrol saat guru menerangkan, juga curi-curi jawaban saat ujian berlangsung. Curi-curi bacaan terlarang atau curi-curi pandang ke arah cowok yang lagi jadi incaran. Ah, kenakalan remaja model jaman dulu.

Tapi herannya, meski guru-guru itu ada yang galak, tapi mereka tidak pernah membenci kami murid-muridnya meski beragam kenakalan kami lakukan. Seolah sabar mereka tak ada habisnya. Bila kemarin kami dimarahi karena berbuat onar, esok pagi saat kami berjumpa lagi, senyum tulus mereka pasti menyambut kami di muka kelas. Tak ada istilah lelah membimbing, meski kenakalan yang sama kerap kami ulangi.

Ada juga guru muda yang jadi sasaran empuk kami. Di mata kami, guru muda, dan masih kaku dalam mengajar adalah obyek menarik untuk digoda. Pura-pura bertanya untuk menarik perhatian, atau sengaja berbuat onar sekedar unjuk keberanian. Hmmm… maaf ya pak guru.

Belum lagi kebiasaan guru yang kami anggap aneh. Misal berulangkali mengucapkan kata “ya” saat menerangkan. Alih-alih menyimak dengan baik apa yang dijelaskan, kami malah sibuk bikin tabulasi berapa kali ia mengatakan kata “ya” selama dua jam pelajaran. Haduh…

Tapi apa pun yang kami lakukan dan rasakan selama sekolah rasanya tak ada yang sia-sia. Keonaran yang kami lakukan adalah semata kenakalan remaja seusia kami. Sehingga, semua yang kami dapatkan dari rangkaian panjang pendidikan masa sekolah di bawah bimbingan para guru itulah yang menjadi bekal langkah kami hingga hari ini.

Guru mengajarkan kami banyak nilai-nilai kehidupan yang terintegrasi dalam proses belajar mengajar. Mengajarkan kami budi pekerti dalam interaksi antara guru dan murid. Tanpa nilai-nilai kejujuran, disiplin, kerja keras, tekun dan mandiri, mungkin kami tidak berada di posisi sekarang. Meski apa yang diajarkan tidak semua dampak positifnya kami rasakan saat itu, tapi semua terakumulasi baik dan mewujud dalam kehidupan nyata kami sampai sekarang.

Terimakasih guru-guruku…

Tanpamu… apa jadinya aku.

 

 

pagi yang basah

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

4 comments

  1. Test comment luv hehehe
    Evi recently posted…Pesona Taman Nasional Bukit Barisan SelatanMy Profile

  2. donna imelda

    yeaaayyy… sudah bisaaaa. Makasih Mbak Vie…. *tebar2 lope ke udara
    donna imelda recently posted…melintas lorong waktu bersama guruMy Profile

  3. Selain orang tua, guru memang jadi panutan yang melukiskan banyak kisah..hehe

    Kayaknya, cerita diatas, akupun mengalaminya.
    jadi kangen masa2 sekolah..hehe

  4. Mbaaak, itu poto anak2nya lucu2 bgt, cakep-cakep..hehe
    Melly recently posted…Kami Memanggilmu, EmakMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge