Tuesday, September 26, 2017
Home » Monday Flash Fiction

Monday Flash Fiction

Prompt #51 Bintang Itu Jatuh

Credit

“Akhirnya besok waktu itu tiba. Aku masih tak percaya rasanya dengan keputusanmu. Dua tahun bukan waktu yang singkat, Lyra.” Aku bicara memecah kesunyian. Sudah hampir setengah jam, wanita yang berbaring di sebelahku ini tak jua bicara sepatah kata pun. Kuperhatikan wajahnya, tapi aku sulit mengartikan rasa di balik raut lembut yang dimiliki Lyra. Ia memang gadis pendiam dan tertutup, tapi ...

Read More »

Prompt #49 Mata Teduh Sang Dewi

in the eye of

Aku mencoba mengatur nafas sambil menahan mulas. Tubuhku mulai terasa lemas ketika mulas ini datang lebih sering dengan jarak lebih pendek. Meski begitu kupaksakan juga ke kantor untuk memimpir rapat direksi pagi ini. Tapi justru saat jarak menuju kantor sudah semakin dekat, mulas ini makin mendera. Sepasang mata teduh bicara menyuruhku menuju arah yang berbeda. “Kita lurus saja, Pak Man.” ...

Read More »

Prompt #48 Yang Tergantikan

Dokumen Pribadi

Aku bergegas melangkah. Susah payah aku berjalan melewati gundukan demi gundukan tanah sambil terus memegangi perutku. Tak kuhiraukan pandangan puluhan pasang mata yang memandang khawatir. Tujuanku tinggal beberapa langkah lagi, perempuan di gundukan itu. “Saya Adisty, salah satu rekan bisnis suami mbak”, ujarku membuka percakapan. “Oh ya, suami saya pernah bercerita tentang anda. Maafkan bila suami saya ada salah. Terimakasih ...

Read More »

Prompt #43 Kembali

P6060276

“Sehari setelah resepsi, kita berangkat ke Bali, Saras. Sepertinya kamu harus mengambil cuti lebih panjang karena aku merencanakan untuk lebih lama berada di sana dari rencana semula”. “Aku coba tanyakan besok ke personalia, Arga”, aku menjawab pendek. “Pastikan sekarang, Saras. Aku harus konfirmasi keberangkatan paling lambat sore ini” “Bu Vina sedang keluar kota, aku baru bisa menghubungi beliau besok saat ...

Read More »

Prompt #42 Bunga Kertas

Doc: Sumber

Aku menahan napas sambil menyembunyikan wajahku di balik sebuah kios yang menjajakan bunga saat kulihat seorang lelaki tua berjalan mendekat ke arahku. Tangan kanannya memegang sebuah benda serupa tangkai. Ia berjalan perlahan ke arah gundukan yang berada hanya beberapa meter di hadapanku, lalu duduk bersimpuh di salah satu ujungnya, sambil menancapkan benda yang di pegangnya tadi. Kulihat mulutnya bergerak seolah ...

Read More »

Prompt #38 Kejutan

P8171544

Pagi masih gelap saat aku berjalan perlahan menyusuri koridor panjang dan deretan kamar yang sebagian besar penghuninya masih tertidur. Langkahku kian dekat pada pintu kamar yang terletak di ujung koridor. Jantungku berdetak semakin cepat, berbagai kemungkinan hadir dalam benak. Kejutan apa yang akan muncul atas kehadiranku yang rahasia. Kubereskan rambutku yang acak-acakan terkena angin di becak tadi. Kupastikan raut wajahku ...

Read More »

Prompt #36 Bunga di Tepian Batur

IMG_8584

“Apalagi yang kamu pelihara selain anjing, burung dan ayam?” “Hanya itu…, dahulu aku ingin memelihara sekuntum bunga. Tapi sepertinya, bunga yang ingin kupelihara lebih bahagia hidup di habitatnya”. “Bukankah kini kau sudah memelihara bunga lain yang lebih cantik?” “Kau tak perlu melebih-lebihkan keadaan. Kau mengenal baik aku. Bunga yang kau bilang lebih cantik itu aku tanam saat petak hatiku hanya ...

Read More »

Prompt #33 Diam

Documen Pribadi

Pagi yang dingin di sudut ruang, sendiri di depan layar komputer membuatku teringat sesuatu, ada rasa yang hilang beberapa hari ini. Kulirik telepon seluler di tepi meja, sudah hampir seminggu berlalu, sudah pasti tak akan ada lagi pesan yang masuk melalui telepon selulerku. Mendadak rindu menyeruak, pada dia yang biasa hadir menyapa hari-hariku.  “Selamat pagi, Vina” “Semua orang juga tahu ...

Read More »

Prompt #31 Tirta Amerta

Prompt#13 Tirta Amerta

Aku menjerit tertahan melihat wajah dibalik pintu bungalow, menggelengkan kepalaku seraya mundur perlahan. Pemandangan ini mengapa begitu sulit dipercaya. Langkahku terhenti, aku terhenyak, terduduk di pinggir tempat tidur yang berantakan oleh brosur beberapa wedding organizer. Termangu aku menatap kamu yang begitu tenang berjalan ke arahku, mengambil tempat duduk disebelahku, lalu sama terdiam untuk beberapa saat, menatap kosong ke arah bunga ...

Read More »