Thursday, November 23, 2017
Home » Cerita di Balik Kisah » KM. 48 #Adisty Series
km.48

KM. 48 #Adisty Series

Susah payah Adistya mencoba tetap fokus mengendalikan laju kendaraannya. Berulangkali dia melirik speedometer dihadapannya, memastikan kecepatan mobil tak lebih dari 100 kpj.

Meski malam ini tol Jakarta – Merak relatif lengang namun mengendarai mobil di malam hari tanpa lampu jalan ditengah hujan yang betah menemani tiap kilometer yang dilalui tak urung membuat perempuan itu lebih waspada.

Berulang kali pandangannya terganggu bukan hanya karena jarak pandang yang pendek karena terhalang curah hujan tetapi juga karena berulangkali lengannya harus menyeka kelopak matanya basah.

Berulang kali pula Adistya menghela nafas panjang, seakan sulit menerima ribuan ton beban dibatinnya akibat pertengkaran hebat menjelang senja sore tadi. Sulit baginya membayangkan esok hari dan di hari-hari berikutnya tanpa seseorang yang biasanya menemani hari-harinya melewati malam-malam dalam hidupnya.

“peluk aku leo’, pinta disty penuh harap.

Lengan Leo merengkuh tubuhnya…..namun disty tak merasakan apa-apa. Ada jarak yang tercipta..pelukan itu penuh basa-basi, penuh keengganan seolah sengaja mewakili sebuah kemarahan yang tak mampu ditampakkan.

Beberapa saat Adistya terdiam, berharap pelukan itu makin erat.

“kamu harus memeluk aku erat Leo, karena mungkin ini pelukan terakhir kita” Adistya berkata dalam hati.

Disty tau Leo tak dapat mendengar kata hatinya, namun ia pun tak akan pernah sanggup mengatakan selamat tinggal. Kalaupun ini harus berakhir hari ini, pantang buatnya mengatakan selamat tinggal.

Leo makin mengendurkan pelukannya

Disty pun tau diri…melepaskan diri, dan mundur teratur.

“aku pamit Leo”….aku harus ada di Jakarta sebelum tengah malam.

“hati-hati”, kembali basa-basi Leo melepas kepulangan ku kembali ke Jakarta.

================================================

Km 48…..

Masih sangat jauh dari Jakarta, dengan kecepatan rata-rata 100 kpj aku masih butuh waktu kurang lebih 2 jam untuk sampai dirumah. Tapi dengan mata basah ini rasanya aku tak ingin sampai dirumah. Aku tak mampu melanjutkan perjalanan ini. Aku tak mampu melanjutkan hidup ku…..Aku tak mampu hidup tanpa kamu Leo…..aku gak mau sendiri.

Ingin ku hentikan saja kendaraan ini dan biarkan malam menentukan takdir ku. Atau kubiarkan saja kecepatan ini bertambah tanpa kendali dan membiarkan jalan menentukan nasibku. Mungkin semua sakit perih ini akan berakhir karenanya.

Terbayang wajah orang-orang yang aku sayang di Jakarta, mata ku makin basah.

Bagiku saat ini cinta tidak lagi menjadi pilihan. Cinta hanyalah sekumpulan komitmen dan tanggung jawab buat mereka. Tidak ada tempat buat aku sendiri.

Aku hanya mampu mencintai kamu dengan cara ku Leo, dengan apa yang punya dan dengan apa adanya diriku. Aku pikir Cinta sudah cukup untuk cinta. Tapi kalaupun itu tak cukup buat mu, karena bukan seperti itu yang kamu mau, lalu bagaimana lagi aku meyakinkan kamu bahwa aku mencintai kamu.

Atau jangan-jangan kamu memang tidak membutuhkan cinta, karena cinta pada dirimu sendiri sudah cukup memenuhi semua kebutuhan mu kecuali kebutuhan egomu, sehingga untuk itu lah aku diperlukan, semata-mata untuk memenuhi egomu.

Mataku kembali basah..kukerjapkan mata untuk menghilangkan kabur pandangan mataku, namun mengapa pandangan ku semakin kabur ..dan tiba-tiba semuanya menjadi……gelap…!!!

line 19 cimanggis

30 menit menjelang economyc engineering class

akhir maret 2010

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_1018

Yang Pertama Buatmu, Bukan Hanya Aku #ArgaSeries #5

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, seolah menopang isi kepalaku yang mendadak sarat oleh pengakuan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge