Home » Cerita di Balik Kisah » Elegi di Tanah Paman Ho
P4060840

Elegi di Tanah Paman Ho

Begitulah rasa, ketika kesedihan begitu kita ingin kita hadirkan sekedar untuk terhubung dengan kenangan.

Aku bisa bilang apa, saat ujung-ujung penjor menyentuh relung terdalam, mengusik jarum waktu ke masa kita masih berbincang tentang darma, karma dan moksa. Galungan di sana? Apakah sama? Lalu aku memilih memelihara kenangan, seindah kebajikan yang pernah kau ajarkan. Menempuh jalan yang berbeda dan finish di waktu yang berbeda pula, semata mengajarkan kita bahwa keabadian bukan di dunia tempatnya.

Tubuh terbiasa memindai pertemuan yang sebelumnya kerap ada. Di setiap sudut tempat kita dapat bersua. Lupa bahwa, jangankan wajahmu, abumu saja tak sempat aku temui. Tempat ini kini hanya sudut-sudut kosong tanpa asa.

Takdir kadang bagai sebuah paradoks. Begitu patah kita dipisahkan untuk kemudian dipertemukan dan belajar berkawan hingga akhirnya karib dengan suratan tangan. Dan bila hari ini aku masih bisa mengingat setiap detail yang kita punya, itu mungkin jawaban mengapa takdir mempertemukan kita. Untuk belajar menerima kembali yang pernah terlepas untuk kemudian selamanya terpisah.

Lalu waktu pun bergulir mundur ke bulan keempat. Meja ini menjelma meja kala itu. Persegi panjang dari kayu, dan hidangan yang tak lagi mengundang selera untuk disentuh. Sore yang panas di Ho Chi Minh City basah oleh kabar duka dari Jakarta. Kamu telah pergi ke dunia tanpa raga, di tempat yang tak mungkin di jangkau manusia berjiwa. Dan aku ribuan mil jaraknya dari jasadmu, tergugu berharap ada bahu yang merengkuh.

Dan waktu pun bergerak begitu lambat setelah itu. Kuselesaikan perjalanan bersama bayangmu di setiap sudut kota yang tersisa. Pada kuntum-kuntum ungu Bunga Lotus menuju Cu Chi Tunnel, ada cerita tentang Dewi Saraswati yang kamu kagumi. Pada aroma dupa yang terbawa udara dan pada lukisan di dinding kuil Wat Phnom, menguar obrolan kita tentang Bhagawad Gita. Ah, mengapa tak mampu kubaca pertanda itu saat kau memberikannya dengan satu pesan, “terimalah yang ada, aku khawatir tak sempat memberi seperti yang kau minta.”

Lalu taburan bunga mendekap mesra wajahmu yang terpejam dalam tidur panjang. Lelantun doa dan rangkaian upacara mengiringi tubuhmu bersatu dengan api. Melebur menjadi abu di hari ke tujuh bulan itu. Mantra seolah terus berkumandang, menemani langkah sepanjang sisa perjalanan. Dari Jonker Street hingga Tugu Pancoran menyapa. Sungguh sebuah fatamorgana yang sengaja dihadirkan.

Bagai nyala 47 lilin yang tak mungkin lagi kau tiup tahun ini dan tahun-tahun esok, semua kuhadirkan sekedar untuk mengingat, bahwa ada yang istimewa hari ini. Delapan bulan sudah kepergianmu. Terimakasih untuk sejenak menemani.

Aku tahu, ini bukan jeda. Tapi selamanya.

Selamat ulang tahun, bli….

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

p20120517-102803

Lelaki Yang Sama #ArgaSeries #4

Kereta melaju kencang meninggalkan Stasiun Universitas Indonesia saat jam tanganku menunjukkan pukul sembilan pagi di ...

5 comments

  1. Terbuai haru….
    Ulang tahun kakak mbak Donna bersama putra-putri surgawi diiringi lantunan doa para kekasih jiwa
    Salam hangat
    prih recently posted…SinterklasMy Profile

  2. sedih mbak bacanya
    Lidya recently posted…Arisan Ilmu Ke-2 : Etika Job ReviewMy Profile

  3. 47 lilin menjadi saksi akan doa yang terkirim melalui angin surgawi…..semoga tersampaikan kepada yang dituju…,
    sedih banget mengenang yang telah pergi….meninggalkan jutaan kenangan kala bersamanya….
    keep happy blogging always…salam dari Makassar 🙂

  4. Hiks..diluar hujan dan membaca kisah dalam postingan ini bikin sedih 🙁
    semoga kakak mbak Donna tenang dan damai di surga sana..
    Melly Feyadin recently posted…Khakot Carnival Sebagai Upaya Melestarikan Budaya DaerahMy Profile

  5. saya ikut terbawa suasana bacanya 🙂 sungguh lantunan kisah yang merdu… untaian kata kakak saya kasih 1000 jempol, hehe
    ariefsigli recently posted…Macam-macam dan Cara membuat “Meta Tag Seo”My Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge