Home » Cerita di Balik Kisah » Bukankah rindu itu luar biasa? #DevinaSeries
hug me tight 2

Bukankah rindu itu luar biasa? #DevinaSeries

Cibubur menjelang sore….saat pesan pendek masuk ke ponsel.
Rindu memang tak pernah salah alamat.

Aku termasuk perempuan yang percaya bahwa rindu adalah kata yang luar biasa. Sebagaimana seorang filsuf terkenal, Kahlil Gibran menulis dalam buku nya Pasir dan Buih bahwa, “ada jarak antara khayalan manusia dengan hasil yang ingin dicapainya, yang hanya bisa dilewati dengan kerinduannya”. Begitu luar biasanya rindu hingga aku berpikir bahwa kehidupan ini terus berlangsung karena ada sebentuk rindu. Terbayang olehku bila rindu itu tak ada, bagaimana mungkin ada anak-anak yang lahir dari rahim seorang ibu. Bagaimana kemudian cinta melebur kedalamnya dan menjadikannya sempurna. Pada cinta dan rindulah, kehidupan yang sesungguhnya itu berada.

“Devina…, satu cangkir teh sore ini, bisa?”
(Rindu memang selalu tau apa yang menghangatkan jiwa)

Baru kemarin aku berpikir bahwa sebagian dari perjalanan hidup kita merupakan kenyataan pahit saat aku merasa dunia berhenti di tempat ku berpijak. Ada bagian yang hilang dari hidupku, yaitu kamu. Kemana perginya rindu. Menantimu kabarmu disetiap pergantian hari, berharap esok pagi ada rindumu menyapa. Berulangkali menelusuri jejak kesibukanmu, berharap mengerti bahwa jarak dan waktu nyata memisahkan, tak jua membawa langkahku surut untuk bisa berhadapan denganmu. Beginikah rasanya ketika rindumu menghilang, hingga kenangan tak mewujud rindu untuk segera bertemu dan berulang.

Tapi bukankah kerinduan selalu membawa kita pada penemuan-penemuan yang membuat semua impian menjadi nyata? Bukankah ini hanyalah masalah jarak dan waktu. Lalu untuk apa bersikeras untuk menghentikan rindu bergulir, terlebih kau tau rindu tak bisa kau atur. Dia menyatu dalam jiwa, membunuh rindu sama dengan membunuh jiwa, bukan sekedar rasa ingin.

“ada dua meeting hari ini, kita bisa ngobrol sebentar saat jeda, mumpung aku lagi di Jakarta”
(Rindu selalu punya cara untuk mempertemukan jiwa yang saling merindukan)

Dan bagai bersayap, jiwaku seakan terbang dan tlah sampai disana. Sudah kubayangkan sosokmu disana, senyum dan menyambutku dengan dua lengan kekar terbuka lebar, membiarkan ku berhambur seperti biasanya ke dadamu yang bidang. Tak peduli semua agenda hari ini yang telah aku susun rapi sejak kemarin. Aku harus menemui Raka….rindu ini telah menemukan jawabnya. Kususun ringkas meja kerja, merapikan rambutku dan mengulas tipis bibirku agar terlihat segar dan membentuk senyuman termanis seorang Devina,

Sore ini punggungku tak akan sepi, sesak yang kemarin tak terbendung kini akan bermuara di rengkuhmu. Aku harusnya tak pernah meragukan rindu, ia selalu menuntunmu pulang, dan seharusnya pula aku tau… rindu akan selalu membawamu kesini, ke diriku.

“kurang dari 30 menit aku akan sampai, ka….tunggu aku disana”
Rindu akan memelukku erat, begitu hangat….sehangat mentari sore diatas Cibubur sore ini

Taksiiiiiiii…….

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

IMG_1018

Yang Pertama Buatmu, Bukan Hanya Aku #ArgaSeries #5

Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, seolah menopang isi kepalaku yang mendadak sarat oleh pengakuan ...

One comment

  1. rindu itu…. melodi yang hilang, menuntut sang empunya menggadai waktu, jarak dan energi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge