Thursday, November 23, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Ketika Duku dan Durian Kalah Pamor dengan Batu Akik
batu akik baturaja

Ketika Duku dan Durian Kalah Pamor dengan Batu Akik

Masih lekat dalam ingatan, jalan raya yang berkelok dengan vegetasi khas tropis di kiri kanan jalan. Tanaman keras menjulang diselingi semak berukuran sedang. Pondok-pondok kecil untuk para musafir melepas lelah berjajar rapi di antara pondok-pondok milik pedagang. Namun ada yang hilang, aku tak melihat Duku, Durian dan Kemplang, yang kulihat hanya batu akik di sepanjang jalan .

batu akik baturaja
Ketika Duku dan Durian Kalah Pamor dengan Batu Akik

Dahulu, di ruas jalan tak jauh dari kampung halamanku di Baturaja ini selalu menyajikan pemandangan yang sama setiap aku kunjungi. Ada deretan pondok-pondok atau tenda yang menjajakan makanan dan buah-buahan lokal khas Sumatera Selatan. Beberapa jenis buah-buahan memang keberadaannya tergantung musim, seperti Buah Duku dan Durian yang menjadi merupakan primadona dagangan mereka.

Sampai kini pondok-pondok penjaja makanan tersebut masih ada namun ada yang hilang di sana. Tak satu pun buah-buahan lokal yang dijajakan di sana. Bahkan kerupuk kemplang yang tak kenal musim pun tak kami temukan lagi. Semua berganti dengan bongkahan-bongkahan batu berbagai jenis, ukuran, dan warna. Akhirnya Duku, Durian dan Kemplang pun kalah pamor dengan Batu Akik hehehe.

batu akik baturaja
Diplih bu… dipilih… mau yang dalam karung juga boleh bu

Saya bukanlah perempuan yang gemar menggunakan perhiasan apalagi yang terbuat dari batu. Namun fenomena maraknya batu akik yang sepertinya merata di seluruh negeri ini, tak luput dari perhatian saya juga. Jadi ketika salah satu keluarga menghentikan mobilnya untuk singgah, saya pun antusias ikut turut menghentikan kendaraan di belakangnya. Pasti ada yang menarik yang bisa saya amati.

Yang paling eye catching buat saya itu adalah cara mereka menulis nama-nama batu tersebut dengan ejaan lokal. Ada yang menulis Pirtus alias Spritus atau Spiritus, Lapender alias Lavender, hinggan Sankis yang berasal dari kata Sunkist. Hal ini juga menandakan jenis batu yang khas dari daerah tersebut. Setidaknya tiga nama di atas, ditambah dengan jenis Biru Langit dan Solar merupakan jenis yang banyak dijajakan di sana.

Batu akik baturaja
Ejaan nama-nama batunya unik

Sistem penjualannya juga menarik, meski jumlahnya tak banyak, batu-batuan ini ada yang dijual dalam keadaan sudah diasah dan digosok, bahkan ada yang sudah dalam bentuk cincin. Namun sebagian besar dijual dalam keadaan asli berupa bongkahan-bongkahan batu yang telah di kupas sedikit untuk memperlihatkan bagian dalam batu tersebut. Ukurannya beragam, dari yang kecil, besar hingga super besar. Dijual dengan harga bongkahan, kantong kresek bahkan karungan.

Harganya tentu saja beragam, dari yang hanya lima ribu rupiah sampai yang harus merogoh dompet hingga jutaan rupiah per bongkahnya. Ada yang satu kreseknya bisa sampai tiga juta rupiah namun ada juga yang hanya tiga ratus ribu per karung kecil. Soal mutu dan jenis, ya memang harus pandai-pandai memilih tentu saja. Luar biasa ya? Saya cuma bisa geleng-geleng kepala menyaksikan interaksi antara ayah, kakak dan sepupu-sepupu saya yang sangat menggemari batu akik.

batu akik baturaja
Berbagai warna, jenis dan corak. Aku suka yang motif

Tawar menawar menjadi bagian yang tak kalah serunya. Bahkan ibu saya tak kalah seru ikut membantu menawar. Seperti biasa, menawar separoh harga sudah menjadi kelaziman dalam tradisi perdagangan lokal. Namun lucunya, ada satu pedagang yang ternyata baik hati. Setelah begitu alotnya menawar dan terkesan pelit, namun setelah harga disepakati dan batu-batu itu dibungkus, kami masing-masing malah diberi satu bongkahan batu yang ditawar-tawar seru tadi sebagai bonus lho. Ada-ada aja ya.

Anda penggemar batu akik juga? Atau penggembira saja seperti saya? Asik juga lho mengamati batu-batu ini. Yuuuk berburu batu akik.

batu akik baturaja

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

27 comments

  1. Demam batu akik seIndonesia ya Mbak. Di tempat saya juga mulai marak 🙂

  2. Demam akik memang seIndonesia ya Mbak. Di tempat saya juga ada 🙂

  3. saya juga baru saja ikutan penasaran dengan batu akik, beberapa kali lewat rumah akik ngrojo di kulon progo. Akhirnya menjajal mampir liat suasana perdagangan akik disana… Hehehe
    Adi pradana recently posted…Rumah Batu Akik Ngrojo, mengangkat potensi batu akik di Kulon ProgoMy Profile

  4. prima hapsari

    Suami saya jg ketularan demam akik mbak, tapi sembari jualan eh malah laris bgt, sambil mengangkat potensi daerah mbak. Klo suamiku jualan fire opal wonogiri, yg dulu ga terkrnal skrg yg beli dari luar jawa byk.

  5. saya mah tetep pilih duku dan durian mba, hihihi…

  6. Aku baru tahu kalo batu akik dijual ala begini juga. Kirain lewat pedagang resmi kayak di pasar atau di bazaar di pertokoan. Lucu ya nama-namanya. Btw, setuju kalau yang motif bagus haha. Kayaknya saya harus mulai Googling topik ini deh.
    Ruth Nina recently posted…Tips Cari Hotel Murah di SingaporeMy Profile

  7. Wah seru kak bisa nawar harga batu akiknya, kalo mentah gitu kira2 bisa buat cincin berapa biji?
    Diarysivika recently posted…Pantai Seafood, SurabayaMy Profile

  8. suami saya ndak suka batu cincin alhamdulilah jadi saya ngak tersaingi hahahah
    turiscantik recently posted…Merayakan Lebaran di kantor, siapa takut? 😉My Profile

  9. kayaknya klo giok aceh dikirim kesana laku kali ya teh? 😀

  10. Waahhh demam Batu akik masih melanda yaa. Di tempat saya malah udah pada bosan ;). Tadinya hampir tiap hari mereka pada gosok batu cincin. Saya pernah tulis juga demam yang satu ini 🙂
    Maya Siswadi recently posted…[Review Film] Surga Yang Tak DirindukanMy Profile

  11. Betul Kak Dona Imelda, saat ini demam batu akik dimana-mana, jika Kak Dona mampir ke Garut akan lebih terkejut lagi pada saat melihat anak kecil berusia sekitar 5 tahunan pun ikut bahagia menggosok batu akik… 😀 dan neneknya pun ikut mendampingi dalam pemolesan yang namanya batu akik…

  12. Katanya sih Akik adalah Monkey Business.
    Efenerr recently posted…Top Selfie Pinusan Kragilan, Wisata Hutan Pinus di MagelangMy Profile

  13. akik lagi ngehitzzzz buanget

  14. Ini mah dimana2 akik ya mbak..kemaren juga aku jalsn ke Pacitan hampir smua penjual akik laris manis..pa lg pacitan emang tmp nya akik.. klo aku mah masih setia jd penggembira lah buatku ga ada yg lebih bersinar drpd tiket promo :p
    momtraveler recently posted…Jelajah Rasa Salatiga, Endessnya Iga Bakar Bu RiniMy Profile

  15. batu akik cuma musiman mbak donna, palingan bentar lg juga udah gak jaman hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge