gelas pecah

Relationship like glass, sometimes it is better to leave them broken than try to hurt yourself putting it back.

Kalimat diatas menjadi kalimat pembuka Samuel Mulia di kolom parodi harian Kompas minggu pagi ini. Membaca kalimat diatas sontak dua nama melintas dikepala saya. Keduanya bukan orang baru dalam hidup saya, meski kalimat diatas seolah mewakili sesuatu yang saya rasakan akhir-akhir ini.

Orang yang pertama, seorang wanita sudah saya kenal sejak remaja 20 tahunan yang lalu dan yang satunya, seorang pria yang saya kagumi bahkan sudah saya kenal jauh lebih lama lagi yaitu sejak saya anak-anak berusia kira-kira sepuluh tahun. Namun ternyata puluhan tahun kenal dengan seseorang tidak menjamin kita mengenal baik satu sama lain. Sehingga ketika sudah seumur gini saya baru mengalami patah hati yang bila diibaratkan gelas sudah berkeping-keping.

Lalu kenapa juga bisa sampai patah hati begitu, karena salah satu kelemahan saya adalah suka sekali berbagi hati. *saya tersenyum saat menulis kata “berbagi hati”. Saya selalu dengan sepenuh hati dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan relationship, entah itu pada pria maupun wanita, pada keluarga, rekan kerja, apalagi pada sahabat-sahabat dan orang-orang yang istimewa dalam hidup saya. Pengen selalu melakukan lebih, pengen selalu memberikan sesuatu yang spesial, selalu ingin ada momen istimewa dengan mereka yang dengan hati saya berbagi. Namun ekspektasi kuat dari dalam diri untuk melakukan banyak hal dengan hati untuk orang lain justru menjadi titik terlemah saya ketika mereka melakukan sesuatu yang menyerang titik terlemah itu: my heart !

Hati saya retak karenanya, bahkan orang yang kedua membuat hati saya hancur berkeping-keping. Berusaha untuk mencoba tegar dan berpikir positif, lalu mencari pencerahan pencerahan supaya bukan hanya pikir saya yang positif namun juga perasaan saya. Alih-alih mendapat pencerahan, saya malah terperosok makin dalam karena saya memenangkan perasaan saya yang ingin dimengerti, inginkan empati lebih, dan ingin seluruh dunia tau saya sedang sedih.

Reaksi manusia dalam menghadapi sesuatu memang beragam, ada yang reaktif seperti saya, langsung merasa mati atau kiamat tlah datang. Lalu berhari bermalam menangisi kemalangan, atau berhari bermalam tak inginkan apapun. Fase berikutnya mulai mencari pembenaran atau kalau lebih memang lagi lebih bijak diikuti dengan mendudukkan persoalan pada proporsi yang benar, mencari solusi nya dan melakukannya, dan percayalah yang terakhir ini fase yang terberat. Karena sungguh lebih mudah buat kita nangis bombay ala bollywood, mencari simpati sambil terus memaki orang yang menyakiti kita.

Nah kembali ke kutipan diawal tulisan, untuk kedua orang ini saya sudah melalui beragam fase diatas. Meski saya sudah berada di titik “masalah ini sudah clear” tapi kenapa saya sudah kehilangan selera ya dengan dia?

Persis seperti gelas yang sudah retak itu, gelas yang satu malah sudah berkeping-keping. Meski saya sudah rekatkan lagi gelas itu, bahkan berdarah-darah memunguti satu persatu serpihannya lalu pelan-pelan dengan amat melelahkan menempelkan kembali agar gelas itu utuh, tetap saja cerita selanjutnya tak seindah yang diharapkan. Direkatkan satu pecahan,muncul retakan ditempat lain. Dilekatkan retakan di satu sisi, pecah disisi yang lain. Sungguh menghabiskan energi saya yang sejatinya bisa saya alihkan untuk mengerjakan hal lain. Saya cape..itu yang saya katakan untuk relationship yang seperti ini. Sangat melelahkan.

Suatu hari saya menemukan sebuah quote yang mengatakan bahwa “Relationships do not need promises, terms & conditions. It just needs two wonderful people. One who can trust & one who can understand”, lalu bila memang diantara dua orang yang tidak saling mengerti ini bertahan, bukankah hanya sebuah keterpaksaan saja bentuknya. Saya paham bahwa “There are certain people who are not meant to fit in your life, no matter how much you want them to”. Jadi untuk apa saya memaksakan diri.

Saya putuskan untuk memiliki gelas baru.

Setelah hari itu, saya mulai menemukan diri saya lagi, kebahagiaan dalam berhubungan dengan orang lain dan secara optimal menggunakan energi saya untuk terus bergerak. Seperti yang Samuel Mulia katakan, gelas baru itu bukan sekedar mengganti namun juga memberi saya harapan baru, semangat baru bahkan warna baru dalam jiwa saya. Yang penting adalah bagaimana saya bisa bijaksana memilih gelas yang baru dan berani kehilangan gelas yang lama.

Menempuh perjalanan baru dengan gelas gelas yang baru tidak menjanjikan lebih mudah bahkan tidak menutup kemungkinan kita tetap bisa kehilangan gelas lagi.

Namun menutup tulisan ini dengan mengutip tulisan beliau bahwa : belum tentu upaya saya menyambung atau merekatkan kembali gelas-gelas yang sudah retak tersebut, mereka akan jadi bahagia karenanya, jangan-jangan membiarkannya seperti itu justru akan membuat mereka bahagia.

Ruang A12 FTI-UJ

Saat kuis thermodinamika berlangsung

3 Juli 2011, 11.20

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

4 comments

  1. Superb! Huhuu… Cuma bisa bilg gitu sambil menebak2 siapa 2 org itu. Dan… Drama gelas kita. Wkwkwk
    Noe recently posted…Kisaran Harga Oleh-oleh Khas ThailandMy Profile

  2. Kalo gelasnya dari plastik, mungkin tidak akan pecah ^_^
    *apa_seehhhh ?*

  3. Terharu bacanya mbak. Mungkin karena saya mengalami hal yang sama. I gave all my heart, justru mereka menggunakan rasa sayang dan pengorbanan. Saya hanya dimanfaatkan untuk kepentingan. Padahal kita akrab sejak kuliah dulu. saya cuman mengambil hikmah, sedaih juga bahagia, biarlah orang orang yang tulus emnyayangi yang tinggal dalam hidup. yg lain… let it broke in piecessssss 🙂
    Emakmbolang recently posted…Peradaban Islam di Taman Lodi Tayang di Scarf MagazineMy Profile

  4. Daleem banget Mbak tulisannya, saya setuju dengan quote di atas jika memang suatu hubungan hanya saling menyakiti buat apa dipertahankan. Salam kenal dari Malang.
    Ihwan recently posted…Dari Keluarga Untuk SemuaMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge