Home » Volunteering » Kelas Inspirasi Probolinggo, Cinta di Lereng Pegunungan Tengger
DSC_0249

Kelas Inspirasi Probolinggo, Cinta di Lereng Pegunungan Tengger

PB110215 Damai…satu kata yang terlintas saat aku menginjakkan kaki di tempat ini. Angin dingin khas pegunungan yang menyergap berpadu dengan hangat mentari yang cerah di langit Probolinggo menjadi kombinasi yang sempurna pagi itu. Langkah terhenti saat mata tertuju pada sebuah titik yang terletak beberapa ratus meter jauhnya. Di tempat yang lebih rendah dari tempatku berdiri, terlihat bangunan berwarna hijau memanjang dengan sekelompok anak-anak berpakaian putih-putih rapi berbaris di depannya. Berada di dalam lembah yang diapit Pegunungan Tengger dan Pegunungan Ringgit hijau nan indah, hari ini aku dan teman-teman datang untuk mereka anak-anak SDN Wonokerto 2.

Kelas Inspirasi, demikian nama yang disematkan untuk kegiatan yang sedang aku dan tujuh relawan lainnya lakukan di Wonokerto Kabupaten Probolinggo. Kegiatan yang di payungi oleh gerakan Indonesia Mengajar ini tersebar di beberapa kota di Indonesia dan diselenggarakan secara bergiliran. Hari ini 11 November 2013, mengambil momen dan semangat Hari Pahlawan 10 November, Kelas Inspirasi dilakukan secara serentak di empat belas kota di Jawa Timur. Meski dilakukan di berbagai tempat dan waktu yang berbeda, misi kami satu, sesuai dengan moto Kelas Inspirasi yang kami usung….Membangun Mimpi Anak Indonesia.

Kedatanganku untuk bergabung di Kelas Inspirasi Probolinggo merupakan kesempatan kedua setelah tepat dua bulan yang lalu bergabung dalam kegiatan yang sama di Kota Bogor. Ada panggilan yang tak mampu aku abaikan saat melihat pengumuman di situs resmi Indonesia Mengajar bahwa Kelas Inspirasi dibuka kembali. Terlebih saat salah satu akun resmi Kelas Inspirasi di sosial media menayangkan salah satu foto sekolah tempat para relawan bertugas, aku langsung jatuh hati. Meski penempatan relawan sepenuhnya ada dalam kewenangan panitia dan belum tentu aku lolos dalam seleksi, kuputuskan untuk mengirimkan aplikasi pendaftaran dengan pilihan Kota Probolinggo. SDN Wonokerto 2 yang terletak di kaki Gunung Bromo telah memikat hatiku untuk melangkah dan berbagi mimpi disana.

PB110448

PB110280

Jawa Timur merupakan salah satu kota di Indonesia yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya, terlebih lagi  Kota Probolinggo, Tiada kerabat atau kenalan disana, sehingga sempat ragu saat hendak mengirimkan aplikasi. Belum terbayang akan menginap dimana, transportasi apa yang bisa aku gunakan untuk mobilitas selama disana dan siapa yang akan menemani, namun aku percaya bahwa pada setiap langkah kebajikan yang selalu dijaga niat lurusnya semata-mata karena Dia Sang Pemilik Segala Kebajikan, pasti Dia pula yang akan membuka jalannya. Berhitung bahwa pada tanggal tersebut kegiatan di kantor dan mengajar aman untuk ditinggal, ijin dari suami didapat, Bismillah…aku mendaftar. 

Semua persiapan tiada terkendala, relawan panitia Kelas Inspirasi Probolinggo sangat intens berkomunikasi sejak aku masih berada di Jakarta. Mbak Lilik, Mas Stebby dan si mungil Astri selalu siap sedia membantu segala sesuatu yang aku butuhkan, dari mencarikan penginapan, menjemput saat kedatangan dan semua kebutuhan aku selama di sana. Sedemikian totalitasnya membantu, Astri bahkan jadi bagian tak terpisahkan denganku, bersedia menemaniku bermalam di guest house, menjemput dan mengantar, menemani wisata kuliner, cari mangga malam-malam hingga berjibaku di bawah hujan dengan sepeda motornya mengupayakan agar aku bisa melihat matahari terbit di Bromo. Begitu pun dengan relawan panitia lainnya, mereka sangat hangat menyambut. Masih terbayang di benakku keriuhan saat mereka berkumpul, Kris dan mbak Yoen yang ramah menemani aku dan Christa, relawan dari Surabaya menikmati senja di Pelabuhan Mayangan, Nana yang manja, Ari yang punya banyak cerita dan tentu saja Nobie dengan cengkok Ebietnya saat melantunkan lagu “mendung”. Ah… aku selalu senyum sendiri bila mengingat hal ini. 

PB110521

DSC_0417

Di hari H, pagi-pagi sekali kami yang bertugas di Wonokerto bergerak serentak dari Terminal Probolinggo. Mas Wahyu salah satu relawan pengajar sudah terlebih dahulu tiba menyusul kemudian Mbak Lilik dan Nana. Seragam putih perawat terlihat cantik membungkus tubuh Nana, meski terkesan manja, tapi jelas terlihat relawan satu ini telah siap menginspirasi meski mendadak baru tadi malam ditugaskan untuk menggantikan salah satu relawan pengajar yang berhalangan. Sementara itu relawan fotografer dan videografer, Andika dan Ergy serta Rizky akan berkumpul dengan kami di lokasi. Ya…. kami siap bertugas. 

Hanya perlu waktu kurang lebih tiga puluh menit untuk sampai di lokasi. Kurang lebih sepuluh menit selepas Kota Probolinggo, perjalanan di dominasi oleh pemandangan yang menyejukkan mata. Di jalan yang berkelok-kelok naik dan turun bukit, saya menikmati pemandangan hijaunya lereng pegunungan Tengger. Bunga terompet bermekaran di sepanjang jalan, tanaman kol dan bawang prei berbaris rapi di lahan pertanian yang belum sepenuhnya pulih pasca erupsi Gunung Bromo serta wajah khas penduduk lokal, sungguh sebuah keindahan yang sangat Indonesia. Hanya satu kata yang bisa saya ungkapkan, indah…itu saja.

Sesampai di sekolah, aku tersenyum bahagia. Lihatlah anak-anak itu, wajah murid-murid sekolah dasar yang bola matanya terus mengikuti langkah aku dan para relawan menuruni jalan berbatu ke arah mereka yang sudah berbaris rapi menanti. Berderet sesuai urutan dari kelas yang paling kecil sampai yang paling besar. Sementara itu di sudut lain, petugas upacara terlihat gagah dengan selempang bertepi merah, siap mengawal Sang Merah Putih untuk dikibarkan. Kupandangi sekilas wajah mereka terutama pada deretan murid-murid kelas satu dan dua yang nantinya akan berinteraksi denganku di kelas. Kulepaskan senyum paling manis yang aku punya, tulus dari hati untuk mereka yang masih menatap penuh tanda tanya. 

PB110280

Mereka semua spesial, meski tinggal di pelosok yang jauh dari keramaian dengan akses transportasi yang sangat terbatas, anak-anak ini sangat semangat bersekolah. Walau ada yang harus berjalan kaki dengan waktu tempuh tiga puluh sampai satu jam sekali jalan untuk bersekolah, mereka tak kehilangan keceriaan saat belajar. Tak peduli kaos kaki yang bolong itu terpaksa membuat kulit mereka bersentuhan dengan dinginnya lantai kelas saat belajar. Mereka tak kalah hebat dengan anak-anak di kota.

Pengalamanku mengajar di Kelas Inspirasi Bogor untuk kelas yang lebih besar tentu saja berbeda dengan kali ini yaitu kelas satu dan dua. Jumlah mereka pun tak banyak, dua kelas digabung hanya berjumlah dua puluh tiga anak. Tapi ini justru menyenangkan buatku, aku bisa berinteraksi lebih dekat dengan mereka. Mengambil tempat di salah satu kelas dengan duduk lesehan, aku bermain bersama, bernyanyi, menggerakkan badan dan bercerita. Pesan yang ingin disampaikan lebih banyak disampaikan dengan cara menyelipkan dalam kegiatan bermain, menggunakan gambar atau cerita agar lebih mudah dicerna sesuai dengan usia dan tingkatan kelas. 

star

Tujuh puluh menit bersama mereka tak terasa, usaha menggali impian dan cita-cita mereka begitu menyenangkan. Cita-cita mereka hebat-hebat, dengan semangat menuliskannya di bintang-bintang yang kubuat dari kertas warna dan ditempelkan di papan cita-cita. Ada Dona kecil yang ingin menjadi guru, dua orang ingin menjadi dosen seperti saya, ada pula yang ingin jadi polisi, tentara, dan dokter serta jadi guru, Sudirman yang tak mau jauh dari neneknya, hingga harus ditemani selalu sampai kelas usai ingin jadi presiden dan bahkan seorang anak yang paling heboh di kelas bernama Agus dengan gagahnya mengatakan, “ibu… saya ingin jadi astronot. Wow….luar biasa rasanya bisa mengajak mereka berani bermimpi, punya punya cita-cita besar untuk membangun negerinya melalui berbagai profesi yang mereka pilih.

Mencapai jenjang pendidikan tertinggi sampai tingkat pasca sarjana secara cuma-cuma membuat saya merasa berhutang pada negeri ini dan harus membayarnya dengan membagikan ilmu yang saya punya kepada anak Indonesia lainnya. Di anugerahkan Tuhan terlahir sebagai Bangsa Indonesia dengan tubuh sehat dan sempurna membuat saya merasa harus berbuat sesuatu. Mungkin langkah ini adalah langkah kecil, mungkin pula tak ada artinya bagi orang lain, namun saya tak peduli, karena yang saya yakini adalah saya harus berbuat sesuatu dan Kelas Inspirasi adalah adalah salah satu jalannya. Jawaban atas doa saya, atas pinta yang saya panjatkan pada Sang Maha agar tubuh ini, jiwa ini bisa bermanfaat buat orang lain. 

PB110297

PB110338

Ribuan kilometer menempuh jarak Jakarta-Probolinggo sampai ke lereng gunung ini, melihat binar mata penuh impian anak-anak Wonokerto adalah sebuah perjalanan jiwa yang tak ternilai harganya. Berpelukan dengan mereka, berpegangan tangan, menikmati senyum polos dan tulus adalah sebuah kemewahan yang tidak dapat saya beli dengan uang. 

Yang terbaik telah kuberikan hari ini, entah bagian mana yang akan tersimpan dalam benak mereka. Semoga semua upaya berbuah manis, sebentuk inspirasi untuk anak negeri.

Wonokerto, 11 November 2013.

PB110252

me, jona dan teguh

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_1365

Inspirasi Buat Anak Negeri

Saya ingin menjadi pilot, karena saya ingin mengantarkan orang-orang keliling dunia Saya ingin menjadi atlit ...

10 comments

  1. Embaknya cantik…eh lose fokus…pemandangan Wonokromo sungguh indah…

    Salam kenal

     

  2. Luar biasa,
    Saya Andika Relawan FG sbagai saksi hidup menyaksikan dan merekam aksi kebajikan daripada Ibu Donna.bukan hanya para murid yg beliau ini inspirasi ,p saya juga. betah berlama2 di kelas ini mengabadikan elihat dan .mendengarkan tiap lantunan yg terucap,betapa mulianya.

    • donna imelda

      Andika juga luar biasa… seluruh kegiatan terdokumentasi apik berkat bidikanmu di balik lensa. Senang bisa berkenalan dengan kamu dika. Tetap menginspirasi anak negeri ya….semangat turun tangan langsung

  3. Bisa menyentuh hidup orang lain yang tidak kenal itu luar biasa rasanya ya Don :))

    • donna imelda

      lusi…, Honestly kadang aku iri dengan mereka yang punya “lebih”, sepertinya lebih leluasa berbagi. Aku gak punya banyak yang bisa diberi, tapi yg sedikit itu pun semoga berarti…

  4. sangat menginspirasi, saya suka baca postingan d blog mba hampir semua menarik ^_^

  5. Salam wuzz! 🙂 makasih sudah follow twitterku mbak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge