Home » Inspiration, Opinion, and Self Development » Cukup Punya Satu…. Tuhan

Cukup Punya Satu…. Tuhan

“Ibuuuuu…….aku kangen ibu…..”
haru ku membuncah melihat seraut wajah yang sungguh aku kenal baik.
Keterbatasan waktu dan ruang membuat kami lama sekali tak berjumpa, dan baru hari ini kami dapat bertemu setelah berkali mencocokkan jadual via telepon.

Kupeluk beliau erat, kupandangi wajahnya…dan kembali kupeluk.
ah…aku kangen ibu….

Ada hubungan istimewa antara aku dan beliau, layaknya hubungan anak dengan ibunya….didekat beliau aku merasa seperti sebongkah tanah liat yang keras dan kaku. Namun sedikit saja kalimat2nya mengguyur pikirku, maka aku akan berubah menjadi sebentuk bahan yang sangat lembut, siap disentuh dengan rasa dan dibentuk menjadi seperti sebagaimana aku bisa menjadi.
Dan yang mampu melakukan itu….. hanya beliau.

Pejaten Village sore itu ramai…layaknya akhir pekan di kota Jakarta.
Mengambil tempat di sebuah sudut belakang sebuah resto yang kami kenal karakternya yaitu “Jangan terlalu lapar bila hendak makan ditempat ini”,karena pelayan butuh waktu yang cukup lama untuk mengantar pesanan makanan kita, namun resto ini merupakan tempat yang nyaman untuk berbincang berapa lama pun waktu yang kita butuhkan, tanpa khawatir didatangi pelayan yang akan mengambil peranti makan kita yang sudah kosong meski kita masih duduk manis disitu.

berjam-jam kami berbincang….kadang tertawa terkekeh-kekeh, sesekali terbahak-bahak, ups…gak baik ya bu ngakak itu…xixixixi
kadang senyum-senyum, kadang menjadi haru, kadang serius, kadang santai, bahkan kadang sama terdiam untuk beberapa saat, memberi kesempatan untuk kami merenung sejenak tentang apa yang baru saja kami katakan.

tak mampu ku tahan haru saat dipandanginya wajahku,…seraya menggelengkan kepala seolah prihatin dengan kantung mataku, mengerenyitkan dahinya saat menyentuh pipi dan mataku….hingga aku mampu mendengar kata apa yang tidak dia ucapkan, melalui bahasa tubuh itu.

dan sambil tertawa, memecah kesunyian, aku berkata….”jelek banget ya bu ? he he he”
“padahal aku sudah pakai baju cantik lho hari ini, membalut tubuhku dengan kain thai, bross mutiara cantik dan sepatu bak cinderella….” *maklum aku kondangan dulu sebelum menemui beliau.

Dan jawaban beliau adalah : pakaian tidak mampu menyembunyikan seseorang, donna….
bahkan kata-kata indah tak akan mampu menghibur tanpa lahir dari sebuah ketulusan.
ho ho ho…ya ya ya, aku paham ibu
paham mengapa terkadang kita tak mampu mengerti perilaku seseorang yang atas nama untuk kebaikan kita…melakukan sesuatu dan pesan yang sampai di kita adalah sebuah luka.
ya ya ya….mungkin karena bukan dari sebuah ketulusan

Kemudian kami bicara tentang kesombongan
beliau hanya mengatakan, bahwa kesombongan adalah pakaian milik Tuhan, Donna. Kita tidak akan pernah pantas memakainya.

dan saat kami bicara tentang hal lain
berbincang tentang kepemilikan
beliau mengatakan, kepemilikan hanya bersifat sementara, donna
dalam hitungan detik Tuhan bisa mengambil kembali semuanya.

Bila Tuhan menginginkan, uang kita, harta kita, jabatan kita, anak2 kita, pasangan kita, keluarga kita, bahkan kesenangan2 kita…bisa hilang dalam sekejap
menghilangkan hal-hal yang sering jadi berhala2 dalam hidup kita
hal-hal yang sering membuat kita takut sekali kehilangan jabatan, takut sekali kekurangan uang, enggan meninggalkan kesenangan2 yang acapkali tak ada manfaatnya kecuali membawa kita berjalan lebih jauh ke arah tidak seharusnya kita berada.

dan yang sering tidak kita sadari adalah anugrah dan musibah diberikan bukan secara kebetulan, tidak pernah salah sasaran dan tidak pernah salah tempat dan waktu.
Selalu ada sesuatu dibalik itu semua, sesuatu yang manusia seringkali butuh waktu lama untuk menyadari,
Manusia sering lupa bahwa rezeki bisa merupakan ujian, dan kerap alpa bahwa musibah adalah sebuah hadiah….
saat lapang kita terlena, lalai dan pongah, seolah semata tubuh dan pikir kita yang menjadikan semua itu ada. Sebaliknya saat musibah datang, kita menganggap ini semua adalah akhir, sibuk menafikan yang terjadi dan ngotot mempertanyakan kenapa.
Lupa bahwa semua sudah dirancang Sang Maha, meletakkan anak tangga yang membawa kita ke tiap tingkatan berikutnya

Kupandangi wajah tegas beliau, ada kelembutan yang memancar, dan ada kerendahan hati saat bicara…berbicara tentang Tuhan pada porsi yang tepat, bukan untuk menunjukkan betapa hebat pengetahuan agamanya dan bukan pula membanggakan betapa kerapnya dia beribadah…namun semata ingin berbagi dan ingin bermanfaat.

Aku tahu sekali perjalanan hidup beliau, bertahun kami bersama dalam rasa karena fisik kami tak mungkin selalu bersama.
Aku tau apa yang pernah Tuhan titipkan pada beliau

dan bila saat ini aku tak melihat itu semua
aku tetap melihat satu hal

beliau punya hanya satu yang jauh melebihi semua yang pernah beliau punya
Tuhan…..!!!

nirmala
9 Desember 2009
01.35 wib

dedicated to “ibu”
yang ternyata tidak pernah berjalan sendiri
thanks ibu…

na selalu kangen ibu….

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P_20160401_151657

Kebun Raya Eks Tambang Emas Minahasa, Sebuah Persembahan Bagi Alam

Berkali saya melihat gambar yang sejatinya memancing imaji keindahan. Lubang-lubang putih menganga, berserakan di sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge