Home » Volunteering » Kelas Inspirasi Bogor, Cuti Sehari…Seumur Hidup Menginspirasi…. #TheDay

Kelas Inspirasi Bogor, Cuti Sehari…Seumur Hidup Menginspirasi…. #TheDay

Langkah Menjadi Panutan, Ujar Menjadi Pengetahuan, Pengalaman Menjadi Inspirasi

Tuhan…. saya dan relawan-relawan ini kelak hanya tinggal sebuah cerita bagi mereka, tapi masadepan negeri ini ada di tangan anak-anak ini. Tak banyak yang ku beri hari ini buat mereka tapi begitu besar harapan yang kupanjatkan padaMU, kabulkanlah cita-cita dan impian mereka, untuk mereka, untuk orang tua mereka dan untuk negeri kami, Indonesia…

Saya menengadah ke atas, ke arah Sang Merah Putih yang berkibar di atas tiang bendera yang menjulang tinggi ke angkasa. Langit biru cerah di bawah matahari pagi yang menghangati dua ratusan siswa sekolah dasar dan belasan relawan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Susah payah saya menahan rasa yang membuncah di dada. Bagaimana tidak? dihadapan tunas-tunas bangsa ini saya merasa kecil sekali, sepanjang lagu kebangsaan ini dinyanyikan jiwa saya terus diberondong pertanyaan, apa yang sudah kamu berikan untuk negeri ini, Donna?

KI1Yeeaa…it’s the day, 11 September 2013, waktu yang terjadwal dari sebuah gerakan di bawah payung Indonesia Mengajar untuk para relawan berbagi inspirasi di Kelas Inspirasi Bogor. Kami bersebelas terdiri dari delapan relawan pengajar, masing-masing satu fotografer, videografer dan fasilitator sudah sejak pagi berada di SDN 03 Sukaraja Bogor membawa misi yang sama yaitu menginspirasi anak-anak itu dengan cara berbagi pengalaman tentang profesi kami. Ada dosen, insinyur, geologis, lawyer, banker yang tergabung dalam kelompok delapan ini yang telah siap dengan alat peraga masing-masing, berusaha sebaik mungkin mengajak anak-anak ini mengenal apa yang disebut impian dan cita-cita, hendak menjadi apakah mereka kelak. Menjadi seperti salah satu relawankah?

Berbeda dengan orang dewasa dan anak-anak kota yang telah melek teknologi pada umumnya, tak mudah bagi kami untuk menjelaskan apa yang kami kerjakan sehingga tak heran bila para relawan terlihat heboh dengan berbagai persiapan. Lihatlah Pak Arif dengan kostumnya yang sengaja dibuat berwarna merah putih sama dengan seragam anak-anak. Pak Deni Umbara dengan topi insinyur dan bola dunia ditangannya, Pak Syaiful dengan batu-batuan dan kantong sampel khas seorang geologis. Tak kalah seru Pak Christ dan Bu Tia yang banker sudah menyiapkan berbagai gambar-gambar keren seputar uang dan kegiatan perbankan, Bu Shahnaz dengan permainan dan hadiah-hadiah lucu dan Pak Deni dengan permainan seru dan lembar cita-cita yang sengaja dicetak sebesar banner. Tak kalah sibuk oom Fahri sebagai fasilitator ikut dikerubuti anak-anak yang penasaran dengan gadget tabletnya, serta dua anak muda cekatan, Nicho dan Irfan yang rela keringetan mengejar momen untuk diabadikan melalui kamera foto dan video. Semua heboh …..

KI2Selain alat peraga kami juga berusaha membuat mereka memahami dengan cara yang sederhana dan menyenangkan melalui gerak lagu, permainan, sampai yel-yel yang seru. Saya sendiri mendapat bagian untuk menginspirasi murid kelas tiga dan kelas enam di jam pertama dan kedua dengan alokasi waktu masing-masing 50 menit. Dari rumah saya sudah menyiapkan slide mengajar yang saya cetak di atas kertas kecil-kecil agar saya tidak lupa apa yang harus saya sampaikan secara runtut. Di dalam kereta menuju Bogor catatan itu sudah saya buka dan saya hapalkan sehingga saat mengajar nanti saya tak perlu terus menerus melihat catatan tersebut melainkan hanya melihat sesekali bila saya terlupa. Ternyata di lapangan, kenyataan berbeda dengan yang direncanakan. Pengalaman tiga belas tahun mengajar di perguruan tinggi sungguh berbeda dengan mengajar anak-anak sekolah dasar. Mereka ramai dan riuh sekali, sulit untuk diajak fokus. Alih-alih mengajar dengan runtut ala melankoli seperti seorang Donna di kampus, saya mendadak “mati gaya” dihadapan mereka. Beruntung saya masih ingat beberapa teknik manajemen kelas yang disampaikan saat briefing, saya harus memenangkan hati mereka untuk mendapat perhatian. Lalu saya mulai mengajak mereka bernyanyi sambil menggerakkan badan,tentu saja dengan saya sendiri ikut bergerak dan bernyanyi bersama mereka.

KI4Voila… ketegangan saya mencair dan saya mulai bisa larut bersama mereka. Dilanjutkan dengan meneriakkan beberapa yel-yel untuk makin menyegarkan suasana barulah kemudian saya bercerita tentang saya dan profesi yang saya tekuni untuk menginspirasi mereka. Dengan bantuan gambar dan permainan, saya berusaha menggambarkan apa itu profesi seorang dosen dan bidang Teknik Kimia yang saya ajar kan. Sulit dipercaya bila kita tidak ada dalam kegiatan ini. Di tempat yang berjarak hanya beberapa meter dari sebuah perumahan mewah di Bogor, banyak diantara anak-anak ini yang belum tahu apa itu profesi dosen dan apa pula Teknik Kimia itu. Mereka yang rata-rata anak dariburuh tani atau buruh kebun perumahan, terpukau dan tertarik sekali dengan gambar-gambar yang sayabawa. Gambar-gambar seperti gedung kampus, kegiatan kemahasiswaan, wisuda, insinyur, pabrik, sampai gambar beberapa proses pembuatan barang-barang yang sering mereka gunakan. Mereka baru tahu bahwa coklat warna-warni yang lezat itu ternyata berasal dari pohon coklat yang kebetulan ditanam Pak Jono, salah satu guru merekadi belakang sekolah. Mereka juga akhirnya tahu bahwa salah satu tugas seorang insinyur Teknik Kimia itulah yang mengolah sedemikan rupa sehingga buah coklat Pak Jono yang kata mereka asem-asem itu yang diambil adalah bijinya dan kemudian diproses menjadi coklat yang mereka makan. Begitu pula tentang tebu yang menjadi gula, kedelai yang menjadi kecap, sampai minyak yang menjadi sabun. Dan lucunya, ketika sayatanya bila merek aja diinsinyur, mereka ingin buat apa, rata-rata menjawab bikin pabrik coklat hahaha. Beberapa siswa perempuan ada yang menjawab ingin membuat boneka Barbie dan yang lelakid engan gagah perkasa dan penuh semangat mengatakan ingin bikin mobil, pesawat terbang, kapal laut dan lain-lain…wah hebat-hebat deh.

Jangan bayangkan proses di atas berlangsung dengan kondisi mereka duduk manis di tempat duduk lho, sebagian besar bolak-balik merangsek ke depan, terlebih bila ada sesuatu yang baru saya tunjukkan atau saya perlihatkan, malah ada yang berdiri di atas meja atau tempat duduk. Apalagi bila ada yang hendak saya bagikan. Mereka berebutan saling dorong, membuat saya terpepet ke arah dinding dan membuat satu dan yang lain saling berteriak. Terpaksa saya harus kembali mencuri perhatian mereka, mengajak mereka kembali ke tempat duduk dan fokus pada apa yang hendak saya sampaikan. Tentu saja harus dengan cara yang menyenangkan, mengajak mereka bertepuk sambil kembali ke tempat duduk, atau terkadang dengan bercanda dan melontarkan cerita lucu supaya perhatian kembali mengarah ke saya.

KI5Sesi mengajar saya akhiri dengan membagikan karton berbentuk bintang untuk mereka tuliskan cita-cita mereka. Lalu satu persatu membacakan impiannya didepan kelas dan disematkan di papan stereofam yang sudah saya siapkan didepan kelas, sebagaimana pepatah orangtua dulu, seolah kami sedang menggantungkan cita-cita kami setinggi langit di stereofoam tersebut. Saya juga membagikan buku tulis kecil untuk mereka tuliskan impian mereka sebanyak sepuluh macam. Buku yang kemudian kami beri nama buku impian itu diberikan untuk dibawa pulang dan dilanjutkan.

KI6Saya berpesan kepada mereka untuk tidak takut bermimpi, setiap punya keinginan, tulislah di buku impian tersebut, buka setiap hari, bawa dalam doa setiap sholat dengan keyakinan bahwa Tuhan pasti mengabulkan semua yang kita impikan dalam buku tersebut. Saya ingin menangis saat menulis bagian ini. Saya masih ingat rasa yang menjalar di tubuh saya… merinding, saat saya mengajak mereka semua menunduk, memejamkan mata, memikirkan apa yang menjadi cita-cita mereka. Dengan lagu Indonesia Pusaka mengalun dibenak, kami pun memanjatkan doa agar semua cita-cita kami tercapai, apapun profesi yang kami pilih saat itu. Entah ingin menjadi pemilik bank agar punya uang banyak, atau ingin jadi astronot supaya bisa keluar angkasa, jadi insinyur, jadi guru, tentara, pemain bola, polisi dan sebagainya. Dengan khusus saya pun memanjatkan selantun doa buat mereka, mengangkasa ke-arsy Sang Maha

Sambil melihat satu per satu wajah mereka yang terpejam dengans erius, saya merendahkan diri, Tuhan…. saya dan relawan-relawan ini kelak hanya tinggal sebuah cerita bagi mereka, tapi masa depan negeri ini ada di tangan anak-anak ini. Tak banyak yang ku beri hari ini buat mereka tapi begitu besar harapan yang kupanjatkan padaMU, kabulkanlah cita-cita dan impian mereka, untuk mereka, untuk orang tua mereka dan untuk negeri kami, Indonesia… 

KI7

Video kegiatan ini bisa dilihat di sini, klik aja ya Kelas Inspirasi Kel. 08 SDN Sukaraja Bogor

​special thanks for Nicho dan irfan untuk foto dan video kerennya

Sukaraja, 11 September 2013

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_1365

Inspirasi Buat Anak Negeri

Saya ingin menjadi pilot, karena saya ingin mengantarkan orang-orang keliling dunia Saya ingin menjadi atlit ...

16 comments

  1. Bagus sekali, tante Donna! Semoga tetap sehat untuk membantu negeri ini dengan beragam cara. Mudah2an pula semakin banyak anak negeri yang berani bermimpi, serta tentunya berani pula berusaha menggapai mimpinya. Amin.

    Sekedar masukan sedikit, koreksi untuk beberapa kata depan yang seharusnya dipisahkan dari kata keterangan tempat di belakangnya. Namun tidak merusak isi dan inti cerita, kok.

    Salam inspirasi,

    iPul

  2. Seru banget ya 🙂
    *Titik awal sebuah keberhasilan adalah impian.*

  3. numpang nangis lagi heuheu… Aamiin… untuk doa yang tulus itu 🙂

  4. Nicholas Dianto

    AMAZINGGGG!!!!
    Terimakasih Bu Donna Imelda sudah menshare perjalanan jiwanya untuk kami.

    Bangga rasanya hasil karyaku dipublish juga berkat Bu Donna, semoga menjadi awal inspirasi untuk kita semua.
    Aminnnnnn….

    • donna imelda

      Terimakasih juga Nicho…anak muda yang hebat.

      Sementara sebagian anak muda lainnya masih sibuk mencari jati diri kamu sudah sibuk berbagi. Semua yang kemarin di KIB terdokumentasi dengan baik karena kamu. Aku yakin semangatmu menular dan aura positifnya menyebar lebih dari seorang geologis dan fotografer melainkan sebagai pribadi yang hebat.  Semoga suatu saat ada Nicho Nicho baru dari anak2 Sukaraja 03, yang talented, peduli dan melakukan sesuatu yang nyata untuk negeri ini,

      Senang bisa mengenalmu, Nich….  

  5. Saya gak berharap mereka, anak-anak ini, jadi relawan thok

    Saya berharap mereka jadi orang sukses, memiliki idealisme yang kuat dan positif

    dan bisa membangun Indonesia ke arah yang lebih baik.

    Sehingga secara langsung, memberikan inspirasi yang lebih banyak kepada orang-orang di sekitar.

     

    Semoga program baik ini tidak hanya jadi program yang berhenti di awal namun juga berjalan secara kontinyu dengan sistem evaluasi yang bagus

     

     

    • donna imelda

      betul banget vie, tugas kami relawan adalah menginspirasi mereka bukan untuk menjadi relawan, tetapi untuk memberikan gambaran, menginspirasi mereka bahwa mereka bisa jadi apa pun dewasa kelak, mungkin menjadi seorang profesional seperti salah satu relawan yang datang pada mereka dan pada akhirnya mereka2 inilah yang akan melanjutkan tugas kami membangun negeri ini, entah sebagai insinyur, dokter, pilot, guru, ABRI, pemain bola, dsbnya. 

  6. Mampir ya, mak Donna. Dari kemarin aku sudah baca-baca web kelasinspirasi.org. Semakin pengen bergabung. Duh, terharu lihatnya… hiks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge