Thursday, November 23, 2017
Home » Cerita di Balik Kisah » dear Masa Lalu…. #Adisty Series
dear masa lalu

dear Masa Lalu…. #Adisty Series

dear masa lalu….

saat kamu baca surat ini, semoga kamu baik-baik saja. Tentu saja aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan saat ini. Mungkin saja saat ini kamu berada dibelahan lain dunia, berkelana mencapai atap-atap dunia seperti kebiasaan waktu itu, atau mungkin saja kau sedang sibuk dengan layar dan lensa, atau jangan-jangan kau hanya sekedar menikmati kolam-kolam ikan di halaman belakang rumahmu saat ini. Entahlah, masa lalu..aku tidak tahu.

Yang aku tahu tentang kamu hanyalah sebundel catatan yang aku namakan kenangan yang masih tersimpan rapi di ruang yang aku sebut ruang harta karun. Lembar demi lembar kenangan tersusun rapi dengan tulisan tanganku sendiri yang ramping dan teratur. Aku suka sekali dengan ruang itu, dan sesekali aku masuk ke ruangan itu. Terkadang hanya sekedar istirahat sejenak dari rutinitas yang kerap membelenggu,namun kadang juga sedikit serius dengan duduk manis untuk mengeja kata demi kata, mencari sesuatu yang bisa aku pelajari atau memang dengan sengaja aku masuk kedalamnya dan lebur lalu hanyut didalamnya untuk merasakan kembali saat kenangan itu ditulis.

Masa lalu….

Tahukah kamu, beberapa bagian tulisan itu dalam kenangan itu ditulis dengan sari bunga, ada pula yang kutulis dengan tinta emas, namun beberapa bagian akhirnya tertulis dengan air mata, sehingga setiap hurufnya yang dituliskan menorehkan perih. Dulu aku pikir menyimpan mu adalah hal yang sia-sia, terlebih ketika ku sadar semua itu sudah berlalu menjadi bagian dari dirimu dan tak mungkin kembali lalu yang ku punya hanyalah sekedar kenangan dan bukan sosok yang ada dalam dirimu itu.

Namun mencoba membuang kenangan mu juga bukan perkara yang mudah jika tak dapat disebut mustahil. Semakin kuat aku menepis semua kenangan, maka semakin lekat dia. Bersikeras membuat nya enyah dari hidupku hanya menghabiskan energiku, dan membuatku aku tak berdaya, hingga aku menyerahkan dirimu mu pada sang waktu.

Aku tidak mampu melewatkan sendirian tanpa sang waktu yang menarikku beranjak, meski aku tahu bahwa Sang waktu hanya mampu membantuku untuk menyembuhkan lukanya, tanpa mampu menepis kenangan apalagi membunuh rasa. Waktu jualah membawaku ku pada penemuan demi penemuan, tabib dan ramuan yang mampu mengobati lukaku perlahan satu demi satu sampai akhirnya saat ini kami bertiga dapat berjalan beriringan dibawah hangat sinar mentari, aku, kenangan dan waktu…

Dear masa lalu…

dipenghujung tahun, masih ada yang kenangan yang belum sempat kubaca. Ada keengganan yang luarbiasa untuk mengingatnya. Buku terbaru dalam serial kenangan ini masih menjadi pekerjaan rumah terbesar buatku.

Masih berupa luka…luka yang masih terasa sangat perih bila disentuh, entah karena usianya yang masih belia ataukah karena terlalu dalam tertoreh, entahlah….

Masih ingatkah kau tentang luka itu, wahai masa lalu?

luka semula kecil yang kita toreh sambil tertawa bersama, namun semakin dalam karena kau tak ingin berhenti sampai disitu dan aku tak berdaya beranjak segera lalu terlambat tuk aku menepis semua.

Kau tertawa lebar saat atas nama kebodohan aku ikut menari dalam irama sumbang yang kau mainkan, dan menahan perih yang teramat sangat saat kau jilati tubuhku yang compang camping oleh luka yang makin sarat, terus memaksa sampai kau puas diatas ketidakberdayaanku, menikmati hidangan demi hidangan yang kamu suka, hingga akhirnya kejahatan terbesar pun menjadi menu penutup….saat kau berlalu meninggalkan aku yang terkapar nista, berlalu dengan kepala tegak mu memalingkan wajah seolah semua tak pernah terjadi.

begitu nista…..

Dear masa lalu……

Aku berharap, buku itu adalah penghuni terakhir seri kenangan diatas cinta dan kebodohan.

Akan tetap aku baca…meski dengan mengeja dan menahan sesal yang membuncah

menelan kepahitan rasa sampai aku temukan apa yang harus aku pelajari darinya sebagai ganjarannya.

dear masa lalu….

Biarkan selalu ada cerita dalam perjalanan ke depan, biarkan tetap ada suka yang setia berpasangan dengan duka, ada pahit untuk kita dapat merasakan manis dan meluncur ke bawah agar dapat melihat beda dari ketinggian.

Saat waktu terus bergulir, satu demi satu kenangan akan menghuni lagi ruang harta karunku..sebuah pembelajaran yang mahal harganya.

selamat berlalu kenangan

semoga aku hadir di setiap kamu terjatuh tuk sekedar mengingatkan mu

karena disini……ada yang harus kamu selesaikan agar ending buku ini baik adanya

semoga kamu baik-baik saja

Teras atas nirmala II

22 desember 2010



About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_1018

Yang Pertama Buatmu, Bukan Hanya Aku #ArgaSeries #5

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, seolah menopang isi kepalaku yang mendadak sarat oleh pengakuan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge