Sunday, September 24, 2017
Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Festival Krakatau 2015: Lampung Culture and Tapis Carnival V
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Festival Krakatau 2015: Lampung Culture and Tapis Carnival V

Karnaval Budaya, selalu menjadi perhelatan yang berhasil menyedot animo masyarakat umum untuk hadir dan menyaksikan. Berbagai atraksi seni dan budaya ditampilkan didalamnya, tak ketinggalan pula kostum fantasi yang kini memiliki daya tarik tersendiri dan hampir selalu ambil bagian dalam sebuah parade budaya di berbagai kota. Lampung pun tak kalah semarak, masih dalam rangkaian Festival Krakatau 2015, telah digelar Lampung Culture and Tapis Carnival V pada tanggal 30 Agustus 2015 kemarin.

Pukul satu siang di Bandar Lampung. Arak-arakan belum lagi dimulai saat saya dan teman-teman tiba di lokasi parade budaya, namun deretan kursi undangan dibawah tenda bernuansa biru putih sebagian besar sudah terisi oleh para tamu undangan, pertanda acara tak lama lagi akan dimulai. Masyarakat umum yang ingin menyaksikan parade budaya juga berangsur mengisi ruang di kiri dan kanan badan jalan, berbekal payung dan topi, mereka tumpah ruah tak peduli panas menyengat kulit mereka.

Keramaian memang memiliki daya magis, untuk sejenak kita akan abai dengan urusan panas, perhatian kita tertuju suasana di sekitar kita, pada sosok-sosok yang tampil sebagai bintang acara, entah itu pada dandanannya, kostumnya atau bahkan pada tingkah laku mereka yang menarik perhatian. Begitu juga saya. Perlahan saya menelusuri jalan Dr. Susilo, melihat satu per satu keunikan yang mereka tampilkan sambil mengambil gambar.

 

Sesekali saya berdecak kagum melihat kostum yang menempel di tubuh mereka, buah karya kreatifitas yang memadukan unsur tradisonal yang terlihat begitu megah dan spektakuler. Tak jarang pula saya tersenyum melihat tubuh-tubuh molek dan manis rupa dengan balutan pakaian tradisional yang dimodifikasi secara sederhana namun tetap memiliki daya tarik yang memandangnya. Wajah-wajah gadis belia dengan dandanan yang membuat aura kecantikan mereka semakin terlihat.

Di antara itu semua, ada hal yang menarik perhatian saya yaitu kehadiran kontingen dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya menikmati sekali keberadaan mereka yang berdandan ala Limbok (Abdi Dalem) dengan tingkah laku yang konyol mengundang tawa. Dandanan mereka sengaja dibuat menor mewakiili beberapa karakter manusia, ada yang selalu tersenyum, ada yang sedih dan ada yang jahil dan ada yang terkesan galak. Namun tetap lucu dan menarik.

Saya menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan mereka, melihat dari dekat bagaimana face painting tebal itu bisa melekat sempurna di wajah mereka. Lalu terbayang totalitas yang mereka berikan buat acara ini. Bukan perkara mudah sebenarnya bila kita tidak melakukannya dengan gembira dan sepenuh hati. Terpapar di bawah sinar matahari dengan dandanan yang nyaris menutupi pori-pori kulit wajah sejak pagi dan kostum heboh dengan aksesoris beraneka rupa yang menggelayuti tubuh. Tapi toh nyatanya mereka melakukannya dengan enjoy dan mempersembahkan yang terbaik buat penonton. Ah… salut.

Jam tiga sore baru acara ini dimulai, sesaat setelah Gubernur Lampung Bapak M. Ridho Ficardo dan Ibu Yustin Ficardo menempati panggung di depan Gedung Mahan Agung tempat beliau berkantor. Terlambat beberapa jam dari jadwal semula sepertinya hal yang biasa. Sebuah tarian kolosal akhirnya memecah kebekuan penantian. Puluhan penari-penari cantik berpakaian warna-warni biru, hijau dan orange membawakan tarian yang berjudul Ngapui Resahko Hati.

Tarian ini menceritakan tentang sejarah vulkanologi Gunung Krakatau termasuk saat Krakatau meletus pada tahun 1883 dan mengakibatkan tsunami besar saat itu. Tarian ini dibawakan sangat apik dengan iringan musik yang mengena di hati. Tanpa sadar saya ikut larut dalam tarian tersebut. Ikut merasakan kesedihan yang mendalam saat mereka menggambarkan bagaimana Tsunami dan letusan Krakatau memporakporandakan kehidupan manusia. Musiknya begitu lirih mengiringi gemulai mereka menari dengan ekspresi pilu seolah tak terobati.

Namun sesaat kemudian, suasana duka berganti ceria, musik pun mengalun riang, penari memainkan kipas warna –warni dengan langkah kaki begitu rancak berpindah kesana kemari, menandakan kehidupan kembali bersemi. Saya menangkap moral of story tarian ini, bahwa ada masa bersedih, namun masa pasti pula berganti. Kebahagiaan pasti akan datang di hari nanti. Begitulah hidup bukan? Jadi… mari kita hapus resah di hati.

Sepasang Gajah dipandu dua orang pawang memasuki areal utama parade budaya. Di punggung masing-masing Gajah, duduk dua orang Putri Indonesia yang dengan anggun melambaikan tangannya kepada penonton. Begitu memesona, sesuai dengan tajuk yang disematkan pada parade bagian ini, The Greates Harmony, Pesona Gajah Lampung. Kecantikan Putri Indoneisa yang bertubuh mungil kontras berpadu dengan hewan bertubuh tinggi besar.

Perhatian saya terusik sebuah memori yang melintas di kepala saya saat berada di Kerala, India beberapa bulan lalu. Teringat betapa protes keras dilayangkan oleh beberapa travel blogger dunia pada pemandu wisata kami saat menampilkan atraksi gajah pada prosesi penyambutan kami di sebuah hotel. Menurut mereka, pemerintah India harusnya tidak membiarkan Gajah diambil dari habitatnya, dikurung dan dijadikan sebuah atraksi.

Diskusi cukup panas terjadi karena pemandu wisata kami memiliki alasan tersendiri yang tetap tidak bisa diterima oleh mereka. Menurut mereka, biarpun Gajah-Gajah itu diperlakukan dengan sangat baik bahkan dikeramatkan, binatang ini adalah binatang buas dan bukan binatang domestik yang bisa dipelihara layaknya kucing atau anjing di pekarangan rumah. Mengembalikan mereka ke habitatnya atau setidaknya menempatkan mereka di wilayah konservasi adalah salah satu solusinya.

Parade Budaya terus berlanjut, satu persatu peserta pawai menunjukkan atraksinya, termasuk parade dan lomba kostum Tapis Fantasi. Tak kurang dari dua puluh kontingen yang terlibat dalam prosesi ini, baik yang berasal dari Bandar Lampung dan sekitarnya maupun yang berasal dari luar kota seperti beberapa kota dan kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, dan Banten. Akhirnya pertunjukkan Barongsai tampil sebagai atraksi penutup seluruh rangkaian Lampung Culture dan Tapis Carnival 2015.

Sampai jumpa tahun depan ya…

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

8 comments

  1. Ah karnaval ini keren banget. Semoga tahun depan berkesempatan lagi mwnyaksikannya ya, Kak 🙂
    Evi recently posted…Makan Malam Seru di Kopi Oey Bandar LampungMy Profile

  2. Enggak ikut nonton untuk yang tahun 2015. Waktu yang 2014 hadir, dan memang meriah…
    tapi ini bagian yang paling seru sepertinya :
    “Terlambat beberapa jam dari jadwal semula sepertinya hal yang biasa.”
    😀
    iKurniawan recently posted…Mobil Sedan Retro : BMW E30 318i (M40)My Profile

  3. mudah-mudaha punya kesempatan untuk mampir ke festival ini yah. sekalian icip icip kulinernya hehehe

  4. cantik cantiik dan kinclong mbak fotonya, kaya juga ya adat Lampung.
    Si ibu gubernur pun cakep sunggingan senyumannya, dan tentulah bukan pake kamera Hp ya motretnya , hahhahaa

  5. Semoga taun depan bisa ikutan *pasang doa dari sekarang*
    Lestarie recently posted…Blog Tour + Giveaway Single Happy – Memori Cinta Anak KosMy Profile

  6. Kereeennn event dan dokumentasinya, Mak. Itu dapet banget sih foto yg ngiket tali sepatu. Hehehe. Salam buat ibu gubernur yaaa. Cantiknya banget banget. Tapi tadinya aku kira beliau itu Siti NUrhaliza. Hehehehe

  7. pdhl lampung ga begitu jauh dr jkt.. nth kenapa ga sempet2 mw liburan kesana … cantik2 bgt yg ikut festival ya mbaa

  8. Mba, kenapa ngga diajak? kan bisa ketemu sama gubernur yang membuat saya terpesona hahaha
    Cuantiknya itu loh hahaha
    Salman Faris recently posted…Serunya 20 Challenges ACE HardwareMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge