Home » Flash Fiction » [FF Cinta Pertama] Penantian
IMG_20130622_175055

[FF Cinta Pertama] Penantian

“Aku berharap sekali kamu bisa datang ke rumah. Hanya perayaan pernikahan sederhana. Sampai jumpa Minggu pagi, Vina. Aku dan Panji sudah kangen dengan kamu dan teman-teman lain. Kita bisa sekalian reuni disini.” Mama menutup pembicaraan teleponnya dengan Tante Vina.

Aku menghela nafas sambil memperhatikan mama yang sibuk. Telepon genggam tak lepas dari telapak tangannya yang telah keriput dimakan usia. Entah sudah telepon yang keberapa yang beliau hubungi menjelang hari pernikahan ini. Tak ada undangan yang dicetak, tak ada pelaminan yang dipasang layaknya sebuah resepsi pernikahan pada umumnya. Aku sedikit muram, bukan karena aku tak ingin bahagia seperti mama. Aku hanya teringat papa yang sudah meninggalkan kami sebelas tahun lalu. Aku harap beliau ikut merasakan kebahagiaan yang sama di surga. 

Pikiranku melayang. Tujuh hari lagi. Akhirnya waktu itu akan tiba, dan aku masih saja resah. Rencana pernikahan ini mengusik benakku. Teringat percakapan beberapa bulan lalu dengan kekasihku, Arga.

“Adisty, seandainya nanti keadaan kita sudah memungkinkan, maukah engkau menikah dengan lelaki yang mungkin paling kamu benci dalam dalam hidupmu?” tanya Arga.

“Mengapa kamu pikir aku akan membencimu, Arga. Darimu aku mengenal bagaimana rasanya mencinta. Aku mencintaimu sebagaimana ibumu mencintaimu dan akan terus mencintaimu seumur hidupku meski kau harus menuruti keinginan orangtuamu yang menolakku sebagai calon menantunya.” jawabku.

“Lagipula, apakah bila cinta kita menempuh jalan yang salah, maka apakah itu berarti kita akan berhenti saling mencinta?” Aku balik bertanya.

“Sampaikan saja harapanmu, malaikat akan mencatatnya, Arga. Lalu serahkan pada takdir untuk menjawabnya. Dan apapun itu, aku akan selalu menerima takdir yang Tuhan sediakan buatku.” jawabku sambil menahan kesedihan.

***

Minggu pagi, mama terlihat cantik menggunakan kebaya berwarna broken white yang dipadankan dengan Kain Songket merah maroon kesayangannya. Aura kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang sudah dihiasi kerut. Aku bisa merasakan kebahagiaan yang mama rasakan. Tawa lepas dan obrolan hangat dengan tamu yang sebagian besar sahabat-sahabat beliau saat muda bagai air yang terus mengalir. Aku memperhatikan lelaki yang terus menggenggam tangan mama yang berada disampingnya. Seorang pria jelang senja seusia mama, dengan wajah yang juga dihiasi kerutan. Pria yang datang dari sebuah masa dimana mama masih seorang gadis kecil dengan rambut panjang dikuncir kuda dan jatuh cinta untuk pertama kalinya pada anak lelaki tampan yang menjadi ketua kelas. Seragam mereka berwarna putih merah kala itu. Anak lelaki yang bernama Panji itu adalah lelaki yang kini aku panggil papa.

Tak ada alasan untuk tidak ikut larut dalam kebahagiaan mereka. Segera aku menulis pesan singkat untuk ia yang pertama kali mengenalkan aku dengan cinta saat kami masih remaja.

Arga yang aku sayangi. Hari ini aku belajar banyak tentang cinta dan takdir. Penolakan orangtuamu bukanlah kiamat bagi cinta kita. Berjanjilah untuk lagi tidak bicara tentang cinta dan rindu. Karena di relung paling dalam di antara cinta dan rindu, ada kidung paling indah yang pernah kita cipta. Senandungnya jauh lebih indah di dalam hati dibanding bila kita ungkap dengan kata. Dan buatku itu sudah lebih dari cukup. Aku akan menantimu, meski harus menanti sampai aku setua mama.

Aku mencintaimu, Arga.

*Ditulis dalam rangka lomba penulisan Flash Fiction yang disponsori oleh @Stiletto_Book dan @RedCarra. Jumlah kata 499.

 

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P6060276

Prompt #43 Kembali

“Sehari setelah resepsi, kita berangkat ke Bali, Saras. Sepertinya kamu harus mengambil cuti lebih panjang ...

7 comments

  1. wah… jangan menunggu lama-lama 😀

  2. kasihan dong lama banget menunggunya ya mbak 🙂

  3. donna imelda

    Mas Jampang, mbak Lidya…iya nih, hiperbola ya? hehehe. Biar terkesan cinta pertama yang gimana gitu… seumur hidup pun tetap dinanti. Aihhhh. Thanks ya

  4. Makasih, Mbak, udah ikutan ~~\o/

  5. kisahnya so sweet nih mak… jadi kyk film – film di tv gitu hehe semoga menjadi keluarga bahagia 😀 amiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge