Home » Cerita di Balik Kisah » hadirmu, dikedai sore itu

hadirmu, dikedai sore itu

Sesumbar kata merayakan ego, menantang Tuhan seolah sesuatu yang tak pasti akan lambat terjadi menggelayuti kakiku hingga berat langkah seolah tak mampu mengimbangi galau rasa ketika Tuhan menjawab tantangan ku tanpa mampu ku elak mempertemukan kami sore itu disebuah kedai.

sesumbar bahwa hanya campur tangan Tuhan lah yang bisa mempertemukan kembali dua orang yang saling melukai dan saling membenci.

Duduk ia disudut favoritku biasa menulis, tepat segaris lurus arah aku masuk dengan senyum yang sungguh kupaksakan hadir. Langkah bergerak secara mekanis, melewati jalur rutin setiap aku kesini, tapak kaki melangkah lurus kearahmu, dengan kepala tegak mencoba menantang matamu yang kau alihkan.

ah, Sudahlah….

bukankah sudah pernah kukatakan sejak dulu, hanya satu yang tak mampu kau taklukkan dengan kesombonganmu, yaitu kedua matamu. Mereka selalu jujur padaku, menyampaikan rasa yang kau punya, rasa yang seolah ingin kau rahasiakan di saat kau gundah, disaat kau kesal, saat kau merindu, saat kau berbohong dan saat-saat kapan kau bernafsu. Kamu memang masih harus banyak belajar untuk menjadi seorang pendusta.

Kujabat erat tanganmu, seerat pelukan beraroma tembakau setiap kali kita bertemu dulu,meredakan gelegak rindu dan mengalahkan jarak dan waktu yang selalu mengikat langkah untuk bersua.

kutantang kedua matamu, memaksa mereka untuk memandang wajahku meski hanya sepersekian detik.

Kulihat matamu membulat, menatap keatas kearah dua mataku yang berdiri tepat dihadapanmu, lalu dengan cepat kembali menatap meja meski mataku masih tajam memandangimu.

Ada apa dimeja itu, hai lelaki gagah? Lihat saja aku!

Apa aku tak secantik dulu, tak semanis dulu, tak menebar senyum khas ku seperti yang kau suka dulu…??

Bukankah kau sempat lihat tarikan garis bibir ku bukan, masih senyum yang sama,

masih dengan bibir yang sama, benda yang dulu acapkali kau lumat tak bersisa.

ya ya ya…aku ingat, tempat ini terlalu luas dibanding tempat kita biasa bertemu.

Tempat ini memang terlalu ramai, sayang, suasana riuh rendah oleh celoteh banyak manusia seperti ini bukan tempat kesukaanmu, tak menyajikan suasana yang mampu membuatmu adrenalin mu memacu dan membangunkan hasratmu untuk bercinta bukan?

Atau…sama terperanjatnya kah kita berdua dengan skenario Tuhan sore ini, sehingga kita sama tak sempat mengatur peran apa yang kita harus mainkan, kecuali upaya untuk mengatur rasa yang menggelegak, aku dengan amarahku dan engkau tentu saja dengan kesombonganmu.

Apa yang kau bayangkan sebelum pertemuan ini kekasih?

Nekad dengan sengaja menempuh jarak ke tempat ini, tempat yang sama dimana aku berpikir kau tidak akan berani menjejakkkan langkah kaki kesini, karena yang ku tau kau cukup pengecut untuk berani mengambil resiko bertemu dengan aku dan tentu saja bertemu dengan satu paket kenangan itu.

Atau memang inginmu melihatku saat ini?

dan sudah kau lihat aku wahai kekasih…?

aku masih hidup…

meski telah kau bunuh jiwaku kala itu

meski telah kau campakkan semua milikku…

meski sudah nistakan cinta dan kehormatanku.

aku tetap hidup !!

berjuang dari waktu ke waktu menepis semua tentang mu

mengangkat kepala setiap kenangan hendak merendahkan diriku

menengadahkan kedua bola mataku, untuk menahan setiap tetesan yang hendak jatuh dipelupukku

menarik bibir kearah tepi, supaya senyum mampu menghibur jiwaku

pada setiap doa yang kupanjatkan pada Dia yang kata mu Maha Kuasa

untuk menurunkan malaikat2nya menjagaku untuk tetap kuat

agar proses yang masih berlangsung ini mampu aku jalani.

agar mampu memahami arti kata perpisahan terindah yang kau ucapkan waktu itu

sebagai balasan ketulusan ribuan hari yang aku persembahkan untukmu atas nama cinta.

karena aku percaya bahwa janji Allah adalah benar,

cahaya bagi mereka yang kembali ke jalannya dan

kemulian bagi mereka yang mampu memaafkan…

maaf….

ini harus berakhir, semua bukan karena cinta,

hanya perasaan yang terbawa

begitu ucapmu padaku kala itu,

sebagai salam perpisahan…

semoga Tuhan menjagamu…kekasih, pada setiap perih tarikan nafasku karena mu

—————————————————————————————————

arti hadirmu, dikedai itu

suatu sore, 12 Juni 2011

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_1018

Yang Pertama Buatmu, Bukan Hanya Aku #ArgaSeries #5

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, seolah menopang isi kepalaku yang mendadak sarat oleh pengakuan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge