Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » I am Not Ordinary People…I am a Dreamer
peu_20120504_6

I am Not Ordinary People…I am a Dreamer

Sesaat saya terhenyak, pias menghangat rasanya pipi saya melihat gambar yang dikirimkan seorang teman dan komentar dibawah gambar itu. “hebat !! wanita hebat dengan IQ luarbiasa” demikian tulisan komen tersebut dibawah gambar itu, sebuah screen shoot dari bio singkat saya di @donnaimelda, akun pribadi di twitter saya. Entah senang entah terhina saya membacanya, pokoknya rasanya gak karuan karenanya. Terlebih ketika komunikasi via chat box dilanjutkan saya menerima lebih banyak analogi serupa, “wanita hebat, tiada tara, tiada lawan, tiada tanding, tiada banding”, maka sontak saya hapus bio saya diakun tersebut dan mendadak saya gak tau siapa diri saya…..”who am I?”. Salah kah bio saya itu? terlalu pede? atau arogan? atau jangan2 menurut dia gak gitu kenyataannya?

Saya menghentikan perbincangan tersebut, menarik nafas panjang, mengambil sikap tubuh pada posisi “legawa” meletakkan tangan dibawah kepala dengan kaki berselonjor dibawah meja kerja saya.Lalu saya mulai berpikir, apa yg salah dengan bio tersebut, bukankah bio itu benar, bahwa memang saya hamba Tuhan, saya memang sangat suka belajar apapun sehingga saya menulis “pembelajar abadi” untuk mewakili kesukaan saya, lalu menulis peran saya yang utama sebagai anak, istri dan ibu dengan menuliskan “Beloved Daughter, Lovely Wife and Great Mom for Diba Rani”….lalu apa yg salah dengan tulisan itu. Apakah saya salah menulis profesi saya sebagai “Chemical Engineering Lecture” dan ketertarikan saya terhadap dunia finance, traveling, writing and photography dan menjadikannya sebagai profesi?. Saya tak habis pikir…..

Saya mencoba “merendah” dengan berpikir bahwa mungkin bio nya harus saya tulis “ordinary people bla bla bla”. Tapi saya gak menemukan diri saya pada tulisan itu. Saya merasa manusia yang spesial. Pemenang satu2nya dari jutaan “sperm” yang berhasil membuahi ovum. Saya dianugerahi Tuhan dengan kesehatan, talenta, keluarga, sahabat dan perjalanan hidup yang spesial dan unik yang patut saya syukuri sampai saat ini. I am not ordinary people and I am a dreamer….

Saya tau apa yang menjadi passion saya, potensi diri saya dan saya tau apa yang saya inginkan dan kemana arah saya harus berjalan. Bio itu menjadi afirmasi saya melangkah. Bahwa cita2 tertinggi saya dalah menyentuh sebanyak mungkin hidup orang lain melalui tubuh dan pikir yang Tuhan anugerahkan pada saya. Pada rangkaian doa dan ibadah yg semata hanya untukNya,pada ilmu yang saya bagikan di depan kelas buat mahasiswa saya, dedikasi saya buat orangtua, keluarga dan anak2 saya, serta melalui tulisan saya, photo2 yang saya buat dan nilai2 hidup yg saya bagikan yang saya dapat disetiap perjalanan2 saya.

Lalu teringatlah tulisan lawas Samuel Mulia dalam kolom Parodi di kompas minggu, Samuel menceritakan dengan sederhana betapa terkadang kita tidak menyadari potensi yang dimiliki oleh kita dan sering tenggelam bersamaan dengan waktu yang tidak bisa dimundurkan dan tidak bisa dimajukan. Entah apa yang menyebabkan hal itu. Apakah kita tidak mampu berpikir besar atau bahkan berpikir besar saja tidak berani. Atau karena sejak kecil kita dididik oleh pengajar yang juga tidak berani berpikir besar. Sehingga bila hendak menggambar pemandangan yang terbayang dikepala kita hanyalah dua buah gunung dengan matahari ditengahnya? Atau kita tidak berani berpikir besar karena nasehat yang kita terima dari orang2 disekitar kita adalah nasihat dari orang2 yang tidak berani berpikir besar. Sehingga mereka kerap mengatakan nasihat “bijaknya”, oalah nak….mbok jangan mimpiiiiii.!!! Atau karena kita takut ditertawakan karena menjadi besar menurut kita cukup sekedar pendeta, tukang masak,atau penjual bakso, demikian tutur samuel mulya. Dan saat kita bercerita dengan antusias tentang pikiran pikiran besar kita, kenapa teman2 kita tertawa tebahak-bahak, padahal kita tidak merasa itu adalah sebuah guyonan. Persis seperti yang saya rasakan saaat teman tersebut memberi komentar di awal tulisan tersebut. Kemungkinan besar ia sedang bercanda atau menggoda dan saya terpengaruh dengan candanya.

Saya butuh beberapa hari untuk merenungkan hal itu. Saya pikir ulang tentang segala, apa yang benar2 menjadi passion saya, apa tujuan besar hidup saya dan dengan apa saya sampai disana. Saya lalu menyimpulkan bahwa inilah perbedaan, kita tidak bisa memindahkan rasa. Pikiran mungkin bisa tersampaikan lewat kata tapi bagaimana dengan emosi dan rasa….hal yg sulit untuk ditransfer. Lah untuk menjelaskan apa itu “enak” pada sebuah makanan saja kita terpaksa mewakilkan melalui ekpresi kok, gak bisa dengan kata. Jadi ya wajar saja seseorang bisa merasakan hal yg beda atas bio saya tsb, tak ada emosi didalamnya seperti saat saya menukiskannya. I did my way. Saya berhenti menjelaskan diri saya, silahkan dianalisa sendiri begitu akhirnya yang saya tulis di bio saya. Toh, selalu ada dua sisi dalam satu koin uang, selama kita melihat dari sisi yang sama maka kita akan melihat gambar yang sama. Maka bila ada yang melihat gambar lain, itu tidak salah…ia hanya melihat dari sisi yang berbeda, seperti teman saya itu, besar kemungkinan kita melihat objek yang sama dari arah yang berbeda.

Samuel menutup parodinya dengan mengatakan: orang mungkin menganggap saya tidak menginjak bumi, bahkan menganggap sok dan lupa daratan, namun saya diam saja dan berjanji akan tetap menggali.
Bisa jadi setelah saya menggali saya tidak menemukan apa-apa, itu tidak masalah.
Namun saya bahagia karena saya telah menggali. Karena dengan menggali saya mempunyai dua kesempatan, tidak dapat apa-apa atau mendapatkan sesuatu.

….. kalau saya tidak menggali, saya tidak mendapatkan apa-apa, cuma memandangi sekop didepan mata.

Lembah Nirmala
Di penghujung kemarau panjang….5 September 2012
untuk belahan jiwa yang bersamanya kami tertatih
untuk berlari dan sampai pada impian kami

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge