Home » Cerita di Balik Kisah » Lelaki Yang Sama #ArgaSeries #4
p20120517-102803

Lelaki Yang Sama #ArgaSeries #4

Kereta melaju kencang meninggalkan Stasiun Universitas Indonesia saat jam tanganku menunjukkan pukul sembilan pagi di suatu hari Senin. Mengambil tempat ternyaman di sudut gerbong pertama khusus wanita, kereta ini akan membawaku melewati stasiun demi stasiun selama kurang lebih setengah jam ke depan menuju stasiun terakhir kereta ini yaitu Stasiun Bogor. Aku kembali menghidupkan layar ponselku, melanjutkan pembicaraan hangat melalui BlackBerry Messanger dengan seorang teman lama di peron tadi yang terhenti oleh pengumuman petugas melalui pengeras suara bahwa kereta akan segera tiba.

“Thanks ya Adis, sudah repot-repot menyiapkan segala sesuatu untuk reuni kemarin. Gak sia-sia aku datang dari jauh ke Jakarta untuk berkumpul dengan kalian, sungguh aku senang sekali”

Seorang teman lama membuka pembicaraan, seolah tak cukup waktu tuk bercerita di pertemuan kemarin, pembicaraan pun bersambung sampai hari ini. Begitulah euforia sebuah perjumpaan, terlebih untuk sebuah reuni yang mempertemukan orang-orang yang sudah puluhan tahun tak bertemu. Teman masa kecil ku ini masih ingin bercerita rupanya, dan ia berhasil membawa ku sejenak kembali ke sebuah kota kecil di ujung Sumatera di tahun delapan puluhan, saat kami berdua bersekolah di tempat yang sama waktu itu, tempat dimana masa-masa seragam yang kami pakai masih berwarna merah putih sampai putih biru.

Kami banyak menghabiskan waktu bersama layaknya anak sekolah kala itu, acapkali berangkat dan pulang bersama mengendarai sepeda roda dua. Rumahku yang lebih jauh jaraknya dari sekolah membuat aku lebih sering singgah di rumahnya yang kebetulan searah dengan jalan menuju ke sekolah untuk sekedar menjemput atau mengajaknya bermain sepulang sekolah. Kami memang bersahabat karib.

Tapi bukan hanya itu yang membuat obrolan kami hangat. Ada cerita lain yang ia sampaikan yang membuat aku terus meladeninya berbincang. Aku sedang mengorek sesuatu, ingin tau lebih jauh, sesuatu yang membuat jantungku berdetak lebih kencang saat ini, ia sedang membicarakan seorang pria yang sama kami kenal baik. Lalu aku pun menyimak baik-baik, kalimat demi kalimat yang dituturkan teman baikku ini.

"Kamu tau dis, dia memang tidak datang ke acara reuni itu. Padahal sebelum terbang ke Jakarta aku sudah memberi tahunya bahwa aku akan hadir di acara Reuni Akbar sekolah kita. Aku pun sudah bolak balik mengatakan bahwa belum tentu sepuluh tahun sekali aku bisa datang ke Jakarta dan bertemu dengannya, tapi sampai acara selesai ternyata dia betul-betul gak datang. Aku sempat kecewa dan tak habis pikir mengapa ia tak ingin datang untuk bertemu dengan teman-teman lainnya. Ada masalah apa ya, dis?

Aku hanya menjawab singkat, “duh…aku pikir dia sedang tugas keluar kota seperti biasanya, jadi aku tak heran bila ia tak bisa datang”

Aku pikir bukan itu sebabnya dis. Dia sedang tidak bertugas kok. Malam hari setelah acara reuni selesai, ia mendatangiku.

Oh ya? Aku setengah terkejut

Iya dis…ia datang menemuiku malam tadi, kami ngobrol lama di sebuah restoran tak jauh dari tempatku menginap, berbincang tentang banyak hal waktu kita masih bersama. Kamu masih inget jaman kita kecil dulu? Waktu kita bertiga sekolah di tempat yang sama. Banyak hal lucu dan menarik yang kami perbincangkan. Kamu tau dis salah satu hal menarik yang ia katakan? Malam itu ia baru saja mengatakan hal yang selama ini dia pendam, sedikit aneh sebenarnya untuk perempuan seumur kita membicarakan urusan yang satu ini, setengah percaya aku mendengarkannya bahwa ternyata aku adalah cinta pertamanya. Aku tentu saja tertawa tak percaya tapi ia mengatakan dengan sangat serius, sedemikian serius hingga aku terbawa suasana ketika dia mengatakan masih menyimpan rasa itu. Ini gila khan dis?

Ya, ini memang gila, ucapku dalam hati. Aku mulai tersenyum kecut, berusaha menghalau resah yang makin mengganggu. Untung saja kami tak berbincang berhadapan sehingga perempuan ini tak perlu membaca air mukaku yang masam. Aku masih terus melayani perempuan ini berceloteh, membiarkannya bicara banyak tentang kenangan dan potongan-potongan puzzle masa lalu, seolah ingin memastikan dirinya sendiri bahwa tadi malam ia disodori potongan puzzle hidupnya yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya tentang cinta. Perempuan ini menikmati jalan cerita yang baru saja dituliskan laki-laki itu di hidupnya.

Aku semakin gelisah membayangkan pertemuan mereka. Mencoba mendapat gambaran suasana saat mereka berdua berbincang. Duduk bersisian ataukah berhadapan, saling memandang atau sama serba salah, lalu berpegangan tangan dan diakhiri dengan kecupan hangatkah? Sebuah gambaran yang lekat dalam ingatanku meski dua tahun sudah berlalu. Kepalaku terasa limbung, mendadak aku kehilangan sebagian kewarasanku

Aku menarik nafas panjang meredakan keterkejutanku. Bagaimana tidak, aku sedang berhadapan dengan kenyataan bahwa kami mengalami cerita yang persis sama, alur yang sama, bahkan dengan kata-kata yang nyaris tiada berbeda, dari pria yang sama…..pria yang sangat kukenal saat ini,….Arga.

 

Pukul dua dini hari,

bulan Juni yang tabah

2013

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_1018

Yang Pertama Buatmu, Bukan Hanya Aku #ArgaSeries #5

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, seolah menopang isi kepalaku yang mendadak sarat oleh pengakuan ...

2 comments

  1. hihihi baru baca, seperti biasa aku akan menebak-nebak lalu bertanya padamu 😉

  2. Aaah baca ini lagi. Sialan… banyak betul cinta pertamanya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge