Thursday, November 23, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Karya dan Skala Prioritas
jobdesk

Karya dan Skala Prioritas

Ramadhan tinggal menghitung hari, aroma bulan penuh berkah sudah tercium aromanya sejak beberapa hari belakangan. Nuansa mulai terasa melalui teman yang mengingatkan tentang hutang puasa, melalui sinetron2 yang sudah dibumbui atribut “sinetron Ramadhan”, sampai rencana mudik pun sudah mulai jadi bagian pembicaraan kami akhir-akhir ini.

Sungguh…..aku berharap dapat bercumbu lebih mesra dengan ramadhan tahun ini meski bayang kegiatan kerja dan kuliah plus keruwetan penelitian menari-nari di pelupuk mataku. Aku berharap tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Berharap dapat melalui ramadhan tanpa jatuh sakit seperti yang selalu aku alami beberapa tahun lalu.

Jujur aku sudah takut dengan diri ku sendiri…takut dengan kecepatan ku bergerak.
Analogi yang sangat mirip dengan perasaanku saat mengendarai my red beauty. Aku tau rasanya karena pernah mengalami betapa sulit nya mengatur kendaraan pada kecepatan tinggi saat memaksa melaju citycar dengan kecepatan tinggi dan ban kempes di jalan tol. Sehingga aku kini punya batasan maksimal bila mengendarai mobil.

Rasa takut yang sama seperti itu muncul saat aku merasa mobilitas kegiatanku sudah menyentuh garis merah speedometer, dan aku gak pernah tahu seberapa cepat aku dapat merespon kendala dan seberapa pakem rem hidup ku mencegah aku menabrak batas-batas kenormalan.

Tak banyak yang tahu, perjalanan yang bagaimana yang membawa aku pada situasi ini. Tapi aku tau persis…..warna apa yang membuat semua menjadi sedemikian berwarna. Alhamdulillah….semua terjadi dalam wilayah sadar dan terkontrol, setidaknya sampai saat ini. Namun, bukan berarti ini baik. Bukannya tanpa rasa lelah berlari tanpa henti. Karena meski berusaha arif, tak ayal banyak pula yang terlewat tanpa aku sempat nikmati. Aku harus tahu kapan aku harus berhenti berlari. Bukan kah seorang pelari marathon pun memilki garis finish tempat nya berhenti. Aku sudah melayangkan tanya pada sang Kreator, sutradara hidupku, format apa yang tepat saat ini, saat aku sudah letih berlari.Tepatkah aku meletakkan garis finish di titik ini.

Bila setiap langkah adalah karya dan setiap karya adalah masterpiece, pertanyaan selanjutnya adalah apakah karya-karya itu dibuat dalam urutan prioritas yang benar. Atau bahkan meniadakan salah satu prioritas yang seharusnya ada.

Aku hanya meyakini ada 4 prioritas dalam hidup dan keempatnya ada dalam urutan yang seperti ini.
1. Tuhan
2. Keluarga
3. Pekerjaan
4. Bisnis

Dulu, saat semua masih bisa dilakukan dalam waktu 24 jam setiap harinya, dengan proporsi yang tepat, prioritas itu tetap ada dalam setiap karya. Namun tidak saat ini.
Keluarga bisa protes, atasan bisa marah, kolega bisa ngambek….tapi Tuhan gak pernah marah.Dia selalu baik. Dia kirimkan semua yang aku butuhkan. Layaknya membuka katalog dan mengirim mail order, maka pesanan akan segera tiba. Namun itu yang membuat kita sering sekali menjadi lalai. Lalu satu persatu kehilangan makna, dilanjutkan dengan berkurangya kualitas dan akhirnya menjadi permisif…..masyaallah….

Sholat subuh sering kesiangan karena malamnya begadang bikin tugas, sholat dhuha gak bisa dilakukan karena kuliah pagi hari, sholat sunah sudah tak sempat lagi karena tumpukan kertas kerja di meja semuanya harus selesai segera, mengaji menjadi kegiatan langka, sholat malam berlalu begitu saja.
Kemana kau letakkan prioritas yang harusnya menjadi prioritas pertama itu pada karyamu.
Lupakah bahwa Dia yang selalu memberikan tongkatNya saat tertatih, tak sadarkah bahwa ada campur tanganNya pada setiap karya yang dibuat….

Ramadhan depan, adalah awal semester baru….bukan tanpa kebetulan…lagi-lagi Dia memudahkan aku untuk ikut menyutradarai hidup. Saatnya merancang kembali hidup, bukan menurunkan kualitas namun meletakkan pada prioritas yang benar, Tuhan…keluarga….pekerjaaan….. Semoga karya tetap sebuah masterpiece….

Semoga ramadhan masih menjadi milik ku
marhaban ya ramadhan……

Jakarta,
2 Agustus 2009

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge