Home » Family and Parenting » Bukan Sekedar Romantisisme
ubudromanits

Bukan Sekedar Romantisisme

Sebagai wanita ia lebih butuh sikap tanggungjawab daripada sekedar romantisme. Demikian ujar Ayu Dewi, salah seorang artis Indonesia dalam tulisan disebuah majalah wanita.

Saya tersenyum membacanya, ada kesan tersendiri yang saya tangkap dalam tulisan itu. Seperti nya tulisan itu memang ditujukan buat saya, dan bukan sebuah kebetulan bila majalah ini memberikan bonus buat saya sebagai salah satu pembacanya satu bundel artikel yang bertajuk edisi perkawinan 2012 bertepatan dengan perjalanan saya berdua suami ke Bali dan menjadi teman saya melewati pagi di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta menunggu jadwal penerbangan kami. Sebuah perjalanan bulan madu ?….benarkah begitu? Lalu saya tersenyum lagi…sebuah simpul manis tentunya.

Memilih menjadi wanita bekerja, dengan dua orang anak, setidaknya saya memegang minimal empat peran dalam kehidupan saya yang saya harus manage dengan baik. Gak mudah sebenarnya. Layaknya seorang pemain sirkus yang memainkan empat bola di tangan, saya harus mahir memainkan keempat bola tersebut tanpa membuatnya terjatuh. Saya harus membagi waktu saya sebagai istri, sebagai ibu, membagi waktu untuk tempat saya bekerja dan waktu buat diri saya sendiri.

Mengutip apa yang Rene Suhardiman katakan, kita sesekali perlu berhenti sejenak, berdiam diri, berlatih mendengar suara hati dan merasakan lentera jiwa. Dan yang seperti ini hanya bisa saya lakukan apabila saya “menjauh dan melepas” rutinitas saya. Perjalanan ini sudah sejak lama saya rencanakan dengan memesan tiket jauh-jauh hari. Berbeda dengan dua perjalanan “duaan” kami sebelumnya, Bali menjadi pilihan kami kali ini. Saya merasa perlu meninggalkan rutinitas sejenak kehidupan saya di jakarta, berhenti berpikir dari hal-hal yang acap membuat saya penat tubuh penat pula jiwa, dan mulai merapikan ulang bekal perjalanan pernikahan kami ke depan, untuk itu kami sengaja memilih Ubud dan menghabiskan waktu lebih banyak di penginapan dibanding jalan-jalan keliling.

Kehidupan perkawinan kami yang tahun 2012 ini menginjak tiga belas tahun, jauh dari hal-hal yang berbau romantis. Meski saya memanggil suami dengan sebutan “yangku” dan ia memanggil saya dengan sebutan “ndaku”, panggilan itu terjadi begitu saja dan menjadi kebiasaan meski tak dipungkiri tentu saja bahwa memiliki panggilan istimewa memberi dampak yang istimewa pula. Ini menjadi penting buat kami mengingat kami lama menjadi teman kuliah sebelum kami menikah, sehingga secara psikologis kami (saya lebih tepatnya) seperti memiliki teman serumah saja.

Kami dua orang yang berbeda dengan kebutuhan yang berbeda. Perkawinan kami menjadi unik karena kami seolah membiarkan kami tetap jadi diri sendiri meski terikat sebuah perkawinan. Kami tidak berusaha membandingkan kehidupan perkawinan kami dengan perkawinan orang lain. Tapi cukup gerah bila ada yang “menghakimi” bagaimana kehidupan perkawinan ini kami bangun.

Saya dengan karakter saya yg lebih lebih dominan, mendominasi arah perkawinan ini melaju. Satu hal utama yg perlu dicatat mengenai keburukan saya adalah bahwa saya seorang “pemalas” dan inginnya “dilayani”. Jadi semua aktivitas dirumah kami terpola dan berada di orbit yang jelas, setiap orang punya tanggungjawabnya masing-masing, dan bantuan dari orang lain itu bonus namanya. Begitu pula saya membesarkan anak-anak saya, saya dengan tegas memberi rambu, mana yang menjadi tanggungjawab mereka dan mana yang menjadi tanggung jawab ayah dan bundanya. Saya emoh direpoti dengan hal-hal yang harusnya tidak perlu saya tangani. Tapi semua tetap pake hati…tetap tumbuhkan empati. Sebisa mungkin gak nyusahin orang tapi tetap sediakan dirimu untuk membantu orang lain. Itu aturan mainnya.

Tak ada yang romantis dalam kehidupan rumahtangga kami. Dirumah kami, bukan pemandangan yang aneh bila sang ayah mencuci piring atau mencuci baju. Tak aneh pula bila anak-anak nyaman berdua saja dirumah tanpa asisten rumah tangga yang menjaga mereka. Gak ada pembagian yang jelas pekerjaan rumahtangga dirumah kami sejak kami memutuskan tidak menggunakan pembantu rumahtangga. Lakukan saja yang bisa dilakukan. Alhamdulillah semua so far so good. Anak-anak tumbuh mandiri, tetap berprestasi dan tau bagaimana menjaga diri dan sudah tak ingin ada “mbak” lagi dirumah.

Tak ada yang romantis dirumah kami, saya dan suami masih terus berjuang mewujudkan impian-impian kami, impian2 diri dan impian2 anak2. Masih sangat terengah-engah dengan urusan duit, masih harus akrobat mengisi banyak keterbatasan. Tapi insyaallah kami tetap happy dan menerimanya dengan penuh kesyukuran.

Perjalanan kami berdua ini pun bukan sekedar pergi berduaan untuk roman-romanan. Waktu berdua lebih banyak kami isi dengan ngobrolin banyak hal, mengisi kembali ruang-ruang kosong yang saya rasakan semakin menganga kemarin2 karena kesibukan kami masing2. Ubud yang tenang, tanpa televisi dan panggilan telepon, hamparan sawah yang mulai menguning padinya terhampar luas didepan teras kamar kami seakan memberikan tempat buat kami untuk kembali mengisi ruang kosong dengan bahasa yang kami saling mengerti.

Tiada syarat tiada berlebih, karena kami sadar bahwa ada yang jauh lebih besar yang bisa mengikat, yaitu tanggung jawab kami pada Tuhan. Perlu beberapa kesepakatan sebagai jalan tengah diantara dua orang berbeda karakter ini agar tetap sejalan dan sampai pada tujuan. Perlu memaknai kembali pernikahan agar tak semata menjadi teman serumah. Dan untuk yang seperti ini, butuh tanggungjawab lebih dari sekedar romantisme.

Tegal Sari Ubud

14 Oktober 2012

About donna imelda

donna imelda
Lecturer, sharing, capturing moments, writing, travelling, Kelas Inspirasi volunteer Sila ngintip di https://www.facebook.com/donna.imelda

Check Also

P8140535 - Copy

traveling asyik dimata anakku, lagu rindu sang bunda di bibir anaknya…

 Karena lagu yang tinggal diam di dalam hati seorang ibu, bernyanyi diatas bibir anaknya. Cuplikan ...

5 comments

  1. Membaca tulisan ini seperti sedang berkaca, di usia perkawinanku yg sudah melewati angka 14 tahun. makasih u sharingnya mbak 🙂

  2. hebat ya mbak punya empat peran sekaligus 😀
    Semoga bisa menjadi iibu sekaligus wanita karir yang sukses 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge