Thursday, November 23, 2017
Home » Review and Event » Festival Kota Layak Anak 2015: Semua Anak, Anak Kita!
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Festival Kota Layak Anak 2015: Semua Anak, Anak Kita!

Tanda tanya besar menghampiri saya saat pertama kali mendengar istilah Kota Layak Anak. Adakah kota yang tak layak buat anak? Lalu kota seperti apa yang masuk kategori layak buat anak?. Tanya inilah yang kemudian membawa langkah saya ke Festival Kabupaten/Kota Layak Anak 2015 yang digelar oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Plaza Tenggara Gelora Bung Karno, Senayan pada Hari Sabtu, 7 November 2015 kemarin.

Festival Kabupaten/Kota Layak ini sebenarnya diselenggarakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 7 dan 8 November 2015 dan dibuka langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembesi. Bersama putri pertama saya dan dua orang sahabat, kami sengaja datang sejak pagi-pagi sekali agar bisa menikmati lebih banyak acara sambil menikmati udara pagi yang masih sejuk dan nyaman.

Saat saya tiba, keramaian sudah mulai terasa, pengunjung berangsur-angsur tiba di lokasi. Panitia, petugas dan pengisi acara pun sudah tiba dan terlihat sedang bersiap-siap dengan tanggung jawabnya masing-masing. Tenda-tenda booth pun sudah berjajar rapi di sisi kiri dan kanan panggung utama. Sementara itu di depan panggung, sekelompok orang sedang menggelar matras, bersiap membuka pagi dengan yoga bersama. Sayang kami tak menyiapkan alas yoga sehingga tak bisa turut serta dan hanya menyaksikan dari dekat.

Diawali oleh tiga gadis cantik yang dengan gemulai membawakan tarian dari tanah Betawi, acara baru dimulai sekitar pukul sembilan pagi saat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak, Yohana Yembesi dan Presiden Direktur Sarihusada, Oliver Pierredon tiba di lokasi. Ditandai dengan penabuhan gendang oleh keduanya, maka dengan resmi Festival Kabupaten/Kota Layak Anak 2015 (Festival KLA 2015) pun dibuka.

Saya tertarik dengan sambutan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang mengatakan bahwa semua anak wajib dipenuhi hak-haknya dan dilindungi. Festival KLA 2015 adalah salah satu langkah kongkrit pemenuhan hak dan perlindungan anak menuju Indonesia Layak Anak atau IDOLA, sekaligus wujud komitmen negeri ini terhadap gerakan dunia untuk menciptakan “World Fit for Children” atau Dunia yang Layak Bagi Anak.

Maka dengan hadir di acara tersebut, saya pun akhirnya mengerti bahwa untuk mewujudkan hal tersebut, ada lima klaster yang harus dipenuhi. Itu juga sekaligus untuk percepatan pembangunan menuju Indonesia Layak Anak atau IDOLA, yaitu Indonesia dengan kabupaten dan kota yang memenuhi hak-hak anak. Kelima klaster tersebut adalah:

1. Hak terhadap sipil dan kebebasan
Masih banyak lho anak-anak Indonesia yang tidak memilki akta kelahiran. Alasannya bermacam-macam, sebagian besar karena orang tua yang tak memahami proses pengurusannya, bahkan masih banyak yang merasa biaya prosesnya terlalu mahal. Padahal waktu saya mengurus akte kelahiran dua putri saya, saya hanya perlu mengeluarkan biaya berapa puluh ribu saja.
2. Hak terhadap lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif
Keluarga adalah pengasuh yang utama dan pertama, pastikan mereka ada dalam pengasuhan dan lingkungan yang baik. Tak ada lagi anak yang merasa diabaikan bahkan merasa tak disayang oleh keluarganya. Itulah mengapa meski saya perempuan bekerja, saya tidak pernah menyerahkan pengasuhan anak-anak saya pada orang lain. Saya selalu menyediakan waktu yang berkualitas dalam jumlah yang cukup untuk anak-anak saya. Oh ya, cegah anak-anak Indonesia di luar sana yang ingin atau dipaksa menikah muda.
3. Hak terhadap kesehatan dasar dan kesejahteraan.
Anak-anak Indonesia harus sehat, bebas dari bahaya rokok dan narkotika. Berikan ASI ekslusif untuk bayi kita, serta pastikan mereka berhak mendapatkan akses kesehatan dengan pelayanan yang ramah
4. Hak terhadap pendidikan, pemanfaat waktu luang dan kegiatan budaya
Anak-anak harus sekolah, dan wajib belajar minimal pendidikan 12 tahun di sekolah yang ramah anak dengan rute aman dan selamat, ke dan dari sekolah. Jangan ada lagi tuh, berita-berita sekolah yang tergusur, roboh atau reot dengan guru-guru yang intimidatif. Jangan ada lagi juga berita yang menceritakan anak-anak Indonesia yang harus bertarung dengan maut untuk bersekolah karena akses transportasi yang sedemikian sulit.
5. Hak atas perlindungan khusus
Kalau ingat hak anak yang ini, saya ingat beberapa kasus yang saya temui dalam beberapa kegiatan volunteering saya terkait dunia pendidikan dan Anak Indonesia. Masih banyak anak-anak berkebutuhan khusus yang belum terpenuhi haknya. Masih banyak anak-anak yang belum terlindungi dari tindak kekerasan orang dewasa di sekitarnya, dipaksa bekerja dan terpaksa meninggalkan bangku sekolah.

Lima hak tersebut cukup mengulik nurani saya. Buka  hal yang mudah untuk mewujudkannya. Namun bukan juga hal yang mustahil. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang hak-hak anak tersebut, di Festival KLA 2015 kemarin saya dengan sengaja mengunjungi satu demi satu tenda-tenda yang mewakili kelima klaster tersebut. Kebetulan pula, panitia membuat sebuah permainan menarik yang saya perkirakan tujuan permainan tersebut adalah agar pengunjung bersedia meluangkan waktu satu persatu mengunjungi booth-booth tersebut. Dengan mengunjungi booth tersebut ,maka pengunjung akan mendapatkan informasi lebih lanjut dan pada akhirnya diharapkan bisa ikut berkontribusi nyata untuk mewujudkannya.

Dalam permainan tersebut, saya dan pengunjung lainnya diberikan selembar kertas yang harus dibawa ke setiap booth yang mewakili setiap klaster. Nah, setiap selesai kunjungan, mintalah stempel dari petugas yang berjaga di sana. Dengan melakukan hal yang sama di lima booth yang ada, maka kita akan punya lima stempel lengkap dari semua booth dan bisa ditukarkan dengan voucher untuk digunakan berbelanja di food bazaar. Seru khan dan tak terasa jadi tambah ilmu deh.

Kegiatan Festival KA 2015 ini adalah diutamakan dengan kegiatan talk show terkait lima klaster hak anak di atas dengan menghadirkan beberapa nara sumber, baik yang berasal dari pemerintah, praktisi, pakar bahkan komunitas. Topiknya semua menarik, sayang hujan yang turun di saat acara berlangsung membuat saya tak sempat mengikuti talk show tersebut satu per satu. Beruntung saya masih sempat mendatangi seluruh booth dan menikmati beberapa pertunjukan dan hiburan termasuk menikmati makanan yang dibeli di food bazaar dengan voucher gratis.

Nantinya diharapkan kegiatan ini bisa terus bergulir dan bisa menerapkan prinsip-prinsip Kota Layak Anak di seluruh kabupaten/kota di tanah air. Festival KLA 2015 ini juga diharapkan memberi dampak terhadap terwujudnya Indonesia Layak Anak yang akan membawa anak Indonesia menjadi anak yang lebih berkualitas di setiap aspek kehidupan serta dapat berperan sebagai subyek aktif dalam pembangunan ke depan.

Dengan tag-line “Semua Anak, Anak Kita”, jelas bahwa mewujudkan Kabupaten/Kota Layak Anak adalah tanggung jawab kita semua dan hanya bisa terwujud bila kita semua, baik orang tua, anak, masyarakat umum, pemerintah serta pemangku kepentingan lainnya bersinergi dan berkontribusi nyata mewujudkannya. Lalu bagaimana dengan anda, sudah siap untuk turun tangan mewujudkannya?

Yuk kita wujudkan Kabupaten/Kota Layak Anak di seluruh Nusantara, karena “Semua Anak, Anak Kita!”

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170624114433

[Resensi Buku] JAVASIESTA 17/17 – Indri Juwono

Perjalanan dengan seorang teman juga menjadi kendali pada diri sendiri. Bisakah tetap dengan karakter sendiri, ...

3 comments

  1. Saat ini memang anak-anak banyak yang kehilangan tempat bermain ya mbak, kalau dulu masih banyak tanah kosong untuk sekedar duduk-duduk sore atau kejar-kejaran 🙂
    Esti Sulistyawan recently posted…Hitung Biaya KPR Rumah Murah Second!My Profile

  2. Anak2 pasti betah banget berada di kawasan ini ya, Mbak. Semoga yang pada merokok jumlahnya makin dikiit ya, Mbak.
    Idah Ceris recently posted…Hadiah dari Sebuah PersahabatanMy Profile

  3. Saya pikir gagasan yang dilakukan oleh Menteri Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak ini sangat bagus. Namun sounds-nya masih berdengung di Ibukota Jakarta. Bagusnya klo orang sadar akan hal ini Mbak.
    Jadi bukan hanya peduli dan melindungi anak2 dari kemuarnya sendiri, tetapi juga anak2 tetangga dan sebagainya. Klo udah gitu gak ada lagi kasus kayak yg dialamai Angeline 🙁
    karena warga sekitar mau melaporkan kejadian KDRT terhadap Angeline Kecil. Tidak ada lagi anak yg tidak sekolah, karena mereka yg diberi rizki berlebih mau peduli menjadi orangtua asuh dan membiayai sekolah anak2 yg notabene kurang mampu.

    Kota layak anak ini perlu didengungkan lebih luas.

    Makasih artikelnya, saya belajar banyak dari ini 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge