Thursday, November 23, 2017
Home » Family and Parenting » Masih Terus Belajar…di Tahun ke-12
tahun ke-12

Masih Terus Belajar…di Tahun ke-12

Alhamdulillah…penuh syukur meski rasa belum penuh, bahwa di bulan Juli 2009 ini perkawinan kami menginjak usia 12 tahun. Tak ada rencana spektakuler yang di rancang kecuali hanya ingin berdua, intropeksi dan meluruskan ordinat biduk perkawinan agar tak sesat di samudra luas kehidupan.

12 tahun berlayar bersama tak sepenuhnya digunakan untuk memahami lautan, perlu sepuluh tahun untuk kami sepakat menentukan ke mana arah berlayar dan bagaimana perahu dikemudikan. Baru setelah satu dekade mau belajar untuk menjadi partner yang solid dibawah satu nakhoda menuju arah dengan melalui rute yang sama untuk mencapainya. Tak heran bila terasa ini bukan di tahun ke dua belas tapi bagai baru saja kemarin malaikat turun dari surgawi memberkati dua anak manusia yang menyempurnakan ibadahnya.

Bukan mencari orang yang tepat namun belajar menjadi orang yang tepat.
Kilau kemilau kehidupan acap melenakan kita dari syukur terhadap apa yang Sang maha beri buat kita. Dengan sombong bertanya tentang keadilan -Nya, mengapa yang terbaik itu ada diluar sana dan menjadi milik orang lain. Lupa bahwa apa yang terbaik menurut manusia ada dalam format yang berbeda dalam kreasi sempurna Sang Kreator. Keterbatasan manusia dan kebodohan membatasi persepsi dalam format tersebut. Dengan sombong pula bertanya tentang takdir-Nya, dan lupa bahwa Tuhan sering memberi bukan apa yang kita minta tapi apa yang kita butuhkan. Dan apa yang kita butuhkan meski bukan seperti dangkalnya pemikiran manusia yang banyak meminta, sebenarnya sudah diberikan kepada kita.
Maka…seharusnya belajar lah menjadi orang yang tepat.

Simplify ur life, dont sweat small stuff, but keep dreaming
Belajar untuk tetap menginjak bumi meski harapan dan doa dilambungkan sampai ke langit ke tujuh. Selama manusia hidup, permasalahan tidak akan pernah mampu kita hentikan. Kami perlu belajar untuk memilah mana yang pokok masalah dan mana yang ranting2 masalah. Terkadang ranting2 itu meski kecil tapi tajam, terasa menusuk dan perih namun mudah untuk dipatahkan bila kita segera patahkan dan tidak membiarkannya menjadi dahan besar yang menghalangi langkah kita.

Dalam sebuah seminar kami belajar tentang masalah dalam sebuah analogi. Bila permasalahan hidup kita itu dianalogikan dengan sejumlah batu yang berbeda-beda ukuran maka kita akan memiliki begitu banyak batu dalam hidup kita. Lalu kita akan mengatakan bahwa kepala ku sudah tak mampu lagi berpikir karena sudah begitu banyak batu dalam kepala ku dan tak mampu lagi menampung. Sehingga aku tak mampu memikirkan batu-batu lain yang masih diluar kepalaku.
Bila kepala kita itu dianalogikan sebagai sebuah cawan, maka cawan itu sudah penuh dengan batu. Lalu bagaimana dengan batu2 yang masih diluar tersebut. Coba keluarkan kembali batu2 yang sudah ada dalam cawan tersebut….pilah2 berdasarkan ukurannya dan masukkan kembali kedalam cawan. Bila kita memasukkan yang berukuran kecil terlebih dahulu maka batu besar akan kehabisan tempat, tapi bila batu besar terlebih dahulu maka kerikil2 dan pasir2 masalah tetap bisa masuk. Maka nilai moralnya adalah selesaikan dulu masalah terbesar atau batu besar nya maka kita akan mampu menyelesaikan masalah kecil dengan mudah, bukan sebaliknya, kehabisan energi dengan masalah kecil namun masalah besar tidak akan pernah selesai. Dan jangan melihat bahwa kerikil itu adalah batu.

Belajar untuk membuat daftar kebaikan bukan daftar keburukan, melihat dari sudut pandang yang sama, kami belajar untuk memaafkan, aku belajar melihat pasangan sebagaimana dirinya, bukan sebagaimana dia menjadi apa yang aku, kita atau orang lain inginkan. Melihat kebaikan pasangan akan membuat kita bersyukur terhadap apa yang kita miliki dan bergerak dalam koridor yang benar dengan sabar dan ikhlas. Kebaikan yang dilakukan seseorang hanya mampu kita lihat bila kita melihat dari arah yang sama. Gambaran tujuan yang diharapkan bisa berbeda dengan obyek yang sama. Sehingga dengan pola ini kita sering sulit menangkap maksud baik orang lain atau tak mampu melihat tujuan yang akan dicapai. Bukan kah kita akan melihat gambar yag berbeda saat melihat mata uang dari sisi yang berbeda padahal objek dan nilainya sama.

ah…tak cukup waktu untuk menuangkan semua yang harus aku pelajari, belajar sabar, belajar mengantongi ego, belajar ikhlas, belajar rendah hati, belajar bersyukur, belajar memaafkan, belajar hidup diatas takdir dengan sebaik mungkin.

Goal kami sederhana : kami mampu mencapai point point hidup kami selalu dalam keadaan lebih baik. Bukan kah sebaik-baiknya manusia adalah bila esok dia lebih baik dari hari ini.
Bukan lebih baik dari orang lain namun lebih baik dari apa yang kita mampu capai sebelumnya

Kami berharap masih ada tahun-tahun ke-13, 14, 15, 25, 50 dst nya dimana kami bisa melihat kembali seluruh perjalanan yang telah kami lalui di tahun2 sebelumnya, dan penuh rasa syukur kami bisa lalui dan melihat kami tumbuh lebih baik di setiap fasenya.
amiiin

Lembah Nirmala
24072009
adofani

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P8140535 - Copy

traveling asyik dimata anakku, lagu rindu sang bunda di bibir anaknya…

 Karena lagu yang tinggal diam di dalam hati seorang ibu, bernyanyi diatas bibir anaknya. Cuplikan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge