Home » Flash Fiction » Kado Istimewa
IMG_0139

Kado Istimewa

Adisty bergegas menghampiri MPV putih yang parkir dengan mesin yang masih menyala. Dua kantong belanja ini sedikit menghalangi langkahnya untuk lebih cepat. Diliriknya jam tangan, raut wajahnya sedikit khawatir .

“Kamu terlambat hampir setengah jam dari waktu yang kita sepakati, Adis. Pasti keasikan belanja hingga tak sempat mengangkat teleponku” Arga mengomel pendek sambil melirik kantong belanja milikku di kursi belakang.

“Aku hanya membeli sedikit keperluan, maaf bila tak menjawab panggilanmu, tadi telepon aku pasang pada mode senyap saat rapat dan lupa aku kembalikan ke posisi normal”.

Arga tak menjawab, begitulah ia bila sedang kesal. Dan seperti mahfum, aku pun diam, tak berusaha memecahkan kebisuan. Nanti saja, pikirku. Tiga tahun sudah menjalin hubungan dengan Arga, Adisty kenal betul sifat lelaki yang menjadi kekasihnya itu. Sensitif dan keras kepala. Tak ada gunanya bersitegang. Mengalah adalah salah satu cara yang paling ampuh menghadapi Arga di antara beberapa cara lainnya. Sesekali aku marah dan kami bertengkar sampai saling diam. Namun lagi-lagi biasanya aku yang akan mengalah dan menyapa terlebih dahulu. Aku takut kehilangan dia.

Mobil perlahan meninggalkan parkiran, meluncur mulus di atas jalan tol. Adisty memilih melepas ketegangan dengan mengatur posisi sandaran kursi, memutar lagu favorit mereka. Di balik kemudi terlihat raut wajah Arga yang mulai mencair seiring perjalanan yang mulai menjauh dari Jakarta. Adisty tak ingin mengganggu konsentrasi Arga dan memilih memanfaatkan waktu untuk merancang sesuatu. Bibirnya tersenyum tipis.

Seratus enam puluh kilometer dari Jakarta, kami sudah di suatu tempat. Angin barat meniup kencang pohon nyiur hingga lambaiannya terlihat gemulai menari di balik jendela. Senja sudah lewat tapi aku masih betah mendengarkan detak jantung Arga di telingaku. Sebagian pipiku terasa hangat karena menempel rapat terlalu lama di dadanya yang bidang. Tangannya masih bergerak ritmis, lembut mempermainkan rambutku.

“Besok aku kembali ke Medan”

“Kalau begitu, kita menginap disini”

“Gak bisa, Adis. Aku tadi hanya pamit untuk memeriksa alat yang dikirim ke pabrik pada istriku”

“Kamu bisa katakan pada istrimu, pabrik di Cilegon bermasalah sehingga kau terlambat pulang, lewat tengah malam baru sampai rumah”

Arga belum menanggapi usulku saat telepon seluler miliknya di ujung ranjang berbunyi. Sepintas kulihat dari siapa telepon itu berasal dan berharap Arga tidak menjawabnya. Namun bukan sekedar menjawab, Arga segera bangkit dan berpakaian. Aku menghela nafas. Ada penat yang mendadak mendera. Telepon itu penyebabnya.

“Kita pulang sekarang, Adis. Pakai bajumu”

Aku diam sebagai bentuk protes.

“Sepenting apa kabar dari telepon itu hingga aku harus mengalah. Aku ingin disini, setidaknya malam ini”.

Arga memegang bahuku, tidak keras tapi juga tidak lembut sambil berkata tegas,

“Adisty, jangan konyol. Istriku memerlukanku malam ini, ayahnya baru saja terkena stroke”

“Tinggallah beberapa jam lagi, aku masih lelah” aku mencari alasan.

“Tidak, kita akan tetap pulang. Aku yang menyetir, nanti kita berpisah di tempat biasa”

Aku kesal, namun tak ada gunanya melawan. 

Ditempat yang sama saat aku dijemput tadi siang, kami berpisah. Aku memutar leherku. Dari balik kaca belakang taksi kulambaikan tangan pada Arga. Tak melepas pandangan hingga Arga benar-benar menghilang dari pandangan. Kali ini tekadku bulat. Ini pertemuanku yang terakhir dengan Arga. Rasanya aku sudah terlalu lama lelah. Sengaja kubiarkan dua kantong belanja yang belum sempat diturunkan tadi tetap di kursi belakang mobil Arga. Biarlah barang yang baru saja aku beli tadi menjadi persembahan istimewa malam ini, seistimewa kejutan yang aku rencanakan untukmu. Sayang sekali kamu bersikeras pulang sebelum jam berdentang dua belas kali.

Sebuah kue tart dan sehelai lingerie merah marun.

Selamat Ulang Tahun., Arga

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

Dokumen Pribadi

Prompt #48 Yang Tergantikan

Aku bergegas melangkah. Susah payah aku berjalan melewati gundukan demi gundukan tanah sambil terus memegangi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge