Monday, September 25, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam
P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah area luas bekas tambang Timah dan Kaolin di Belitong. Pengunjung memasang senyum manis dengan pose menawan, siap bergaya di depan lensa. Sementara saya hanya bisa tersenyum kecut, ini berkah atau bencana?

Imaji tersaji, keindahan adalah urusan persepsi. Orang menyebutnya Danau Kaolin. Permukaan air biru kehijauan berpadu kontras dengan tanah sekitar yang berwarna putih memang menyajikan keindahan, namun tak akan pernah mengikis benak bahwa di sini kulit bumi pernah dikupas, digali lalu dibiarkan menganga oleh manusia-manusia pemburu rupiah. Getir memang, tapi toh kenyataan harus kita telan juga.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kondisi di atas kembali terlintas dalam benak, ketika berdiri di atas sebuah tembok yang membatasi saya dengan sebuah lubang besar berdiameter sekitar 500 m dengan kedalaman kurang lebih 40 meter. Warna airnya tak kalah indah dengan Danau Kaolin di Belitong, perpaduan biru tua dan semburat tosca, memantulkan sinar matahari yang cukup cerah di langit Ratatotok, Minahasa Tenggara.

Kolam raksasa di depan saya adalah lubang bekas tambang terbuka atau open pit. Bila tak mengetahui sebelumnya, tak akan ada yang menyangka bahwa di tempat ini dahulu beroperasi sebuah perusahaan tambang emas bernama P.T. Newmont Minahasa Raya (PTNMR). Tak ada satu pun tanda atau sisa-sisa kegiatan tambang yang berlangsung selama delapan tahun, dari tahun 1996 hingga tahun 2004.

Di sekeliling tempat saya berdiri hanya terdapat pohon-pohon yang berbaris tegak dengan jarak yang teratur diselingi vegetasi pepohonan perdu alami khas hutan tropis. Segaris lurus ke arah kolam, yang terhampar hanyalah rerimbun hijau pucuk-pucuk pepohonan. Tak ada lubang-lubang menganga, tebing-tebing merana apalagi sisa-sisa alat berat atau bangunan. Semua menghijau, bagai gelaran permadani di permukaan bumi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ini bukan hal biasa dan sederhana, namun hal yang luar biasa. Luas area tambang sebesar 179, 70 hektar kini telah direklamasi dan menjelma menjadi hutan tanaman tropis beraneka jenis tumbuh di atasnya. Tak kurang dari 180 ribu batang pohon dari sekitar 15 jenis ditanam di sini. Dari tanaman keras seperi Jati, Mahoni, Cempaka, Sengon, Akasia hingga tanaman keras yang menghasilkan buah seperti, Durian, Nangka, Jambu Mete hingga Mangga.

Saat kami menuju look out bekas Open Pit Mesel, terlihat bahwa tanaman-tanaman ini sudah tumbuh besar dan rapat. Pak Jerry Kojansow, Environmental Manager PTNMR yang mendampingi kami saat mengunjungi hutan reklamasi mengatakan bahwa reklamasi yang dilakukan tidak menunggu kegiatan tambang selesai, namun sejak kegiatan tambang masih berlangsung. Tak heran bila pohon Jati dan Mahoni yang ditanam pada tahun 1997 kini sudah mencapai diameter batang sekitar 20 s.d 25 cm dan dibeberapa titik ujung-ujung dedaun pohon sudah membentuk kanopi yang rimbun dan rapat satu sama lain.

Perjalanan menuju lokasi look out membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari tempat menginap kami Tak jauh dari Pantai Lakban, Buyat. Kondisi di Mesel (nama tempat di mana tambang dan pengolahan emas PTNMR berada) yang sudah tak mungkin lagi dicapai dengan menggunakan kendaraan biasa mengharuskan saya dan 15 teman-teman peserta Newmont Sustainable Mining Bootcamp menggunakan mobil jip terbuka yang penduduk lokal sebut dengan nama Rambo.

@donnaimelda
Yuk, naik Rambo

Sayang sekali, saya tidak bisa menikmati sensasi ajut-ajutan di atas Rambo karena kondisi saya yang baru pulih dari serangan vertigo saat berangkat ke Minahasa. Akhirnya ya harus tahu diri dengan memilih mobil jenis double pick up yang lebih bersahabat mengingat medan yang harus ditempuh cukup sulit. Jalan yang kami lewati hannya sebagian kecil beraspal, sisanya berbatu atau aspal yang telah terkelupas. Bahkan di titik tertentu, mobil harus melewati bongkahan-bongkahan batu besar di antara perdu-perdu dan ujung-ujung ranting. Terbayang ya, badan kami harus bergoncang hebat ke kanan dan ke kiri dan sesekali merunduk menghindari ranting sambil berpegangan kencang.

Dalam perjalanan kami melewati banyak sekali deretan tempat pengolahan tambang emas tradisional penduduk setempat yang konon kabarnya sudah ada sejak tahun 1800-an. Wow! Berarti jauh sebelum PTNMR ada, tambang emas sudah menjadi bagian hidup masyarakat lokal. Sayang saya tak sempat menggali lebih jauh dampak lingkungan yang ditimbulkan dari pertambangan tradisional ini. Ada kekhawatiran yang melintas dalam benak saya mengingat kegiatan tambang tradisional ini tak lepas dari penggunaan bahan kimia yang berbahaya dalam proses pengolahannya.

Mobil yang kami kendarai tidak bisa masuk lebih jauh hingga lokasi look out karena lokasi yang sudah menjelma menjadi hutan kecil penuh dengan tanaman keras. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat parkir mobil. Medannya pun tak sulit, hanya perlu melewati setapak di antara pepohonan yang ditanam dengan jarak 3 x 3 selama kurang lebih beberapa menit saja.

Di tempat ini kami juga bisa melihat langsung kondisi wilayah yang telah direklamasi. Sejauh mata memandang hanya tanaman menghijau yang tersaji di depan mata. Melihat kondisinya saat ini, saya yakin bahwa nilai keberhasilan sebesar 93 yang diperoleh PTNMR adalah angka yang layak didapatkan. Bahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Darwin Zahedy Saleh dalam kunjungannya ke lokasi reklamasi PTNMR pada tanggal 10 Mei 2011 lalu mengatakan bahwa, reklamasi PTNMR adalah salah satu yang terbaik, dan beliau bangga melihat Newmont telah berhasil menghijaukan lahan bekas tambang menjadi hutan reklamasi.

Sebenarnya angka keberhasilan di atas rata-rata yang dianggap sudah berhasil dan diterima adalah di angka 80, namun PTNMR membuktikan bisa mendapatkan angka keberhasilan yang lebih. Ada beberapa tolak ukur untuk menentukan angka keberhasilan tersebut, yaitu tingkat pertumbuhan tanaman, jenis variasi tanaman, serta kembalinya flora dan fauna ke kawasan ini seperti sedia kala. Dan hal ini masih akan terus dipantau hingga 10 tahun pasca penutupan tambang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Menurut pemantauan tahunan Tim Peneliti Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi, Manado, ditemukan 155.814 pohon tumbuh baik di hutan reklamasi. Pohon-pohon ini terdiri dari 145 spesis dari 59 famili. Ada 109 spesis burung bermigrasi dan menetap, dan hingga saat ini ada sekitar 91 jenis burung dan hewan lainnya yang telah kembali menghuni daerah bekas tambang PTNMR, seperti Kadalan Sulawesi (phaenicophaeus calyohyncus), Yellow-Sided Flowerpeckers (dicaeum aureolimbatum) dan Rangkong Sulawesi (aceros cassidix) bahkan Tarsisius, Monyet terkecil Sulawesi (tarsius sp) juga ditemui hidup di hutan reklamasi.

Untuk mencapai hasil yang demikian tentu saja perlu komitmen yang kuat antara PTNMR pemerintah dan masyarakat dan prosesnya merupakan kerja keras yang dilakukan secara bertahap dan kontinyu. Total terhitung 25 tahun PTNMR berada di Minahasa Tenggara, sejak masa eksplorasi selama 10 tahun, pada tahun 1986 – 1996, diikuti dengan delapan tahun beroperasi di tahun 1996-2004, kemudian dilanjutkan dengan masa penutupan tambang 2004-2009 dan pengakhiran penutupan tambang 2009- 2011, hingga kontrak karya berakhir tahun 2016 ini.

Satu hal yang menjadi catatan dari kunjungan ke wilayah eks-tambang emas PTNMR ini adalah komitmen Newmont terhadap kegiatan tambang yang berkelanjutan atau sustainable mining. Berkunjung ke dua area penambangan milik Newmont, baik di Minahasa Utara, maupun yang di Batu Hijau di Sumbawa Barat, saya melihat Newmont melakukan kegiatan tambangnya dengan sangat bertanggung jawab. Tidak hanya saat masih beroperasi –seperti yang saya lihat di Batu Hijau–, namun juga proses penutupan tambang saat perusahaan tidak lagi beroperasi seperti yang saya lihat di Ratatotok.

rn7

rn8

Bandingkan kedua gambar di atas, diambil di titik yang sama, saat tambang masih beroperasi dan setelah direklamasi

Tak berlebihan rasanya bila mengatakan bahwa apa yang dilakukan PTNMR adalah salah satu contoh terbaik bagi perusahaan-perusahaan tambang lainnya. Menjadi role model bagaimana sustainable mining itu sesungguhnya. Tak heran pula jika selama kami berada di sana, kami bertemu beberapa kali dengan berbagai pihak yang datang berkunjung untuk melakukan studi banding, baik dari perusahaan tambang maupun pemerintah dan lembaga pendidikan tinggi.

Apa yang PTNMR lakukan tidak hanya fokus pada reklamasi kondisi alam, flora dan fauna lokal, namun juga terhadap kehidupan masyarakatnya. Dalam kesempatan berkeliling Desa Buyat dan Desa Ratatotok yang merupakan wilayah lingkar tambang PTNMR, saya melihat bahwa kedua desa ini telah tertata sangat rapih. Jalan-jalan semua mulus, lebar, berlapis aspal. Sarana umum, perekonomian, pendidikan dan kesehatan tersedia lengkap. Masyarakat telah disiapkan untuk mandiri melanjutkan kehidupan mereka saat Kontrak Karya PTNMR berakhir tahun 2016 ini.

Pikiran nakal sempat terlintas dalam benak saat berkeliling desa. Sore menjelang senja, di sela perbincangan dengan Mas Arie Burhan dan teman-teman di atas Rambo yang melaju di antara ruas-ruas jalan desa dan pemukiman penduduk, saya berpikir, sungguh baik hati sekali PTNMR terhadap wilayah ini. Dalam skala waktu saya membayangkan, dari 25 tahun keberadaan mereka di sini, hanya delapan tahun lho mereka berproduksi, sisanya selama 17 tahun mereka gunakan untuk ekplorasi dan proses penutupan tambang.

rn5

Namun begitu, lihatlah jejak manfaat yang mereka tinggalkan sedemikian luar biasa. Bisa dinikmati hingga puluhan tahun bahkan berkembang mungkin ratusan tahun ke depan. Bagaimana tidak, bukan hanya urusan sarana pra sarana dan infrastruktur yang ditinggalkan, namun hutan reklamasi yang dibangun di atas bekas area tambang akan terus tumbuh dan berkembang dan memberikan manfaat terhadap lingkungan dan masyarakat hingga beberapa generasi ke depan.

PTNMR melihat potensi pada pohon-pohon di hutan reklamasi yang akan terus tumbuh dan berkembang. Namun di sisi lain, kelak PTNMR tidak lagi memiliki kendali untuk mengelola hutan reklamasi lagi setelah diserahkan kepada pemerintah, padahal saat itu kayu-kayu tersebut akan memiliki nilai ekonomis yang luar biasa dan berpotensi memancing pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk memanfaatkan kayunya secara serampangan. Tentu saja ini mendatangkan kekhawatiran tersendiri.

Untuk menjaga kawasan hutan reklamasi tersebut, PTNMR berinisiatif untuk meningkatkan status kawasan hutan reklamasi tersebut dengan melibatkan berbagai pihak yaitu pemerintah kabupaten, propinsi, Kebun Raya Bogor, Kementrian Kehutanan, Kementrian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Sulawesi Utara. Upaya ini disambut baik oleh pemerintah hingga kemudian Menteri Kehutanan menerbitkan Surat Keputusannya.

Dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor.: SK.175/Menhut-II/2014 tanggal 19 Februari 2014 disebutkan bahwa hutan reklamasi yang merupakan Kawasan Hutan Produksi Terbatas di Kabupaten Minahasa Tenggara Seluas kurang lebih 221 hektar pada area lahan bekas tambang PT Newmont Minahasa Raya ditetapkan sebagai KEBUN RAYA dengan tujuan Khusus untuk Hutan Penelitian, Pengembangan dan Pendidikan Lingkungan.

Menjejakkan kaki di kawasan hutan yang kemudian ditetapkan sebagai Kebun Raya Nasional dan diberi nama Kebun Raya Megawati Soekarnoputri ini boleh dibilang adalah puncak perjalanan saya di Ratatotok, Minahasa Tenggara. Bagi saya, adalah sebuah kebanggaan tersendiri saat menyadari bahwa saya kala itu berdiri di atas kebun raya pertama di dunia yang dibangun di wilayah dari eks tambang emas. Wow!

Saya sangat bersemangat saat Pak Jerry memaparkan masterplan yang disusun oleh Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor dan Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) untuk kebun raya ini. Rasanya saya ingin lompat ke mesin waktu agar bisa menjejakkan kaki saat kebun raya seluas 221 hektar ini selesai dibangun belasan tahun yang akan datang. Lihatlah sketsa pandangan mata burung rencana pembangunan kebun  raya ini. Ada sarana penelitian dan edukasi, pengelolaan, rekreasi dan pusat informasi. Keren ya

Ah, mudah-mudahan saya masih ada umur, sehat dan ringan langkah untuk menjejak kembali ke sini dan menikmati hutan reklamasi ini dalam bentuk kebun raya sebagaimana  yang dirancang dalam masterplan.

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Photo credit @nicholasdianto

Serba-Serbi Memilih Pakaian

Cara saya sehari-hari berpakaian seperti celana jeans, t-shirt dan penutup kepala dengan tenun ikat sebagai ...

12 comments

  1. review yang bermanfaat…makasih banyak mbak

    salam kenal

  2. wah asyiiikkk. sejuk nian liatnya. ajak2 daku mbak kalo k sana lagi hehehe…

  3. Mamaaaakkkk…..kaosnyaaaaa cakeeeeepppp! Iiih jadi pengen ngerayu biar dikasihin wkwkwk :p

    Kereen yaaaa Newmont ini, kepeduliannya pada masyarakat dan lingkungan patut diacungi jempol. Semoga berkesempatan ke sana. Barengan yukkk ????

  4. Segar sekali pemandangan hijaunya itu mbak :))
    Bikin seger mata~
    andyhardiyanti recently posted…BINUS Online Learning, Solusi Bagi Anda Yang Ingin #MajuTanpaBatasMy Profile

  5. Mobilnya unyu-unyu gimana gitu… tapi tetep sangar…
    adi pradana recently posted…Microsoft YouthSpark Live: Be The Spark For Yogyakarta!My Profile

  6. Gila yaaa ada RS gede banget di daerah terpencil, semoga bisa merawat nya
    cumilebay recently posted…Hasekkkkk … Nemu Hotel Murah Rasa MEWAHMy Profile

  7. contoh sukses dari reklamasi pertambangan ya bunda.. Mantaap artikelnya.. Bahwa pertambangan pun harus bertanggung jawab untuk memulihkan lagi kebaikan lingkungan..

  8. Pemandangan hijau tanpa banyak gedung… pasti asik banget pas kesana ya mbak. di bali juga ada kebun raya bedugul, pemandangan hijau, banyak pepohonan tinggi.
    Sintia recently posted…Tourism Object in Bangli regency Bali IndonesiaMy Profile

  9. Sebuah perusahaan yang patut dicontoh yang sangat menghargai alam, semoga masterplannya tidak melenceng dan segera terealiasai ya. Nice article mbak 🙂
    Travel Dieng recently posted…Ade HomestayMy Profile

  10. Wahhh keren kali Mba, bisa jalan2 santai mengurangi lemak disekitar perut kalo kayak gini hahaha

  11. kalau semua penambang seperti ini sih bagus bangett
    di daerah sekitaran jakarta saja masih banyak tambang2 ilegal .. tambang pasir, batu dan tanah untuk batu bata …. yang di biarka begitu saja …. bener2 dirusak … hiksss

  12. wahh bagus banget semuanya masih terjaga dengan baik!

    Adis takdos
    travel comedy blogger
    http://www.whateverbackpacker.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge