Thursday, November 23, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Kritik: Kepuasan Pribadi atau Tindakan Korektif
P_20141213_161913_1

Kritik: Kepuasan Pribadi atau Tindakan Korektif

Saat mengkritisi sesuatu, sudahkah dipikirkan sebelumnya apakah tindakan kritik ini adalah murni sebuah tindakan korektif atau sekedar memenuhi ego anda. Pertanyaan ini sering melintas dalam benak saya setiap timbul rasa ingin mengomentari sesuatu yang bernada kritik, entah melalui ucapan verbal atau dalam bentuk kata-kata seperti yang sering kita lakukan di sosial media.

Dari berbagai literatur yang saya baca, hampir semua mengatakan bahwa tak seorang pun suka dikritik. Apalagi kritik tersebut dilontarkan hanya untuk memenuhi ego diri. Banyak dari kita yang terkadang tanpa sadar karena tidak menyukai seseorang atau sesuatu hal, kritik kita sesungguhnya bukanlah sebuah tindakan korektif namun sebuah pelampiasan kekesalan atau amarah.

Dalam kritik yang seperti ini bisa bermacam-macam kandungannya, ada yang mengandung perintah, peringatan, bahkan merupakan sebuah hukuman. Kritik yang seperti ini juga terkadang adalah sebuah upaya memaksakan ide atau keinginan pada pihak lain. Sungguh sebuah tindakan yang hanya melahirkan kepuasan ego belaka.

Lalu pertanyaannya, kalau memang ada yang harus dikritik bagaimana? Ya sampaikan saja, namun pastikan dulu niat anda benar-benar sebuah tindak korektif, bukan seperti yang saya gambarkan di dua paragraf di atas. Dan itupun, ada caranya lho, supaya esensi dari kritik kita sampai atau dipahami oleh pihak yang kita kritik.

Saya suka dengan uraian tentang 7 cara terampil mengkritik yang ditulis oleh Les Giblin di bukunya yang berjudul Skill with People. Saya mencoba menguraikannya dalam tulisan di bawah ini. Mudah-mudahan bermanfaat ya.

  1. Jangan Pernah Mengkritik di Depan Umum. Mengkritik seseorang di depan umum sama saja dengan mempermalukan seseorang. Lakukanlah kritik secara pribadi lamgsung ke orangnya tanpa perlu orang banyak tahu.
  2. Mulailah Kritik dengan Kata dan Pujian yang Baik. Menciptakan suasana yang bersahabat akan membuat kritik kita lebih mudah diterima. Ingat bahwa bagaimanapun kritik itu tidak menyenangkan bagi yang dikritik, lakukan sehalus mungkin agar “cubitan” anda tidak terlalu menyakitkan.
  3. Kritik Perbuatannya, Bukan Orangnya. Ini paling sering terjadi dalam persoalan mengkritik. Sering ditemukan kasus kita tidak dapat membedakan apakah yang kita kritik itu perbuatannya atau orangnya. Ingat bahwa setiap orang adalah unik, dan punya cara yang berbeda dalam setiap perilakunya. Ada beda yang jelas di antara dua kalimat ini. “Kamu tuh harusnya begini bukan begitu” dengan “menurutku, sepertinya hal ini bisa dilakukan dengan cara begini, bagaimana menurutmu?”
  4. Beri Solusi atau Jawaban. Mengkritik tanpa memberi solusi sungguh adalah perbuatan yang tidak bijaksana dan tidak berganggungjawab. Pikir dua kali sebelum mengkritik, apakah kita bisa melakukan lebih baik, apakah kita punya cara yang lebih baik. Kalau iya, silahkan sampaikan kritik lengkap dengan solusi dan jawaban yang benar.
  5. Tidak Menuntut, Mari Bekerja Sama. Dalam sebuah tim atau sekelompok orang, sikap seperti ini mutlak diperlukan. Seorang good team player tidak akan menuntut orang lain melakukan apa yang ia inginkan. Sebagaimana pada poin 4 di atas, seorang good team player yang baik sudah siap dengan solusi dan jawaban saat mengkritik dan siap melakukan perbaikan atau tindaka  korektif bersama-sama. Bukan hanya membebankan permasalahan pada pihak lain dan menuntut orang lain yang melakukan tindakan korektif.
  6. Satu Kritikan untuk Satu Pelanggaran. Cukup sekali saja melakukan kritik. Kalau kritik anda tidak menghasilkan perubahan atau tidak dapat ditangkap inti permasalahannya, coba koreksi diri apakah kita sudah melakukan kritik dengan cara yang benar. Mungkin ada cara kita yang salah dalam mengkritik.
  7. Akhiri Kritikan dengan kalimat yang bersahabat. Bagaimanapun, membina hubungan yang baik dengan lebih banyak orang secara berkesinambungan itu penting. Biasakan setelah mengkritik, akhiri dengan kalimat yang bersahabat dan menyenangkan. Ingat bahwa kritikan yang telah anda lakukan mungkin telah menyentuh harga diri seseorang. Kalau perlu tepuk pundaknya, atau bersalaman bahkan kalau hubungan anda dekat, peluklah agar yang dikritik merasa lebih nyaman.

Saya pribadi sudah lama sekali memutuskan untuk berhenti mengkritik. Kritik yang saya lakukan selektif sekali, hanya dilakukan apabila diminta, atau dalam konteks pekerjaan yang memang perlu direvisi menjadi lebih baik dan memang sebuah tindakan korektif. Kalau hanya sekedar memenuhi ego saya karena tidak suka dengan cara yang orang lakukan, saya akan berusaha menahan diri.

Selama yang orang lain lakukan itu soal selera, dengan karakter yang memang ia punya, tidak merugikan orang lain, tidak menimbulkan bahaya apalagi menyebabkan kematian, biarkan sajalah. Berbeda itu adalah sebuah keniscayaan, kita nggak harus punya cara yang sama dalam banyak hal atau tindakan dengan orang lain.

Pengalaman dari perilaku akan membantu seseorang untuk bertumbuh, seleksi alam akan bekerja. Begitu pula kita. Lakukan saja yang terbaik sebagai pribadi sesuai dengan karakter masing-masing. Jangan buru-buru mengkritik seseorang meski menurut anda ada yang patut dikritik. Beri ruang untuk seseorang bertumbuh dan belajar dari pengalamannya sendiri.

Daripada mengubah seseorang dengan kritik, lebih baik miliki kredibilitas dan kemampuan yang layak dicontoh, menyentuh hidup orang lain dengan tindakan nyata, menginspirasi orang lain dengan prestasi dan dari situ seringkali terjadi, begitu banyak hidup orang lain yang menjadi lebih baik dan berubah karenanya tanpa perlu dikritik.

Selamat bertambah bijak….

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

12 comments

  1. paling sebal kalau ada yang kritik tanpa solusi. Kalau ngomong langsung sih nggak masalah, tapi kalau nyindir-nyindir doang yah~ biasanya dicuekin aja 🙂
    Fahmi recently posted…Jelajah 7 Destinasi Terbaik Negeri Seribu Sungai, Kalimantan!My Profile

  2. Aku menghindari banget mengkritik teman, Mbak Don. Baik secara personal maupun, apa lagi sosmed. Aku juga gak suka nyindiri-nyindir. Soalnya aku gak suka jika seseorang melakukan hal itu padaku. Singkatnya gak maumencubit karena tak suka dicubit. Kurang bagus sih sebetulnya, teman-teman tak ada yg berkembang berteman denganku. Tapi mau gimana lagi itu bukan gaya yang aku suka 🙂
    Evi recently posted…Jalan-Jalan ke Petilasan Nyi Roro KidulMy Profile

  3. Terima kasih untuk tulisan ini. Saya suka banget! Sarapan pagi ditemenin tulisan ini terasa nikmat. Harus belajar banyak ini. Mulut dan jempol kadang susah dicegah buat “komen” 🙂

    Tingkiyuuuu, Mamaaaakk!

  4. Setujuuu mbaaa. Aku ga begitu suka nyinyirin orang. Kalau mau kritik kadang berusaha sehalus mungkin, karena pada dasarnya ga ada orang yang suka dikritik. Kecuali dibantu menjadi lebih baik :).
    Yang aku belum bisa ketika mengoreksi atau ngomel ke anak2, kadang2 masih suka ga fokus. Hahaha

  5. wah keren banget templatennya. jadi pengen nih punya template kyak gini btw salam kenal
    sutopo blogger jogja
    sutopo recently posted…By: sutopoMy Profile

  6. Kritik dan nyela, bedanya setipis kertas. Hanya yang melontarkan yang tahu bedanya :))) Makanya harus bijak.
    RedCarra recently posted…Teman Khayalan – Berbahayakah?My Profile

  7. kata temen-temen, saya klo ngomong ‘pedes’ banget. padahal gak maksud jadi orang pedes, cuma kebiasaan di rumah emang suka kebawa ke luar rumah & gak sadar aja pas ngomongnya. jadi pas saya lagi ngritik, keliatan kayak orang nyela. heuehuehue. saya gak suka dikritik, pundung pisan. tapi gak pernah saya debat lagi orang yg kritik saya, saya diem aja terus mikir. soalnya kalo saya marah-marah malah gak baik ya jadinya 😀

  8. Bisa dibilang, saya ini krg kreatif kalau diminta ngasih kritikan.
    Kalau ngriik teman, merasa pakewuh, sungkan.

    Tapi kata teman-teman, kalimat saya tak jarang bernada skak mat. Inilah yg srg saya kuatirkan, bilamana saya tak ada niat mengkritik (apalagi dgn sengit), tp ternyta diterima oleh orang lain sbg kritikan yg gak ngenakin hati.

    Jadi, sgt perlu banget saat mau pamitan (kalau pas gathering atau kumpul2 sama siapa saja), saat mau pulang kita mengucapkan permintaan maaf.

  9. Hihihi, Ibu bijak bangeet. 😀
    Aku blm berani mengkritik secara langsung. Paling via japri. Ngga bakal jadi kritikus, ya. Bhahaha
    Idah Ceris recently posted…Menikmati Ramen a la Neko SushiMy Profile

  10. sukaa tulisannya mba donna, aku juga berusaha ngga nyinyir kritik ini itu…kecuali kasih solusi hiks
    Dewi Rieka recently posted…Serunya Jalan-Jalan ke Pasar Tradisional BandunganMy Profile

  11. Benar banget mbak sangat mencerahkan pula, terkadang kita nggak sadar kalau pas mengkritik orang lain itu kita juga menyakiti hatinya. Walaupun niatnya baik, juga harus diperhatikan metode penyampaiannya. 🙂
    Jefry Dewangga recently posted…Fotografi SenjaMy Profile

  12. Setuju sekali dengan apa yang disampaikan mbaknya 🙂
    emang saya juga sering sebel kalau ada yang kasih kritik tapi hanya kritikan doang, enggak dikasih solusi atau gimana caranya biar lebih baik…
    Eksa Studio’s recently posted…Enaknya Jadi Travel BloggerMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge