Home » Cerita di Balik Kisah » Dialog Dua Hati…. #Devina Series
pegayaman

Dialog Dua Hati…. #Devina Series

cerita yang tak pernah berujung

begitulah sepertinya dialog ini akan berlangsung

melewati lebih dari dua dekade

dalam sebuah pembicaraan yang rasa2nya tak akan pernah berakhir,

dengan topik yang tak pernah berganti

“ini cuma tentang rasa, Raka”…..

begitu selalu jawabmu

sebuah jawaban yang sama,

untuk setiap “mengapa ” yang ku tanyakan

——————————————————————-

kebaya putih dan selendang kuning membalut di bagian pinggangmu yang ramping membuatmu terlihat ayu hari ini. Persis seperti nama yang diberikan orang tua mu, Ni Komang Ayu Yasadevina……

kamu memang cantik Devina, nama untuk sebuah harapan agar kelak menjadi wanita, secantik dewi nan terhormat, begitulah kurang lebih artinya.

Kain panjang yang membalut tubuh mu sampai ke mata kaki tak menghalangi irama langkahmu yang aku kenal baik, teratur bagai sebuah mars komando membentuk harmoni cepat, tegas dan pasti….membawa tubuh mu meninggalkan banjar dan menaiki anak tangga menuju tempat upacara, sementara lekat jari jari dari kedua tanganmu yang ramping membawa rangkaian tinggi sesaji dalam pinggan sebagai pelengkap upacara hari ini lalu membawanya diatas kepalamu.

tak sulit bagiku untuk menjadi bayang hidupmu. Bukan salahmu terlahir sebagai bagian trah utama keluarga tersohor negeri ini, yang pada setiap kegiatannya terwartakan di berbagai media. Bukan pula karena kesalahan dunia informasi yang berkembang sedemikian mudah untuk diakses memfasilitasi aku mengikuti setiap gerakmu, sehingga sejak beberapa hari yang lalu aku tau pasti aku harus berada disini menjadi photographer dadakan untuk meliput upacara pembakaran jenazah salah satu kerabatmu di pulau yang konon disebut dengan tempat para dewa bertahta…

begitulah kamu dalam hidupku

aku tahu banyak tentang kamu

aku tahu banyak disetiap purnama yang berganti

menelusuri jejak-jejak langkah yang kau tinggal melalui layar komputer

lalu tenggelam di dalam nya berjam-jam

Devina, ….untuk semua itu, kamu tidak perlu tau.

Ah, nyaris aku lupa untuk mengabadikan momen ini. Sekedar agar aku tak terlihat aneh bila hanya terpaku dengan kamera berukuran cukup besar tergantung dileherku. Segera kuatur strategi untuk mencari sudut terbaik untuk mengambil gambar mu, meski mata telanjangku sebenarnya memiliki kemampuan merekam jauh lebih baik dari yang mampu ditangkap lensa panjang ini, menyimpan dalam benakku tanpa harus memindahkan ke media lain karena selalu tersedia ruang kosong untuk kamu,

aku juga tak perlu harus berada terlalu dekat dengan mu, karena kecanggihan teknologi memungkinkan aku untuk melakukannya tanpa ada kesulitan yang berarti.

Bukan untuk alasan itu tentu saja,

namun aku sudah punya alasan mengapa aku tidak boleh terlalu dekat dengan mu,

sebuah alasan dengan kata darimu yang terpatri lekat dalam benakku,

untuk setiap “mengapa”…..dalam hidupku tentang kamu.

dalam dialog yang masih sama

“ini cuma tentang rasa, devina”

jangan tanyakan lebih jauh tentang rasa itu…

rasa2nya Kamus Besar Bahasa Indonesia pun tak mampu mendefinisikan dengan ringkas dan baik rasa itu

yang aku mampu definisikan hanyalah rasa yang mengejewantah dalam setiap laku dan pikirku

menderaku bertahun2 dalam hening…bermetafora dalam berbagai bentuk benda dan peristiwa

lalu berakhir dalam satu bayang….ada sosok kamu didalamnya…

semua sepertimu

semua seperti milikmu

semua seperti masa itu

dan selalu begitu….

——————————————————————————-

hati ini berjodoh lebih dulu dibanding raga yang membungkusnya

sehingga tanpa raga pun kita dapat berbincang

lalu dialog yang terjadi hanya bagai sebuah bumerang yang dilepaskan

lalu kembali kepada sang pelempar

bedanya hanya satu….

bumerang itu tidak pernah melukai…

aku pandai sekali menangkap sinyal-sinyal yang kau kirim

dan kalaupun sesekali singgah dan melukaiku,

toh aku akan menikmatinya bagai seorang masokis

bermesra dengan perih lalu menggelepar tak berdaya

————————————————————————————————-

sering kita berbincang tentang banyak hal

sekali pernah kau berbincang tentang bulan

“malam ini bulan purnama cantik sekali, ka, ….mesra bersanding di atas gunung Batur terlihat dari kintamani…” suaramu diujung sana

lalu aku menoleh ke angkasa,

hmmmm….hanya bulatan putih penuh di angkasa dikelilingi pendar bintang, bersaing dengan cahaya artifisial gedung2 pencakar langit metropolitan

“o la la, lambat laun….bulan itu tiba2 terlihat cantik,” jawabku….

bulan itu indah, Na….namun hanya dan hanya bila kita memandangnya bersama

sejak itu seolah bulan menjadi perantara kita, pertemuan disetiap purnama

meski selat luas memisahkan raga kita, tapi takkan pernah mampu memisahkan kesatuan rasa ini

ketulusan dalam sebuah kenyataan membuat semua tetap terasa utuh

dan ini bukanlah lagi menjadi penderitaan bagiku….

aku hiduo bersama dengan semua hasrat2 itu

mudah bagiku bila ku merindu….hanya tinggal menyampaikan pada bulan yang akan membawa rindu itu padamu

tanpa perlu konfirmasi, aku tahu pesan itu pasti sampai

dan kemudian kamu akan merasakan pula rindu itu

————————————————————————————————

hati ini bicara lebih banyak dibanding organ lain yang fungsi sejatinya adalah menyampaikan pesan

masih dalam sebuah pembicaraan yang rasa2nya tak akan pernah berakhir,

dengan topik yang tak pernah berganti

masih tentang rasa

Dan bila kau bertanya, “apa yang kamu tunggu, Raka ?”

maka jawabanku adalan pertanyaanmu

“aku menunggu sampai kamu tau apa yang kamu tunggu, Na !”

dan bila kau bertanya lebih jauh, “seandainya aku tidak tahu apa yang aku tunggu, Raka !”

maka jawabanku adalah …”aku juga tidak tahu apa yang aku tunggu, Na”

kita tidak perlu tahu banyak

hati ini sudah bicara banyak

menganalisa hanya membuat segala sesuatu nya menjadi semakin tidak mungkin

toh yang perlu kita tahu hanya satu…

dan itu sudah cukup

ah…. “ini semua cuma tentang rasa, bukan ?? “

—————————————————-

rumitnya ikatan rasa kadang menyesakkan dada

hanya penyederhanaan lah yang menjadi penghibur

maka dialog dua hati ini pun begitu sederhana

‘toh aku bahagia melihatmu bahagia, Raka”

meski tak penting buat aku untuk tahu bagaimana bahagia itu menjemputmu,

sejak awal pertemuan kita, aku tahu bila suatu saat kelak kamu pasti akan sampai pada impian2 kamu, Raka

meski waktu itu masih terasa perih, mengingat aku tahu, kelak bukan aku yang ada disampingmu saat kau di puncak mimpimu

begitupun saat ini,

bahagia tidak berarti harus bersama bukan ?

karena aku tak ingin bersanding dengan sang pemilik bahagia, Raka

izinkan aku bahagia dengan caraku”

tak perlu kekhawatiranmu…..

“aku bahagia,Raka dan tak perlu kau ragukan itu.

karena aku tidak pernah menitipkan kepada siapapun bahagia itu

dia ada kemanapun aku pergi,

selama aku masih mampu berbagi, berarti aku masih mampu bahagia

jadi bila kau cari darimana asalnya,maka tidak akan kautemukan

kecuali kau lebur kedalamnya”

mengingat semua kata-katamu,

tiba-tiba dalam kesendirianku, aku merasakan kembali pelukmu

hangat, erat…tanpa kata

dalam diam, sedu yang tertahan,

aku tahu kita sepakat….

menerima takdir ini

—————————————————————————————–

kamu tidak pernah jauh dariku, devina,

meski kau pun tetap bergeming di tempatmu

itu karena kamu tak ingin bersantap di pinggan milik orang lain

kamu tidak ingin menduduki tempat siapapun dan bertukar tempat dengan siapapun

batas itu jelas, dan kamu tidak ingin melangkahinya

————————————————————-

bagaimana aku mendefinisikan kamu, devina

aku memujamu…

kamu cantik,

kamu punya segala

termasuk kerendahan hati dan kehalusan budi

besar dalam budaya dan adat yang kental

dan menjadi identitas sakral dalam imanmu

kamu indah, devina

mata ini bagai melihat rumput hijau dipadang luas

sejauh mata memandang, hanya kedamaian yang terasa

begitulah aku memandangmu

persis seperti rumput yang tidak pernah tumbuh ke atas,

tapi meluas secara perlahan….

bagai sebuah evolusi yang berangsur demikian perlahan,

sampai tiba-tiba kamu terasa begitu berarti

bukan hanya buat aku tapi juga bagi orang banyak

dan semakin tak mungkin kumiliki sendiri

bagaimana mungkin aku akan begitu egois

mencabutmu sampai ke akarmu

agar dapat tumbuh di tamanku

untuk kunikmati sendiri

—————————

aku hangat, bagai mentari di tepian Lovina

namun tak mungkin terlalu dekat dengan mu

karena semakin dekat aku padamu, aku takkan lagi sekedar hangat,

berubah menjadi panas membara, membakar semua disekitarmu

dan akhirnya kamu akan punah

untuk itu aku harus tetap jauh dari kamu,devina

tetap memberi energi untuk kehidupanmu

dan kamu pun tau,

untuk siapa kamu harus tetap hidup

*sayup kudengar suara azan..

di pagayaman

Buleleng, Bali

13121993

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_1018

Yang Pertama Buatmu, Bukan Hanya Aku #ArgaSeries #5

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, seolah menopang isi kepalaku yang mendadak sarat oleh pengakuan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge