Sunday, September 24, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » insecurity in relationship
IMG_20130618_185258

insecurity in relationship

Entah sudah yang ke berapa kali saya menulis soal hubungan antar manusia, mungkin bagi yang rajin menyambangi blog saya bahkan bisa mendeteksi ketertarikan saya yang lebih mengenai hal ini, baik hubungan antar manusia, hubungan orang tua dan anak juga tentu saja yang tak kalah menariknya yaitu hubungan antara pria dan wanita yang seolah tak pernah habis-habis untuk di bahas.

Hubungan yang terakhir ini, meski sudah seringkali di bahas dan jadi topik perbincangan di setiap kesempatan, namun masih saja saya menemukan bahwa ada yang unik dalam setiap hubungan percintaan antara dua makhluk Tuhan ini, entah dalam ranah hubungan asmara yang belum terikat dalam pernikahan, hubungan pernikahan atau hubungan tanpa status. Selalu ada konflik yang mewarnai hubungan tersebut.

Ada berbagai kata kunci sederhana dan seragam yang bisa kita dapatkan dalam berbagai bentuk konflik hubungan manusia berbeda jenis kelamin dengan bumbu cinta di dalamnya, terutama hubungan yang sudah serius atau dalam hubungan pernikahan, seperti komunikasi, tanggung jawab, dan kesetiaan. Tak heran bila dalam suatu pembicaraan dengan seorang teman akrab via telepon sore itu, saya bergurau dengan nada skeptis ketika kami berbincang tentang masalah rumah tangga yang menurut ia seribu satu macamnya, sementara saya hanya mengatakan. “halah… sebagian besar kita terlalu sibuk menganalisa, padahal sebagian besar masalahnya, tak jauh dari persoalan pasangan yang sibuk sendiri, masalah keuangan dan perselingkuhan, karena komunikasi yang tak sehat, tanggung jawab yang diingkari dan kesetiaan yang dicederai”.

Teman saya itu tertawa mendengarnya, ia berseloroh bahwa tidak sesederhana itu permasalahannya. Lalu saya mengejar teman saya itu dengan pertanyaan lanjutan, lalu apa permasalahannya? Ia malah mengatakan satu kata yang pas menurut saya, ringkas dan mencakup semua permasalahan yaitu “insecurity”. Dan memang ini tak sederhana meski hanya satu kata.

Seperti bensin bertemu api, bahan bakar berupa kata insecurity yang bikin tangan saya gatal untuk menulis sejak kami berbincang saat itu, tersulut sempurna oleh curahan hati seorang teman dan sebuah artikel bertajuk Parodi oleh Samuel Mulia yang tak pernah absen mengisi kepala saya setiap Minggu pagi lewat media cetak Kompas. Lalu setelah menunaikan sholat subuh saya pun mulai menulis tentang insecurity versi saya.

Insecurity???
Saya berusaha mencari padanan kata yang pas tentang ini. Dari berbagai sumber yang saya peroleh, saya lebih suka mengartikan insecurity ini sebagai perasaan yang berkaitan dengan ketidakamanan, kegelisahan, ketidaktegasan, tidak kokoh atau tidak mantap. Perasaan yang paling sering menghinggapi wanita dibanding pria dalam sebuah hubungan atau setidaknya wanita yang lebih mudah mengungkapkan di banding pria.

Samuel Mulia menulis bahwa memiliki hubungan adalah pemenuhan kebutuhan yang tidak sekedar menyenangkan ego semata, tetapi mengekspresikan kemampuan seseorang untuk mencintai dan menerima kondisi yang dicintai. Sungguh indah bukan. Bukankah itu kebutuhan setiap orang? Untuk dicintai dan mencinta apa adanya? Tapi kok saya ragu ya apakah benar pertemuan dua manusia dengan kebutuhan yang sama akan membuat hubungan menjadi mudah?

Saya belajar dari banyak kasus, mereka yang menggadang-gadang soal cinta pertama dan terakhir sebagai kemasan pernikahan mereka, sehingga dengan kasat mata kehidupan pernikahan mereka bagai cerita dongeng yang dihiasi cinta dimana-mana. Ditebarkan di sosial media, dipajang di profile picture sampai menjadi “konsultan” pribadi beberapa teman bermasalah. Lalu apa yang salah ketika sang istri selingkuh dengan bekas pacarnya dulu. Disudut lain, ada pula cerita dari pasangan yang uang tak lagi jadi masalah, pasangan yang cantik jelita nan memesona dengan karir yang gemilang masih saja mencari wanita di luaran sana untuk menyalurkan hasrat. Dan yang lebih parah, kasus terakhir yang saya temui, pria menikah, kehidupan keluarga yang adem ayem, berwajah bagai malaikat, berkata bagai pengkhotbah ternyata tak lebih dari seorang lelaki pengobral nafsu. Mereka semua terikat dalam pernikahan yang sah.

Tak ayal kemudian saya ikut jua merenungi tulisan Samuel Mulia, jika pertemuan kebutuhan yang sama saja bakal berliku jalannya, apatah pertemuan kebutuhan yang berbeda tetapi tetap berniat membuat suatu hubungan terjadi? Bukankah insecurity pasti terjadi? Terbayang oleh saya rumitnya hubungan yang katanya kokoh karena bermodalkan cinta, tapi besok bingung bagaimana membayar uang sekolah anak. Sebaliknya, bukankah sama rumitnya ketika uang tak masalah tapi sesungguhnya tak pernah tahu pasangan ada dimana, sedang apa dan dengan siapa.

Ada kalimat dalam Parodi itu yang membuat saya tersentil, bahwa kita perlu membaca fakta dari kondisi setiap individu yang terlibat dalam sebuah hubungan, tak cukup hanya perasaan tapi juga melibatkan akal, tentu saja akal yang sehat dengan logika berpikir yang baik. Hubungan yang bermodalkan rasa cinta, namun lupa menggunakan akal dalam mencintai, akan membuat seseorang buta karena insecurity.

Akal memiliki kemampuan untuk menjelaskan bahwa cinta tidak dieksekusi seperti cerita dalam film, tidak dieksekusi seperti eksekusi milik orang lain. Kebutuhan akan rasa aman yang tak terpenuhi seperti ini jelas akan menghasilkan insecurity, lalu bermetamorfosa dalam bentuk lain, mencari rasa aman dengan orang lain, tak heran bila kemudian perselingkuhan menjadi hal yang lumrah terjadi dengan berbagai alasan, bentuk dan tingkatan, dari sekedar chit chat mesra sampai buka kancing baju. Tentu saja masih ada juga yang bertahan, meski diliputi perasaaan tak aman, tapi bisa dipastikan betapa lelahnya hubungan seperti ini, hubungan yang Samuel gambarkan sebagai hubungan antara satu manusia dengan mata sehat dan manusia dengan mata yang buta.

Tulisan ini lalu saya tutup dengan kalimat dari artikel tersebut, bahwa perasaan itu ibarat jalan, akal itu ibarat menyetir mobil. Akal yang memberi tahu, kapan harus menancapkan gas, kapan harus mengurangi kecepatan, dan mungkin berhenti sama sekali. Bebas hambatan itu bukan karena tak ada hambatan, melainkan menyetir dengan akal sehat.

Bagaimana dengan hubungan anda?
Kapan terakhir kali anda melihat pasangan anda tersenyum karena anda.
Sudahkah kita menyetir perjalanan hidup kita dengan akal sehat?

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

6 comments

  1. sarapan yang bikin kenyang ini 😀

  2. Hmmm… Menarik untuk dicermati, mak. Meski bingung mau komen apa. Kanan kiri, depan belakang, sepertinya hal tersebut, ada saja ditemui. But anyway, tfs ya mak

  3. Menarik untuk dipahami. musti dibaca berulang2 maaf belum bisa jawab pertanyaannya soalnya belum punya pasangan. tapi kalau orang tua tiap hari diusahakan untuk tersenyum kepada kita! :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge