Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Kisah Pejalan yang Takut Tidur Sendirian
@donnaimelda jpeg

Kisah Pejalan yang Takut Tidur Sendirian

Takut tidur sendirian? Pejalan macam apa itu?

Hm… sepertinya pejalan macam saya deh, hehehe

Tak banyak orang yang tahu bahwa sebenarnya saya adalah seorang yang penakut, termasuk bila harus tidur sendirian. Banyak cerita menarik soal rasa takut jenis yang satu ini, terutama berkaitan dengan beberapa pengalaman saat saya harus tidur sendirian selama traveling. Beberapa diantaranya unik dan lucu, menyenangkan saat diingat-ingat kembali. Itulah mengapa, memilih tempat menginap buat saya adalah salah satu hal penting untuk dipikirkan saat perjalanan.

Tiba saat malam di hotel

Malam, gelap dan temaram memang memberikan nuansa yang berbeda
Malam, gelap dan temaram memang memberikan nuansa yang berbeda

Pernah saya menginap di Gianyar, Ubud. Tempat yang sebenarnya sangat cantik. Sayangnya saya masuk ke hotel saat malam hari, suasana gelap dan hanya lampu temaram yang menerangi jalan setapak kecil menuju bungalow yang letaknya agak jauh ke bagian dalam. Aroma dupa menyergap hidung saya di muka pintu bangunan yang dirancang dengan nuansa Bali tradisonal. Suasana magis yang hadir dalam kamar membuat saya terasa tak nyaman sendirian.  Hal ini membuat saya akhirnya rebah gelisah di atas kasur, tak bisa tidur. Untungnya saya punya teman tidur, meski adik saya tiba di hotel lewat tengah malam karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.

Saat pagi tiba, saya keluar kamar barulah saya bisa melihat betapa asrinya tempat ini secara keseluruhan. Saya menyempatkan jalan pagi mengelilingi area hotel yang letaknya tak jauh dari Monkey Forest. Deretan bangunan kayu tradisional beratap jerami tersusun rapi, berbentuk bungalow-bungalow di tengah-tengah hamparan rumput hijau dan rimbunnya berbagai jenis tanaman. Suara monyet dan berbagai binatang serta serangga seolah bersahut-sahutan di pagi hari. Di antara tanaman padi dan pohon-pohon rindang, baru saya menyadari, harusnya tak ada yang saya takutkan di tempat seindah ini tadi malam. Ah, ternyata saat malam dan gelap, acapkali menghadirkan suasana yang beda.

selamat Pagi, Gianyar...
Selamat Pagi, Gianyar…

 That’s What Friends are For

Sahabat dan beberapa teman mengerti sekali kebutuhan saya terhadap rasa nyaman. Merasa  bersyukur punya teman-teman yang peduli dengan rasa takut saya dan kadang dibuat susah karenanya. Di Phnom Penh misalnya, saya beruntung sebenarnya saat kamar hotel yang saya pesan mendapat free upgrade, namun kamar yang terlalu luas untuk saya yang sendirian malah membuat saya tak nyaman tidur. Mengerti akan hal ini, dua teman seperjalanan saya akhirnya bersedia duduk-duduk di balkon kamar, berbincang sambil menikmati lampu kota Phnom Penh dari ketinggian sebagai pengantar tidur. Setelah saya benar-benar mengantuk, barulah mereka kembali ke kamarnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
My Guardian Angel

Saya juga bersyukur punya sahabat yang kehadirannya bagai “Guardian Angel”. Pernah saya sedih luar biasa mendengar kematian teman baik saya di Indonesia dan saya sangat frustasi karena serba tak mungkin meninggalkan Ho Chi Minh City. Saat itu rangkaian perjalanan saya di beberapa negara Asia Tenggara belum selesai. Menjelang malam saya tak bisa tidur dan hanya menatap langit-langit kamar hotel sambil berurai airmata sendirian terbayang-bayang wajah damai ia yang pergi dalam foto menjelang upacara Ngaben dilakukan.

Sahabat saya –Netty– itulah yang menemani saya lewat telepon jarak jauh, bersedia mendengarkan semua haru biru kehilangan yang mendadak antara Jakarta dan Ho Chi Minh City. Saat saya menyampaikan terimakasih dan apresiasi atas kesediaannya menemani saya malam itu lewat telepon, ia berseloroh, “setidaknya telepon lebih murah dibanding gue harus menyusul loe untuk sekedar  puk puk. Kurang cinta apa gue sama loe.” Begitu katanya hehehe.

 Lebih baik tak makan malam

Buah pengganti makan malam
Buah pengganti makan malam

Ini juga beberapa kali saya lakukan dalam perjalanan saya kemarin ke India. Di sponsori oleh Departemen Pariwisata Kerala, India Selatan. Saya berkesempatan hoping hotel hampir setiap malam selama 17 hari, bayangkan, saya harus menyesuaikan diri dengan hotel baru hampir setiap malam dalam kurun waktu tersebut. Memang hotel-hotel yang kami tempati selalu hotel yang terbaik yang ada di destinasi tersebut. Bentuknya juga sebagian besar adalah resort atau hotel-hotel besar berbintang yang areanya sangat luas. Indah, namun terlalu mewah untuk dinikmati sendirian, sehingga yang hadir justru kadang rasa sepi.

Terkadang saya dapat kamar yang letaknya jauh dari ruang makan. Saya harus melewati setapak dengan pohon-pohon besar di kiri kanan ditemani suara-suara binatang malam untuk menuju restoran. Jadi bila kebetulan rasa takut menyergap, dan saya malas untuk melewatinya, saya memilih untuk tidak makan malam dan menyantap buah-buahan yang ada di kamar atau ngemil bekal dalam tas ransel saya.

Berdamai dengan keadaan

Saat pagi, semua menjadi indah. Meski belasan kilometer jauhnya dari pemukiman penduduk
Saat pagi, semua menjadi indah. Meski belasan kilometer jauhnya dari pemukiman penduduk

Tak selalu dalam perjalanan kita bisa memilih seperti yang kita inginkan. Saat saya dan teman-teman kemalaman di perbatasan Indonesia-Malaysia di Jagoi Babang, Kalimantan Barat. Kami terpaksa harus menginap di satu-satunya losmen yang ada. Letaknya benar-benar sendirian di tepian hutan perbatasan berteman suara binatang-binatang hutan yang saya tak tahu namanya. Saya yang satu-satunya perempuan terpaksa harus tidur sendirian. Apalagi kala itu sempat aliran listrik terputus, benar-benar black out. Membuka mata atau menutup mata tak ada bedanya. Semua hitam belaka!. Saya jadi tahu rasanya tak dapat melihat untuk beberapa puluh menit. Ah, malam terasa panjang sekali kala itu.

Begitupun di waktu lain, kami pernah kemalaman di Atambua dan sulit mendapatkan hotel yang seperti kami harapkan. Tubuh yang lelah menempuh perjalanan darat yang luar biasa kelok-keloknya selama tujuh jam dari Kupang ke Atambua, membuat kami memutuskan untuk menginap di hotel yang paling cepat kami temui, tak ada pilihan. Kejadiannya bisa ditebak, saya harus repot mengatasi rasa tak nyaman dengan suasana “dingin” dan senyap semalaman. Dan ternyata, rasa tak nyaman itu dirasakan  seluruh tim yang menginap malam itu dan jadi pembahasan menarik esok harinya. Syukurlah saya tak harus melihat penampakan apapun seperti yang dialami teman saya. Hiiii….

Face Your Fear

Face your fear, dunia terlalu indah untuk dinikmati bersama rasa takut
Face your fear, dunia terlalu indah untuk dinikmati bersama rasa takut

Tapi bagaimana pun pengalaman membawa saya pada banyak pelajaran untuk mengelola rasa takut. Makin hari makin baik. Saya kini jauh lebih bisa mengatasi hal ini dengan mengkondisikan berbagai hal meski kadang rasa takut masih ada. Selama masih bisa saya ikut memutuskan, atau saat traveling sendirian, saya lebih suka memilih hotel yang bangunannya baru, compact dan terawat yang sudah direkomendasikan, baik lewat teman maupun situs online booking  hotel. Menjaga mood dan pikiran positif selama perjalanan siang hari juga membuat suasana hati malam hari juga nyaman dan pikiran kira tak sempat memikirkan hal yang negatif.

Buku, televisi dan alat pemutar musik merupakan teman yang paling handal dalam melewati malam. Baca buku yang ringan dan lucu, pilih saluran televisi yang acaranya menghibur serta mendengarkan musik dari lagu-lagu favorit. Ini terbukti ampuh menjadi pengantar tidur atau teman kala tak bisa tidur. Jangan lupa ucapkan salam pada makhluk yang tak terlihat yang mungkin menghuni kamar, membaca doa dan berpikiran positif, lalu pejamkan mata. Kalau semua itu tak bisa, ada alternatif terakhir yang jarang sekali saya lakukan kecuali bila benar-benar sangat terpaksa, minum obat sakit kepala yang bikin ngantuk hahaha. *don’t try this at home!

Keep Calm and Travel On
Keep Calm and Travel On

Bagaimana dengan anda? Pasti gak ada yang penakut kayak saya deh xixixi

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

24 comments

  1. Wah…seru juga pengalamannya tidur sendirian, Mbak. Aku juga pasti galau. Hehehe… Selama ini travelling ga pernah sendirian, karna penakut . 🙂
    Juliana Dewi Kartikawati recently posted…Pengantin Emas dan Laki-laki Berjas CoklatMy Profile

  2. Wahahahaa baru tau klo Mb Donna wedinan 😉 Tapi klo tempatnya singup ya memang wajar lah mba klo bulu kuduk meremang
    Uniek Kaswarganti recently posted…Asyiknya Menunggu Berbuka Bersama AnakMy Profile

  3. kadang-kadang saya kalo pigi ndiri juga gitu sih ^^v
    mending ga kemana-mana, di kamar aja kalo uda malem. padahal ya sayang juga ngga manfaatin waktunya utk sight seeing ya mak
    nengbiker recently posted…Berburu Golden Sunset Gunung BromoMy Profile

  4. biasanya, kalau kebetulan harus nginap sendiri, kebiasaan saya sih idupin TV tapi nggak saya tonton. cuma supaya jangan terasa banget sepinya 😀

  5. Kalau di tempat jauh aku belum pernah nyobain tidur sendiri sih, jadi belum tahu apakah takut atau tidak. Namun membayangkannya, yahhh, kayaknya kurang menyenangkan juga. Yang jelas aku tidak berani jalan sendirian..Mbak Don mah kayaknya sudah mulai melatih diri dan berhasil menyingkirkan rasa takut 🙂
    Evi recently posted…Masjid Raya Sumatera Barat dan Traveler PemulaMy Profile

  6. Seumur – umur kalau traveling nggak pernah sendirian. Alhamdulillah. Partner travelku sekaligus merangkap pacar yang selalu nemenin hihihi jadinya nggak ngerasa serem 😛

  7. Kalo sendirian di hotel yang sepi emang saya juga kadang mrinding…
    adi pradana recently posted…Asiknya berburu takjil di Pasar Tiban Ramadan Kampung KaumanMy Profile

  8. Kalau di tempat baru saya juga suka gitu, Mbak. Nggak usah di hotel, di rumah saudara sendiri pun malam pertamanya nggak bisa tidur. Merem-melek-merem-melek. Baru bisa tidur setelah Subuh. Saya nggak percaya sama malam, dan memilih menyerahkan tidur saya pada Subuh. Aneh, tapi nyata hehehehe.

  9. Kalau saya butuh semalam buat “kenalan” sama tempat baru. Suka nggak bisa tidur di malam-malam pertama. Merem-melek-merem-melek. Ada suara dikit, kebangun karena kaget. Tapi kalau sudah biasa, tidurnya pules. Bangunnya kesiangan jadinya wakakak…. Jangankan di hotel, Mbak, nginep di rumah saudara sendiri sama aja.

  10. eh…. ada akunya….. tersanjung….. :-).

  11. Kalau saya aslinya penakut mba, saya ga mungkin tidur sendirian saat travelling, hehehe
    saya setuju dengan quotenya: “Dunia terlalu idan dinikmati bersama rasa takut” 🙂

  12. Wah itu foto di Tea County Munnar ya mbak?

    Saya bukan penakut, tapi entah kenapa sewaktu masuk kamar di Tea County (saya mendapat kamar paling belakang ujung), tiba2 berdiri bulu kuduk. Walhasil saya memilih nongkrong lama di kamar Dina di bangunan depan. Baru balik ke kamar sendiri setelah ngantuuuk banget. Syukur gak ada yang godain.
    Badai recently posted…7 Reasons To Love KLOPO Coconut DrinksMy Profile

    • donna imelda

      Yoi, Tea County Munnar… aku gak ujung2 banget, tapi lantai dua dan agak jauh ke belakang. Depan villa ada pohon tinggi banget, maka aku pilih dinner sehat untuk jiwa raga hahahaha. Makan buah di kamar daripada jalan kaki sendirian ke resto di bawah.

  13. wah saya juga pernah nih, pas nginep di Tegal merinding sendiri pas jalan ke hotelnya.
    wahyu asyari muntoha recently posted…Bank BCA, Terdepan dalam Teknologi dan FasilitasnyaMy Profile

  14. wahhh liat foto2nya kayanya ademm banget tempatnya ya mba, ngomong2 soal takut sendirian…saya salah satunya. Takut tidur sendiri, gak suka kemana-mana sendiri… *_*

  15. aku tergantung tempatnya mbak, kalau agak remang2 menyeramkan ya aku takut juga
    Lidya recently posted…Maju Bersama SEREMPAKMy Profile

  16. Berarti di ransel musti nyediakan aneka camilan yo, Mbak. 😀

    Alhamdulillaah saya bukan tipe panakut kalau sdg halan2, gitu. Sering bobok sndiri di mushala malah. 😀
    Idah Ceris recently posted…Cara Mudah untuk Memulai InvestasiMy Profile

  17. wah aku juga mba, takut kalau suasana kamarnya agak tua, lembab dan perabotnya jadul gitu, jadi liat hotelnya dulu kalau mau nginap hehe pernah di vila keponakan nangis terus di kamar ternyata depan vila pemakaman luas dan semalam ada yang baru dikuburkan…karena dtgnya malam ngga ketok
    Dewi Rieka recently posted…Berenang di The Fountain Waterpark & Resto Ungaran 🙂My Profile

  18. Teh, sekarang teteh coba bayangin.. klo teteh itu bisa ngerasain sesuatu yang tidak semestinya berada di samping teteh. serem teh?
    dan itulah yang paling sering yudi alami. apalagi kalau ke sabang. alamak… makanya yudi klo ke sabang itu suka milih2 hotel. klo salah milih, yudi bisa berabe hiks.. di pantai gapang itu banyak cottage yang terletak berhadapan dengan laut dan sampai ke atas2 bukit. makin ke atas makin gelap dan makin lembab. ah.. can you imagine that 😀
    Yudi Randa recently posted…Aceh Gila!My Profile

  19. Lha sama mbak, diriku juga jirih alias penakut, waktu kuliahpun ga pernah tidur dikos sendiri tapi tidur bareng2 dikamar temen, setelah menikah lumayan agak berani, tapi tetep g brani dirumah sendirian. Klo traveling sih pasti bareng2, yg repot klo tugas luar kota n partnernya laki2 n hrs tdr senditi,apalagi dpt kamar dilantai atas, dijamin ga bsa tidur. Berdoa sih udah tapi koq ya penakutnya susah hilang ya.

  20. Kalo lagi solo traveler, maka begitu masuk kamar langsung hidupin TV, volume digedein. Atau nyanyi-nyanyi ga jelas. Minimal not sooo silent ^_^

  21. Saya juga biasanya juga sering merasa ga nyaman di tempat baru. Lagipula, eksplore hotel malam2 ga asyik juga, enakan pagi, bisa foto2 dg lebih terang

  22. sini mbak donna saya temenin kalo takut, saya takutan wkwkwkw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge