Home » Review and Event » Di Balik Pentas Drama Musikal Khatulistiwa
IMG_0918

Di Balik Pentas Drama Musikal Khatulistiwa

Baru lihat latihannya saja hati saya sudah berdesir-desir, apalagi menonton pertunjukkan yang sesungguhnya. Inilah yang muncul dalam benak saya ketika melihat “Behind The Scene Drama Musikal Khatulistiwa di Gedung Nyi Ageng Serang, 18 Oktober 2016 yang lalu. Para pemain dengan sungguh-sungguh berlatih sedemikian apik sehingga kami tak sabar menantikan bagaimana pertunjukkan sesungguhnya nanti.

Sebagaimana cerita saya di sini saat menghadiri undangan Press Conference Drama Musikal Khatulistiwa di Cafe Lamoda Plaza Indonesia tanggal 4 Oktober 2016 yang lalu, bahwa Drama Musikal Khatulistiwa adalah sebuah program sosial yang digagas oleh Tiara Josodirdjo untuk mensosialisasikan dan membudayakan kekayaan seni, budaya dan cerita sejarah bangsa Indonesia dengan kemasan yang menghibur dan edukatif berupa drama musikal.

Berkolaborasi apik dengan P.T. Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) dan ZigZag Indonesia untuk memaknai Hari Pahlawan Nasional yang akan jatuh pada bulan November mendatang, Tiara melalui Josodirdjo Foundation yang didirikannya, mengajak generasi muda untuk mengenal jejak langkah negerinya dengan mempersembahkan sebuah drama musikal bertajuk Khatulistiwa yang akan dipentaskan pada tanggal 18-20 November 2016 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Dalam acara Behind The Scene Drama Musikal Khatulistiwa, saya dan beberapa teman blogger lainnya tak hanya bisa melihat bagaimana puluhan pemain tersebut berlatih, namun juga berkesempatan bertemu dan mendengarkan langsung cerita mereka-mereka yang bekerja di balik layar secara lengkap. Dari produsernya, sutradara, sejarawan, penata musik, penata koreografi, perancang busananya hingga pemain pendukungnya.

Dari cerita mereka lah saya tahu sesungguhnya tak mudah menyiapkan ini semua, namun saya salut dengan ketekunan dan kegigihan mereka menyiapkannya. Tentu saya percaya bahwa ada nilai-nilai kebangsaan yang terpatri dalam setiap diri mereka sehingga segala kerumitan itu mereka lalui dengan bahagia. Mereka tahu persis bahwa ini adalah bentuk salah satu bentuk aksi dari hati mereka untuk memaknai Hari Pahlawan Nasional dan untuk negeri mereka, Indonesia. Tak heran bila Sunlife Financial melalui Ahmad Emir Farabi, sangat mendukung penuh kegiatan ini.

IMG20161018191219

Asep Kambali dalam sambutannya berkali-kali menyentil telinga saya melalui kata-katanya. Tak merasa tersinggung namun justru berterimakasih sudah diingatkan bahwa terkadang kita sendiri lah yang gagal mendidik diri kita untuk sadar kebangsaan dan sejarah bangsanya sendiri. Coba cek, ada Lagu Indonesia Raya gak di antara deretan koleksi lagu-lagu di telepon seluler kita. Coba tanyakan pada diri, tahukah kita apa Daan Mogot itu sehingga dijadikan nama jalan. Atau tahukah kita siapa HR Rasuna Said dan apa kepanjangan HR yang di awal nama beliau. Jawabanya ternyata tidak! Menyedihkan.

Senada dengan disampaikan Kang Asep, sutradara Drama Musikal Khatulistiwa, Adjie N. A. pun mengatakan bahwa pengetahuan tentang sejarah mutlak diperlukan bagi para pemain dan seluruh personal yang terlibat. Terutama bagi para pemain, pengetahuan tentang sejarah menjadi penting untuk bisa menjiwai peran yang dimainkan sesuai dengan kepribadian tokoh-tokoh pahlawan yang diangkat dari cerita sejarah 7 pahlawan nasional dari berbagai daerah di Indonesia dalam pentas nanti.

Aspek teknis pun tak kalah penting, seperti dalam merancang busana yang digunakan oleh para pemain. Auguste Soesastro sang perancang busana mengatakan bahwa busana yang dirancang harus bisa mewakili era saat cerita berlangsung, sehingga mengetahui sejarah saat peristiwa itu berlangsung itu sangat penting. Busana pun harus nyaman buat pemain, mudah dipasang dan dilepaskan. Misal penggunaan lubang kancing untuk merapatkan pakaian sangat dihindari, akan lebih cepat bila menggunakan perekat yang lebih praktis. Karena saat pementasan nanti, seorang pemain tak hanya menggunakan satu busana saja, mereka harus mempu berganti kostum sesegera mungkin dalam waktu yang singkat.

Banyak cerita di balik pementasan Drama Musikal Khatulistiwa ini. Termasuk bagaimana mereka berlatih secara bergiliran sejak pukul 5 sore hingga pukul 9 malam setiap harinya. Padahal siang harinya mereka tetap melakukan aktivitas rutin, ada yang bersekolah, kuliah dan bahkan bekerja. Dan ini berlangsung selama 5 bulan lho. Wah… acungkan jempol deh. Makin tak sabar ingin melihat pertunjukkan yang dirancang selama 2,5 jam nanti.

IMG_0908

Setelah sesi sharing, maka kami pun mulai menyaksikan latihannya. Area tengah pun dikosongkan, kami menonton dari tepi auditorium. Suasana di setting demikian senyap agak semua fokus pada latihan. Awal latihan, semua lampu dipadamkan, bahkan pemimpin latihan tidak mengizinkan sama sekali sedikit cahaya termasuk yang terpancar dari gadget atau ponsel kita. Semua harus dipadamkan.

Lalu mulailah pertunjukan dimulai dengan adegan sekelompok anak-anak yang sedang belajar bahasa Belanda dan Sunda, salah satu anak memainkan peran sebagai guru. Ternyata ini adalah salah satu penggalan episode tentang Pahlawan Wanita Dewi Sartika yang berasal dari Tanah Pasundan. Seru juga melihat penampilan mereka, meski baru tahap latihan mereka sudah memerankannya dengan sangat apik. Terutama peran yang dimainkan oleh Sita RSD, ah pas banget dengan aksen Sunda yang pas.

Sayang sekali saya tak bisa menyaksikan latihannya sampai akhir, biarlah menjadi kejutan nanti saat pementasan. Nah, buat teman-teman yang ingin menyaksikan pertunjukannya jangan lupa ya tanggal mainnya. Drama Musikal Khatulistiwa: Jejak Langkah Negeriku 19–20 November 2016 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Tiketnya bisa dibeli di www.kiostix.com mulai dari sekarang lho.

Yuk kita nonton…

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG20170624114433

[Resensi Buku] JAVASIESTA 17/17 – Indri Juwono

Perjalanan dengan seorang teman juga menjadi kendali pada diri sendiri. Bisakah tetap dengan karakter sendiri, ...

One comment

  1. Baru lihat latihannya aja udah semangat ya mbak 😀

    Pasca nonton La La Land (dan sebelumnya Mud KL) aku makin demen nonton drama (musikal). Andai Jakarta deket huhuhu.
    Haryadi Yansyah | Omnduut.com recently posted…Free Walking Tour Kampong Bharu : Jelajah Perkampungan Tradisional di Jantung Kuala LumpurMy Profile

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge