Home » Cerita di Balik Kisah » Gerimis di Tanah Baduy
Mereka yang belum tersentuh teknologi perlu pendampingan untuk meningkatkan perekonomian - Tenun Baduy
Mereka yang belum tersentuh teknologi perlu pendampingan untuk meningkatkan perekonomian - Tenun Baduy

Gerimis di Tanah Baduy

“Arga ?!…”, aku mendengus kesal saat melihat nama itu dalam daftar peserta tim survei yang akan berangkat ke Cibeo minggu depan.

“Mengapa harus Arga yang berangkat bersama tim kita?, aku bertanya pada Anton sebagai ketua tim.

“Kita perlu seorang dokumentator, Devina.”

“Mengapa tidak Nicholas saja seperti biasanya?” Aku bersikeras.

“Nicholas ditugaskan ke Jambi, lagipula kamu tahu bahwa di Baduy Dalam nanti kita tidak diperkenankan menggunakan kamera, Arga yang akan membantu kita menggambar beberapa sketsa selain mengambil foto di kawasan Baduy Luar.” Anton menjelaskan dengan tegas, menandakan ia tidak ingin didebat.

Aku diam, tak ada gunanya bersikeras dengan egoku. Anton pasti sudah memikirkan dengan baik rencana survei ini dan memilih orang-orang yang tepat didalamnya. Anton memang selalu handal dalam perencanaan, termasuk rencana pemetaan kami mengenai keanekaragaman hayati di wilayah Banten, khususnya di kawasan Baduy Dalam. Kemampuan Arga dalam mengambil foto dan membuat gambar serta peta tak perlu diragukan. Meski Anton tahu bahwa hubungan aku dan Arga terus memburuk akhir-akhir ini, aku tetap dituntut untuk mengantongi ego dan bersikap profesional bila masih ingin terlibat dalam proyek yang ia pimpin. Aku harus menghargai keputusan Anton.

***

Hampir satu jam waktu bergerak dari pukul setengah lima sore sejak aku, Anton dan Arga meninggalkan Stasiun Tanah Abang menuju Serang. Menggunakan Kereta Api Kalimaya kami akan berkumpul dengan dua rekan tim lainnya disana untuk mematangkan rencana, sebelum esok hari melanjutkan perjalanan menuju Cibeo yang berada di Kawasan Baduy Dalam. Perjalanan pendek ini terasa membosankan dan membuat resah. Arga yang sengaja mengambil tempat duduk terpisah dariku dan Anton, hanya terlihat punggungnya dari tempat dudukku. Anton lelap dalam tidurnya, sementara aku masih memandangi punggung laki-laki yang membuatku gelisah itu. Mataku menatap ke arah buku bacaan yang aku bawa, tapi pikiranku melayang ke arah yang berbeda. Halamannya senantiasa terbuka namun tak jua bertambah. Persis seperti hubungan kami yang jalan di tempat enam bulan belakangan ini.

Arga…, bagaimana aku tak gundah memandang punggungmu. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk kita sejak dipertemukan dalam sebuah proyek Hibah Penelitian di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat yang Anton pimpin. Banyak proyek pemetaan keanekaragaman hayati di lembaga penelitian ini yang kami kerjakan bersama di sela-sela tugas utama kami sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Lalu semua berubah, dari hanya sebentuk pertemanan karena persamaan minat, berlanjut menjadi sebuah persahabatan yang manis. Dunia kita berisi celoteh panjang bermalam-malam, kelakar sepanjang perjalanan, hingga pada suatu senja sebuah kecupan mengubah persahabatan menjadi romansa. Lalu kita mulai bicara tentang rindu, hasrat yang menggebu, hingga gelegak nafsu setiap bertemu. Aku sayang kamu, begitu kataku setiap aku luruh dalam pelukmu. Dan kamu, sibuk mengatur nafas sambil menanti keringnya peluh.

Aku mencintai lelaki itu seperti ia mencintai foto dan sketsa. Seperti ia mencintai gunung, pantai dan setiap mil perjalanan yang ia tempuh. Tak pernah kutanya lagi apakah ia sama mencintai diriku, karena jawaban yang ia sematkan di setiap lekuk tubuhku selalu gagal aku terjemahkan lewat aksara dan kata. Banyak waktu yang sudah kita lewatkan bersama. Di banyak koordinat dan ketinggian daratan yang kita pijak. Di sela-sela ilalang, semak dan berbagai jenis tumbuhan yang kami identifikasi. Banyak cerita dan kata cinta di antara angka-angka yang menjelma menjadi kurva, dan di antara rangkaian foto yang bercerita tentang suatu wilayah. Terkadang manis, terkadang pula tersesap sedikit pahit bagai kopi hitam yang selalu menemani diskusi kita, di banyak laporan dan tenggat yang acap merubah nasihat menjadi debat.

Begitulah kita hingga suatu hari hadir seorang wanita dari masa lalu dan kamu pun seperti menemukan kesenangan baru. Kecurigaanku tak beralasan katamu, namun telisikku membuatmu semakin menjauh dan kita makin jarang bertemu di luar urusan pekerjaan. Semakin aku mendesakmu, semakin jauh pula kamu menjaga jarak.

Egoku tertampar saat melihatmu bersama perempuan itu keluar dari sebuah hotel. Amarahku menggelegak, namun berondongan pertanyaan hanya kau balas dengan satu kalimat, “Devina, aku tak perlu menjelaskan apapun. Tak ada gunanya menghalau prasangkamu yang berlebihan. Kamu tak akan percaya kalo perempuan itu hanya sahabat dari masa lalu. Terserah kamu hendak bagaimana menyikapinya.”

Aku nyaris tak percaya dengan jawabanmu. Bisa jadi aku salah sangka, tapi mungkin saja kecurigaanku benar, namun apapun itu aku tidak terima semudah itu kamu melepasku. Aku kecewa dan memilih mundur teratur, menenggelamkan diri dalam berbagai hal dan kesibukan yang bisa membantu aku menjauh dan melupakan kamu.

Tentu saja tak semudah harapku melupakan Arga. Sesekali aku masih mencuri pandang bila kami kebetulan berada di ruang yang sama. Kami masih mengerjakan proyek di lembaga yang sama. Meski Anton sebagai rekan sekaligus pimpinan berbaik hati mengabulkan permintaanku untuk tidak lagi bersama dengan Arga dalam satu tim, tapi nyatanya kejadian seperti ini bisa saja terjadi. Selama tiga hari ke depan, kami akan bersama-sama mengerjakan survei ini.

Ah, waktu terus beranjak, lembayung senja di balik jendela kereta terlihat indah dan hangat. Sehangat pelupuk mataku yang kian penat menghadirkan kenangan tentang Arga sebelum kereta akhirnya berhenti di Stasiun Serang menjelang waktu Isya.

***

Tim ini sudah lengkap berlima dengan bergabungnya Diandra dan Rama semalam. Sejak pagi kami sudah bergerak menuju Stasiun Rangkas Bitung dan akan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mikro bus di Terminal Pariuk Aweh. Saat itu calon penumpang cukup ramai di terminal, terik matahari menyengat kepala hingga aku merasa sedikit pusing. Persediaan minumku habis. Setengah berlari aku menuju warung untuk membeli air mineral hingga lupa pamit pada Anton. Saat kembali ke tempat semula tak kutemukan Anton, Rama dan Diandra.

“Mereka sudah berangkat duluan, mikrobus yang tadi sudah penuh. Kita akan menyusul mereka dengan mikrobus berikutnya.”, Arga berkata tanpa perlu kutanya.

“Meski begitu, kamu toh tak perlu menunggui aku, aku bisa berangkat sendiri.” aku menjawab ketus.

“Gak usah keras kepala Vina.”

Aku tak sempat menjawab karena Arga tiba-tiba saja menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya menuju mikrobus. Aku menurut. Ia lalu membuka pintu penumpang bagian depan, memberi tanda dengan mata dan gerakan kepalanya yang tegas agar aku segera masuk. Dan aku lagi-lagi menurut. Tak lama kemudian, kendaraan mulai bergerak menuju Ciboleger, membawa aku dan perasaanku yang campur aduk. Arga selalu begitu, di balik sikapnya yang tegas dan keras kepala, ia adalah sosok yang peduli dengan orang lain.

Aku ingat bagaimana Arga selalu berada tak jauh dari aku untuk memastikan aku baik-baik saja saat kepayahan berjalan menembus sebuah hutan kecil di Sumatra. Situasi jalan setapak berupa tanah licin dan beberapa diantaranya lunak dan berair.  Di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di Kawasan Tanggamus, Lampung aku harus mengatasi tubuhku yang sudah cukup lelah berkendara selama 4 jam dari Bandar Lampung, melewati jalan yang mendaki dan berkelok-kelok untuk menjumpai beberapa Bunga Padma raksasa –Rafflesia arnoldii—yang sedang mekar di Plot Sample Permanen Bunga Rafflesia di Rhino Camp.

Tak banyak tempat di Indonesia untuk bisa menjumpai tanaman parasit ini di luar TNBBS. Selain di beberapa tempat di Pulau Jawa, Rafflesia arnoldii lebih banyak dijumpai di Pulau Sumatra terutama di daerah Bengkulu tempat dimana tumbuhan ini pertama kali ditemukan. Tempat tersebut diantaranya adalah Taman Nasional Kerinci Seblat, Pusat Pelatihan Gajah Seblat, dan daerah Padang Guci yang semuanya berada di Provinsi Bengkulu. Namun diantara semua tempat tersebut, TNBBS-lah yang dijadikan sebagai Pusat Konservasi Rafflesia arnoldii. Tak heran ketika kami mendengar ada bunga yang sedang mekar, kami segera berangkat dari Jakarta ke Lampung.

Di tempat yang dijuluki Unesco sebagai Cluster Mountainous Tropical Rainforest Heritage Site atau Situs Warisan Gugusan Pegunungan Hutan Hujan Tropis Sumatra kami juga harus masuk ke dalam hutan kecil yang tak jauh dari Rhino Camp. Saat itu, kami masih harus melakukan survei dan pemetaan beberapa vegetasi di sana. Ada bahagia melihat beberapa tumbuhan langka masih tumbuh dan berkembang dengan baik, terutama berbagai jenis Kantong Semar atau Naphentes yang menjadi tanaman favorit kami berdua.

Ada keunikan yang menjadikan tanaman ini menjadi tanaman kesukaan kami. Selain jenis, bentuk dan warnanya yang unik, tanaman ini wujudunya juga unik yang berupa kantung. Namun kantung-kantung ini bukanlah buah atau bunga dari Tanaman Naphentes melainkan ujung daun berupa sulur yang mengalami perubahan bentuk menjadi kantung. Di dalam kantung berisi cairan yang mengandung enzim pemecah protein yang berfungsi menghancurkan serangga yang terperangkap ke dalam kantung karena tertarik dengan warna yang cerah dan aroma yang dihasilkan Kelenjar Nektar di bibir kantung. Nah, serangga yang telah tergelincir masuk ke dalam kantung ini susah untuk melarikan diri karena terhalang oleh bulu-bulu di dalam kantung yang menghadap ke bawah. Unik bukan?

Hal-hal seperti inilah yang membuat setiap perjalanan kami saat bekerja bagai sebuah kesenangan, bukan sebuah kewajiban semata untuk mendapatkan rupiah. Kami sering menemukan banyak keunikan dalam keanekaragaman hayati Indonesia. Kesamaan minat dan visi untuk bisa sebanyak mungkin menjejak di pelosok Indonesia dan memetakan keanekaragaman hayati Nusantara menjadi sebuah misi hidup kami berdua. Meski kami dua orang dengan karakter yang sangat berbeda, satu kesamaan minat sudah cukup untuk membuat hubungan kami bertahan lama.

Arga memang keras, berbeda dengan aku yang lebih fleksibel bahkan terkesan mudah menyerah. Arga selalu detail sementara aku cenderung ceroboh. Namun kami saling melengkapi, menjadi penyeimbang satu sama lain. Aku mulai menyangsikan prasangkaku tentang perempuan itu, jangan-jangan memang aku yang terlalu dini mengambil kesimpulan. Jadi ketika Arga memutuskan menungguku dan memberikan tempat duduk di sampingnya dalam perjalanan ke Ciboleger kali ini, aku tahu itu juga salah satu bentuk perhatiannya kepadaku.

Aku tak tahu apa nama perasaan ini. Entah marah atau gundah, benci atau merasa terberkati. Yang jelas aku tak menampik rasa rindu yang membuncah, rasa yang berbulan kubungkus kemarahan. Aku membiarkan tubuhku terombang-ambing di setiap kelokan jalan di dalam mikrobus agar tubuhku bisa menyentuh bahunya, lengannya dan sisi tubuhnya. Aku menikmati aroma tubuhnya yang khas dalam jarak yang begitu dekat. Aku merindukan pelukannya. Dan Arga pun seolah paham dengan perasaanku, ia meraih lembut kepalaku sambil berkata, “bersandarlah bila lelah, Vina.”

Rindu ini seperti menemukan muara. Aku tak mampu menampik. Aku pun bersandar, dan membiarkan Arga menggenggam tanganku. Aku balas menggenggam lebih erat dan tak ingin melepasnya barang sejenak hingga kemudian gerimis menyambut kami di tanah Baduy.

Duhai Gusti, aku mencintai lelaki ini…

Sangat mencintainya…

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” yang diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

p20120517-102803

Lelaki Yang Sama #ArgaSeries #4

Kereta melaju kencang meninggalkan Stasiun Universitas Indonesia saat jam tanganku menunjukkan pukul sembilan pagi di ...

14 comments

  1. Hiyaaaa….penasaran eeeuuyyy sama kelanjutannyaaa. Kereen kereeeen
    Lestarie recently posted…Delapan Tips Saat Ambil CutiMy Profile

  2. Awesome Mbak Don. Dua jempol..
    Ya begitu lah cinta ya, demi tersalurkan rindu, mesti banyak maafnya 🙂
    Evi recently posted…Masjid Menara Kudus dan Makam Sunan KudusMy Profile

  3. Keren – keren 😀 Ada kelanjutannya enggak? Apa cuma berhenti di cerita ini?
    Fahmi recently posted…Seru – Seruan Di Trans Studio Bandung Bareng Travel Blogger Internasional!My Profile

  4. donna imelda

    pengennya sih bikin sambungannya hehehe, aamiin…doakan ya, Mas Fahmi
    donna imelda recently posted…Gerimis di Tanah BaduyMy Profile

  5. Ah keren. Akhirnya keduanya bisa menahan ego masing2 sehingga cinta menyatukan mereka kembali. Semoga menang mba 🙂

  6. Detail yg bagus tapi kebanyakan jg nggak bagus, membosankan. Sorry to say 😉

  7. Aaaaakkk…aku pun kenapa jadi jatuh cinta pada Arga ini. Karakternya keren banget Mb Don, persis dengan mantan pacarku yg gondrong… yg sekarang jadi suamiku hehehee….
    Uniek Kaswarganti recently posted…Dalam Pelukan SahabatMy Profile

  8. Bagus banget mbak ceritanya,,,, Anton keren ew masalah perencanaan. Tapi di keren menuntut seseorang untuk profesionalisme kepada rekannya yang terlibat cinlok… Hmmmm keren – keren 🙂

  9. Ah.. Cerpen ini baru aku baca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge