Tuesday, December 19, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Karena Bima Terlalu Indah Untuk Sekedar Singgah
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Karena Bima Terlalu Indah Untuk Sekedar Singgah

Pernahkah kamu merasa terlalu singkat berada di suatu tempat dan rindu begitu cepat menyergap sesaat setelah kamu meninggalkan tempat tersebut. Saya baru saja merasakannya. Tiga hari berada di salah satu kota yang berada di Nusa Tenggara Barat ini terasa begitu singkat. Bagai dahaga yang belum tuntas, kami terpaksa meninggalkan Bima begitu cepat, membawa begitu banyak rasa yang belum terpuaskan. Bima memang terlalu indah untuk sekedar singgah.

  • Review 
  • Gallery 
 Begitulah kesan yang saya bawa pulang dari Bima, singkat tapi sangat mengesankan. Tanggal 31 Juli 2015 yang lalu, lewat undangan dari Fadlun Arifin –seorang teman blogger– saya dan teman perjalanan saya Evi Indrawanto bertolak dari Jakarta menuju Bima untuk bergabung bersama tujuh orang pejalan lainnya di sana. Dalam rencana, kami bersembilan akan berkeliling Kota Bima bersama teman-teman yang tinggal di Bima dalam rangka menyambut Festival Sangiang Api di kota tersebut. Di sana sudah ada Pak Alan Malingi, Fahru Rizki dan kawan-kawan yang memfasilitasi kami selama tiga hari berada di Bima.

Petak-petak tambak garam, begitu harmoni berdampingan dengan laut dan gugusan pulau
Petak-petak tambak garam, begitu harmoni berdampingan dengan laut dan gugusan pulau
Selamat datang di Bima
Selamat datang di Bima

Bima yang eksotis itu sudah terasa sesaat sebelum pesawat kecil berjenis ATR 72-500 yang membawa kami mendarat. Kontur daratan yang berbukit gersang bak savana sudah terlihat dari kejauhan. Lautan yang mengelilingi Nusa Tenggara Barat di sekitar Bima pun terlihat cantik dari jendela pesawat. Permukaan petak-petak tambak garam berkilau ditimpa kemilau mentari. Saya pun menggumam gembira membayangkan sebentar lagi saya akan menjejakkan kaki di sana.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pemandangan dari pondok pandang Pantai Ale

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kegembiraan saya semakin bertambah ketika dalam perjalanan dari Bandar Udara Sultan Muhammad Salahuddin menuju pusat kota Bima. Sepanjang perjalanan kami disuguhi bentang alam yang luar biasa. Kiri kanan jalan dihiasi bukit-bukit dengan tumbuhan yang berwarna kekuningan dengan dedaun yang terlihat meranggas. Namun justru itu yang membuat Bima semakin eksotis karena berpadu dengan permukaan air laut yang warnanya senada dengan biru langit yang cerah. Begitu juga dalam perjalanan dari Bima ke Sangiang, tebing, bukit, pantai dan lautan adalah pemandangan yang menjadi teman kami sepanjang perjalanan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Meski cuaca terasa terik di Bima dan sekitarnya, namun angin sejuk berhembus semilir membelai kulit. Bila siang hari, suhu udara di Bima terasa cukup panas namun pada malam hari terutama menjelang dini hari, suhu udara justru terasa sangat dingin. Saat matahari mulai bergulir ke arah barat, beberapa penduduk lokal terlihat menuntun kuda pacuan mereka ke laut yang sedang surut. Sambil melatih kudanya, warga lokal memang selalu memandikan kuda mereka di laut, agar kuat dan larinya kencang kata mereka.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bicara tentang cita rasa lokal, saya menangkap bahwa asam dan asin mendominasi kuliner di Bima. Tak heran ketika saya dan teman-teman menyempatkan diri berkunjung ke pasar tradisional, saya banyak menemukan penjual yang menjajakan buah asam yang sudah dikupas. Bahkan sambal yang mereka sajikan dibuat dengan sangat simpel dan praktis. Bawang merah dan cabe hanya diiris-iris dengan menggunakan pisau dapur. Bisa juga ditambahkan daun kemangi dan irisan tomat. Sebelum disantap, lalapan daun Kemangi dan irisan tomat diremas-remas terlebih dahulu dengan garam lalu dikucuri air jeruk nipis. Hmmm, nikmat sekali…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Asam Bima yang terkenal itu
Asam Bima yang terkenal itu
Komponen Sayur bening ala Bima,
Komponen Sayur bening ala Bima,

Perjalanan menikmati pemandangan dan kuliner lokal tak lengkap bila hari tak ditutup dengan menyaksikan matahari yang perlahan menghilang di horison. Banyak spot menarik yang bisa dijadikan tempat untuk menikmati sunses di sore hari. Meski awan selalu mendampingi mentari saat turun dan menghilang, namun semburatnya tetap memberikan kemewahan buat kita yang merasakannya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tak percaya, yuuuk aku temani kamu ke Bima…

View Gallery

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

23 comments

  1. Waaah indah sekaliiii….subhanalah….
    Nunung recently posted…Hidup Lebih Mudah dengan Samsung Galaxy Note 5My Profile

  2. mataharinya cakep bangeeeet.. huhuhuuu… kena virus ngebolang deh.. btw, itu tanggalnya nggak salah mbak? kok tanggal 31 Agustus ya?!

  3. Woww…..indahnyaaaaa….
    Terimakasih sdh mengajak kami mengintip indahnya Bima…smga suatu saat bs ke sana juga.. Aamiin…
    Maaf mbak, btl itu tgl 31 agustus 2015?
    Mechta recently posted…Jlamprang , motif batik khas Pekalongan.My Profile

  4. waw, asamnya panjang sekali…kebetulan di rumah jg lagi ada asam tailan yg pendek2 jd terasa bedanya 🙂
    kania recently posted…Makanan Yang Baik Dikonsumsi Saat Anak DiareMy Profile

  5. Benar ya mbak memang banyak tempat cantik di Indonesia ini. Bima salah-satunya.

  6. hmmm…. lihat asam kok bikin gigi linu 😀
    sariwidiarti recently posted…Soto tauco gang senggol : Penuh perjuangan!!My Profile

  7. waduh, cakep-cakep banget ya! perjalanannya juga udah cakep 😀
    Arifinda D. Putri recently posted…#DesiTravelDiary Upacara di Seaworld (?)My Profile

  8. Cantik sekali pemandangannya. Kapan ya saya bisa pulang ke sana,mengunjungi Nenek dan Kakek. Walaupun saya sedikit berdarah Bima, sayangnya Mama dan Papa membesarkan saya di tanah rantau sehingga nggak terlalu paham dengan Bima. Aaahhhh, i wanna back to my Grandparents hometown.

  9. Cantik sekali. Bikin saya kangen Nenek dan Kakek. Saya dibesarkan di tanah rantau, makanya … lihat Bima secantik ini membuat saya ingin pulang.

  10. Indah sekali ya mbak mataharinya…jadi semakin ingin pergi kesana lain waktu 😀

  11. Asem Bima masih rentengan gitu, ya. Nampak segar banget. Buat rujak segar banget pastinya. . .

    Aku diajak juga Juli lalu sama Mak Fadlun, tapi ngga jadi berangkat. Kasihan dedek di perut. 😀
    Idah Ceris recently posted…Kisah di Balik Panjat Rumah PohonMy Profile

  12. kapan-kapan aku diajak dong jalan-jlan mbak don 🙂
    Lidya recently posted…Perlengkapan Wajib di Kamar Mandi KamiMy Profile

  13. Duh, poto paling akhir ngga ngga ngga nguatin :p

    Aku selalu suka foto sunset beginian. Cakeeeppp! Ajak aku ke Bima!
    Lestarie recently posted…Teman Baru si Teledor, ASUS ZenPowerMy Profile

  14. foto yang sama kuda lari itu sungguh keren banget
    momennya tepat mbak 🙂

    kalo yang matahari saya jadi ingat di bukit lengkisau, sumbar…
    Choirul Huda recently posted…Jelang Hari Batik Nasional: Yuk, Biasakan Memakai BatikMy Profile

  15. woh asiknya..sudah ke Bima aja…. kangen dengan rumah kampung , masakan kampung dan suasana pantai ya mbak….

  16. Inilah pesona NTB mbak..
    Salam kenal dari Lombok ..

  17. kapan saya bisa ke Bima, foto pemangdangan jalan pinggir pantai bikin gregetan pengen kesana

  18. Bima bagus bgt ya.. kulinernya jg bikin pengen.. kalau begini sih emang ngangenin, pengen lagi ke Bima lagi 😀 eh tp aku wkt liburan ke NTB ga sempat ke Bima, sayang ya..
    Ristin recently posted…Banana PuddingMy Profile

  19. Mba, terimakasih yaa, udah sukses bikin aku kepengiiiin bangeet ke Bima hehehe.
    Nefertite Fatriyanti recently posted…Menyoal KetulusanMy Profile

  20. Saya dulu ke Bima cuma turun di terminal busnya tengah malam, setelah hampir 10 jam perjalanan darat dari Pototano. Lalu kembali melintasi Bima saat pulang ke Malang juga pas tengah malam, naik truk hahaha.

    Bener Mbak, terlalu indah untuk sekadar singgah. Kalau boleh subjektif, saya lebih memilih berlibur di Pulau Sumbawa ketimbang Pulau Lombok yang sudah ramai hehehe.
    Rifqy Faiza Rahman recently posted…#VisitJateng: Baturraden dan Air Yang Menghidupkan (4.1)My Profile

  21. cantiknyaaa pemandangannya, gadis Bima yang duduk di tangga juga cantik pisaan
    Dewi Rieka recently posted…Cinta dalam Sepotong Coklat di Chocomory Cimory BawenMy Profile

  22. Subhaanallah, sungguh indah ciptaanNya. Bunda pengen banget pesiar ke tempat2 seperti ini, tapi masih dalam angan aja. Yang bunda baru kunjungai Bali, Belitung, Tanjung Lesung dan beberapa pulau di kepulauan Seribu. Walaupun begitu memang ke mana pun kita pergi selalu meninggalkan sebuah kenangan dan selalu ingin kembali, one day. Foto2nya kereeen…
    Yati Rachmat recently posted…Hisana Fried Chicken?My Profile

  23. Sudah lama pengen ke Bima, padahal disana ada saudara kakak ipar Ima. Uwiiiih… indah pisaaan. Semoga ada jalan bisa pergi ke Bima, menikmati alam dan silaturahmi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge